Da'wah ini tidak mengenal sikap ganda ia hanya mengenal satu sikap TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu maka ia harus hidup bersama da'wah dan da'wah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barang siapa yang lemah dalam memikul beban ini ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tinggal bersama orang-orang duduk. Lalu Allah SWT akan menggantikan mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan sanggup memikul beban dakwah ini

Senin, 28 Februari 2011

0 komentar

Sudahkah Kita Tarbiyah ?

Tarbiyah mungkin saja telah akrab dengan kehidupan anda. Tetapi apakah sesungguhnya kita telah tarbiyah?

Mungkin pula ia telah menjadi bagian terpenting dalam hidup anda. Atau mungkin ia telah memakan waktu harian anda. Mungkin anda bekerja di lingkungan tarbiyah. Mungkin anda berbisnis di lingkungan tarbiyah. Berolahragapun di lingkungan tarbiyah. Mungkin anda berkeluarga di keluarga tarbiyah.

Mungkin anda mengajar di halaqoh tarbiyah. Mungkin anda memimpin di lembaga-lembaga tarbiyah. Mungkin saja kita menjadi kaya dengan pengaruh tarbiyah. Mungkin saja kita berpengaruh karena kesempatan yang diberikan tarbiyah. Bisa saja kita memimpin dengan rekayasa tarbiyah. Atau kita menjadi tokoh dengan toleransi tarbiyah. Tetapi apakah sesungguhnya kita telah tarbiyah?

‘Sudahkah saya tarbiyah?. Sebuah pertanyaan yang tidak saja penting untuk dijawab, melainkan juga – bahkan – menentukan sebagian masa depan saya. Masa depan tarbiyah saya dan masa depan saya secara umum.

Sekian tahun menikmati tarbiyah sampai saatnya sampai pada satu titik. Satu titik yang mempertanyakan apakah sesungguhnya saya sudah tarbiyah. Saya menggunakan kata ‘sesungguhnya’ karena saya kira saya memang harus menggunakannya. Apakah saya sudah tarbiyah bukan karena saya telah memiliki murabbi. Bukan pula karena saya telah memiliki halaqoh. Bukan juga karena saya telah menjadwal liqo pekanan. Dan bukan karena aspek ‘formal’ lainnya. Namun lebih kepada apakah saya telah berubah? Apakah saya telah memiliki kemampuan mengubah? Sejauh apakah saya telah merasakan sakitnya perubahan? Sejauh apa kerelaan saya untuk berubah? Atau saya tetaplah saya yang dulu? Tak berubah karena tarbiyah dan tak mengubah dengan tarbiyah. Benarkah tarbiyah saya? Dan benarkah saya sudah tarbiyah?

Mempertanyakan apakah saya telah tarbiyah adalah sesuatu yang tak terhindarkan pada saat materi tarbiyah relatif telah kumpul, ketika pengalaman telah cukup mewarnai cara pandang, ketika murabbi telah beberapa kali berganti, dan ketika halaqoh telah bervariasi. Dan yang terpenting adalah ketika saya mencoba menatap masa depan. Benarkah saya telah tarbiyah?

Pernah ada satu ‘materi’ dalam diskusi kecil-kecilan antara seorang pelatih dengan salah satu pemain senior sebuah kesebelasan sepakbola. Diskusi kecil itu mencoba membuat analisis sebab-sebab seorang pemain sepak bola tidak mampu menjalankan instruksi pelatih. Menurut salah seorang pemain yg sudah senior – yang diiyakan oleh pelatih - ada tiga sebab mengapa seorang pemain tidak mampu menerjemahkan instruksi pelatih di lapangan. Sebab pertama, seorang pemain tidak faham dengan apa yang dimaui pelatih. Ketidaktahuan seorang pemain membuatnya banyak membuat kesalahan. Sebab kedua adalah seorang pemain sudah mengalami kelelahan. Sehingga meski ia tahu apa yang harus dikerjakannya, ia tetap tidak mampu menunaikan tugas dan perannya dengan baik. Sebab ketiga adalah seorang pemain malas atau menentang instruksi pelatih dengan berbagai alasan. Misalnya karena perbedaan persepsi, perbedaan pendapat atau perbedaan tujuan. Ketidakmampuan jenis ini dilakukan oleh pemain dengan kesadaran penuh untuk membangkang instruksi pelatih. Disebabkan oleh satu, dua atau ketiga hal di atas seorang pemain potensial melakukan kesalahan di lapangan.

Dalam kompetisi sepakbola, pemain yang bersinar hanyalah mereka yang cerdas, kuat dan bertanggungjawab. Dunia da’wah kita juga merupakan dunia kompetisi. Hanya mereka yang terberdayakan yang akan senantiasa siap memikul beban da’wah. Beban da’wah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimananya da’wah. Tim da’wah ini membutuhkan anggota tim yang cerdas, qowwi, matin dan bertanggungjawab. Karakter tersebut hanya didapatkan dengan cara tarbiyah.

Tarbiyah yang kita jalani memiliki kesempatan untuk memperbaiki, mengembangkan, dan mengokohkan kita. Artinya kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi, Sudahkah Kita Tarbiyah?
http://www.facebook.com/note.php?note_id=202500053133
1 komentar

TARBIYAH bukan HANYA Liqa

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang ikhwah yang tergolong biasa-biasa saja. Ia memang aktif tetapi kapabilitas keilmuannya tidak begitu menonjol. Ia masih sangat canggung dalam menyampaikan ceramah di hadapan khalayak umum, kurang percaya diri jika memberi taujih pada majlis yang dihadiri banyak kader. Ia juga termasuk ikhwah yang pemalu, terlebih jika harus berhadapan dengan target Ziswaf Ramadhan. Maka, ia pun menempati urutan bawah prestasi kader dalam tugas ke-amil-an tersebut.

Lalu bagaimana ia (baca: beliau) kini? Subhaanallah. Kini beliau menjadi salah seorang mas’ul dakwah di tingkat daerah. Ceramahnya tidak sekedar terkesan sangat percaya diri, namun juga memiliki daya magnetis bagi pendengarnya. Banyak kajian yang kini dikelolanya, baik di instansi perusahaan, kampung, dan sering juga di kampus. Taujih-taujihnya di depan ikhwah juga dinanti, oleh sebagian ikhwah beliau juga ditempatkan sebagai pemateri tatsqif terfavorit. Bagaimana dengan target Ziswaf Ramadhan? Jangan ditanya, sebab beliaulah yang pada tahun lalu menjadi ikhwah terbaik pada tugas dakwah itu.
demikianlah seharusnya kader dakwah dalam tarbiyah. Semakin hari semakin lebih baik. Bertambahnya usia tarbiyah seseorang, sudah selayaknya berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya.

Perkembangan Kualitas Ibadah.

Tentu kita telah hafal dengan hadits “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung, siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi. Dan siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka ia celaka”

Nah, jika seorang ikhwah sejak pertama masuk tarbiyah beberapa tahun lalu kualitasnya ibadahnya tetap saja ala kadarnya: qiyamullail seminggu sekali; shalat jamaah hanya Maghrib; tilawah masih satu juz sepekan (???) puasa sunnah tidak pernah, lalu bagaimana ia bisa lepas dari kerugian dan kecelakaan yang digambarkan Rasulullah? Bagaimana pula kita bisa memperoleh kemenangan sementara hubungan kita dengan Sang Pemberi kemenangan demikian jauh?

Termasuk poin penting yang perlu diperhatikan banyak ikhwah adalah kualitas tilawah kita! Bagi kita yang telah ditarbiyah bertahun-tahun tapi tilawahnya (afwan) masih “gratul-gratul”, tidak lancar, dan banyak melanggar kaidah tajwid, hendaknya menyadari bahwa kita belum berhasil bertumbuh dan berkembang dalam tarbiyah. Bukankah masyarakat yang kita dakwahi adalah masyarakat yang sangat sensitif terhadap kualitas tilawah? Maka tidak heran jika seorang ikhwah “ditolak” oleh komunitas tertentu dengan komentar yang sangat tidak mengenakkan institusi tarbiyah “Lha wong bacaan Qur’annya amburadul seperti itu kok mau ngajari ngaji kita”

Perkembangan Tsaqofah Islamiyah

Beberapa hari yang lalu ana ngisi kajian di sebuah wajihah. Ketika ana ajukan pertanyaan mengenai perjanjian hudaibiyah ternyata tidak seorang pun mampu menjawabnya. Padahal, wahijah itu merupakan wajihah yang ‘selayaknya’ paling kredibel dalam keilmuan. Ana kemudian bertanya, lalu bagaimana dengan kualitas mereka yang ada di pedesaan?

Sementara itu seringkali kita dihadapkan pada dialog antar harokah (hiwar haroki) yang menuntut kita untuk menjawab segala pertanyaan dengan pendekatan ilmiah. Bahkan kadang kita juga akan menghadapi tipe obyek dakwah yang kritis dan membutuhkan jawaban kita terhadap apa yang menjadi problematika mereka. Umumnya pertanyaan mereka masuk dalam domain fiqh, adakalanya juga pendekatan ideologi. Maka, kader yang telah bertumbuh dalam tarbiyah tidak akan kesulitan ketika ditanya mengapa kita ikut dalam demokrasi: di mana akar kebenaran demokrasi dalam perspektif Islam?
Perkembangan Kapasitas Kepemimpinan dan Politik

Memangnya kita anggota Dewan atau eksekutif? Kadang pertanyaan itu muncul ketika kita menyinggung dua hal penting ini; kepemimpinan dan Politik. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya”. Dalam kesempatan lain beliau juga memberikan batasan komunitas muslim “Man lam yahtamma biamril muslimiin laisa minhum” (barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka). Menegaskan hal ini Hasan Al-Banna mengatakan “Seorang belum menjadi mukmin yang sempurna sebelum menjadi politisi”

Kita adalah pemimpin dan kita harus menguasai politik; sesuai kapasitas kita masing-masing. Lebih-lebih bagi mereka yang memang diamanahi di struktur dalam dakwah ini. Masyarakat akan melihat bagaimana kemampuan kita memimpin masyarakat. Masyarakat juga kerap bertanya bagaimana sikap politik kita maupun solusi yang kita tawarkan terhadap problematika dan kasus tertentu.
Mayoritas masyarakat telah mengakui bahwa kita baik; bahwa jamaah ini adalah kumpulan banyak kader yang sholih. Masyarakat juga melihat bahwa kita memang punya kepedulian sangat tinggi pada mereka, terutama jika terjadi musibah atau bencana. Namun semua itu belum cukup untuk membuat mereka menjatuhkan pilihannya pada kita. Kebaikan dan bakti sosial yang kita lakukan baru membentuk citra kebaikan dan itu membuat masyarakat mengidentikkan jamaah kita seperti LSM atau yayasan. Masyarakat masih menunggu bukti-bukti kemampuan kepemimpinan ikhwah dan kepiawaian kita dalam berpolitik. Alhamdulillah, itu sudah mulai berjalan khususnya bagi para ikhwah yang ada di eksekutif. Dan, semoga kita termasuk yang mendukung pencitraan “profesional” itu.
Apa Kuncinya?

Sebenarnya jamaah ini telah menyediakan sarana dan fasilitas bagi kita untuk bertumbuh dan berkembang. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya. Apa itu? Itulah “wasailut tarbiyah” perangkat-perangkat tarbiyah. Bukan hanya halaqah, di sana juga ada daurah/training, tatsqif, mabit, mukhoyam, dll. Terkadang, banyak ikhwah yang kurang responsif terhadap wasailut tarbiyah itu. Salah satunya indikasinya adalah minimnya kehadiran di tastqif, mabit, dan daurah.

so, ternyata tarbiyah bisa membuat hidup kita lebih bermakna, tapi ternyata proses tarbiyah itu bukan hanya sekedar hadir LIQA. Meski kehadiran di LIQA merupakan salah satu indikasi proses tarbiyah yg baik.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=212664723133

Rabu, 19 Januari 2011

0 komentar

Bencana Bagi Dakwah

Ketika da’wah harus mampu menjangkau dan menggerakkan seluruh unsur masyarakat, maka pembesaran jumlah aktifis/kader sebagai anashir da’wah menjadi mutlak diperlukan. Dan ketika misi da’wah juga harus mampu menghasilkan perubahan-perubahan besar di berbagai aspek kehidupan, maka peningkatan kualitas kader menjadi suatu keniscayaan.

Perpaduan antara aspek kuantitas dan kualitas inilah yang digambarkan Allah SWT dalam ayat :”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa (rabbaniyyin), mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar (3/146).

Kualitas kader dalam kehidupan da’wah harus senantiasa mengikuti kebutuhan marhaliyah (tahapan) dan mihwar (era) da’wah. Semakin meningkat marhalah dan semakin meluas mihwar da’wah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi da’wah. Apa saja bentuk bencana itu ?

Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqomah didalam mengikuti irama perjalanan da’wah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas da’wah. Hendaknya kita selalu mengingat satu ayat yang membuat rambut Rasul SAW beruban :”Maka istiqomahlah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (11/112).

Kesabaran untuk menggapai janji-janji Allah adalah kunci rahasianya. ”Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (18/128)

Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan kehidupan da’wah sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan da’wah ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung menjadi orang yang ingin ”hidup dari da’wah” dan bukan ”menghidupkan da’wah”. Perhatikan firman Allah :”Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diraih dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka bersumpah dengan (nama) Allah ’Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu’. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka sesungguhnya benar-benar orang-orang yang berdusta (9/42)

Ketiga, munculnya ketidakmampuan didalam menjalankan misi da’wah di tengah-tengah masyarakat. Ini karena ISITI'AB (daya dukung dan daya topang) yang dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan da’wah yang semakin terbuka. Allah SWT mengarahkan Rasulullah SAW untuk menyiapkan diri sedemikian rupa agar mampu mengemban misi da’wah yang besar & berat. (74/1-7). Dalam hal ini ada tuntutan bagi para kader da’wah untuk senantiasa membekali dirinya dengan bekal-bekal utama da’i khususnya bekal ruhiyah ma’nawiyah dan amaliyah ta’abudiyah.

Keempat, akibat dari ketiga hal diatas, da’wah menjadi disibukkan oleh problematika internal yang menguras energi da’wah, sehingga tidak mampu menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama da’wah adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata. ”...Dan aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali (11/88)

Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara harapan besar masyarakat dengan apa yg bisa diberikan oleh da’wah. Lalu terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi juga akan diramaikan oleh sejumlah kasus-kasus negatif yang dilakukan kader yang muncul ke permukaan.

Akhirnya, pada kondisi inilah, akan muncul pikiran di sebagian kader yang lemah untuk menarik kembali da’wah ke belakang. Mereka merasa lebih nyaman ketika da’wah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka. Cukuplah pelajaran dari kisah perang Uhud berikut ini : ”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Dan mereka berkata :”janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas yang terik ini”. Katakanlah :”api neraka jahannam itu lebih sangat panas”, jikalau mereka mengetahui (9/81).

Inilah bencana yang bisa terjadi pada da’wah manakala aspek kualitas diabaikan.


Wallaahu a’lam…

Senin, 25 Oktober 2010

0 komentar

Masuk Islamnya Ikrimah Putra Abu Jahal

Siapa yang tidak kenal Ikrimah? Putra Abu Jahal ini demikian keras memusuhi Rasulullah saw. Bahkan, aktif mengangkat senjata bersama pasukan kaum musyrikin Makkah menyerang kaum Muslimin Madinah. Namun keadaan berbalik saat Rasulullah saw. bersama pasukan Muslimin mengepung Makkah. Ikrimah sadar betul, jika Makkah jatuh dalam penguasaan Rasulullah saw., keselamatannya terancam. Pasti ia akan dieksekusi atas semua kejahatannya terhadap kaum Muslimin.

Maka, ketika Rasulullah saw. berhasil menaklukkan kota Makkah, Ikrimah berkata, “Aku tidak akan tinggal di tempat ini!” Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata, “Hendak kemana kamu, wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”

Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya.

Ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka isteri Ikrimah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman kerana ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”

Rasulullah saw. menjawab, “Dia akan berada dalam keadaan aman!” Mendengar jawaban itu, isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya, “Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”

Ikrimah bertanya, “Apakah yang harus aku ikhlaskan?”

“Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad adalah utusan Allah!” kata pengemudi kapal itu.

Ikrimah menjawab, “Tidak, justru aku melarikan diri adalah karena ucapan itu.”

Selepas itu datanglah isterinya. “Wahai Ikrimah, putera bapak saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”

Ikrimah bertanya kepada isterinya, “Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?”

Isterinya menjawab, “Benar, aku telah berbicara dengan beliau dan beliau pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu.”

Begitu mendengar berita itu, di malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan hubungan suami-isteri dengan isterinya. Tetapi isterinya menolak. Istrinya berkatam “Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”

Ikrimah berkata, “Penolakan kamu itu adalah masalah besar bagi diriku.”

Tak lama kemudian mereka tiba di Makkah. Mendengar berita bahwa Ikrimah sudah pulang, Rasulullah saw. menemuinya. Saking gembiranya Rasulullah saw. sampai lupa memakai serbannya.

Setelah bertemu dengan Ikrimah, Rasulullah saw. duduk. Ketika itu Ikrimah ditemani isterinya. Ikrimah berikrar, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Mendengar ikrar Ikrimah itu, Rasulullah saw. sangat gembira. “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan,” kata Ikrimah lagi.

Rasulullah saw. menjawab, “Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah kembali bertanya, “Selepas itu apa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya.”

Ikrimah berkata, “Aku memohon kepadamu, ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu, dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”

Maka Rasulullah saw. pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu, dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku maupun tidak.”

Mendengar doa Rasulullah saw. itu, alangkah senangnya hati Ikrimah. Ketika itu juga ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersumpah, demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”

Begitulah tekad Ikrimah setelah memeluk Islam. Dan itu ia buktikan dengan selalu ikut dalam setiap peperangan. Salah satunya Perang Yarmuk. Di perang ini Ikrimah ikut sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Khalid bin Walid berkata, “Jangan kamu lakukan hal itu. Karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”

Ikrimah menjawab, “Wahai Khalid, engkau telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah saw., maka biarlah hal ini aku lakukan!”

Ikrimah tetap pada pendiriannya. Ia bertempur dengan gigih hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Di tubuhnya terdapat sekitar tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak, dan anak panah.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, masing-masing mereka berkata, ‘Berikan air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.”

Dalam riwayat lain ditambahkan, sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut. Akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula. Ikrimah berkata, “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata, “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja. Barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka. Sehingga tidak seorangpun di antara mereka yang meminum air tersebut. Ketiganya mati syahid.

Begitulah Ikramah mendapatkan kesyahidannya. Sungguh berbeda sekali dengan ayahnya, Abu Jahal, yang mati dalam kekafiran.

Minggu, 24 Oktober 2010

0 komentar

L U P A

Di surga yang tanpa lapar dan tanpa ketelanjangan, pada mulanya Adam hidup damai dan tenteram. Ditemani istrinya, yang diciptakan untuk mengusir sepi dan membuat hidupnya tidak sendiri. Adam benar-benar dalam puncak kebahagiaan, “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thoha: 118-119).

Tetapi sesudah itu, Adam, bapak kita dan pemula seluruh umat manusia megawali sejarah penting kehadirannya di bumi dengan lupa. Allah berfirman, ”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thoha: 115). Jadi lupa adalah salah satu identitas terpenting kemanusiaan kita. Kita manusia maka kita lupa. Kita lupa maka kita manusia.

Adam lupa karena ia diciptakan sebagai manusia. Ini adalah lupa prosedural. Maksudnya, lupa itulah jalan yang harus ia lalui sebelum menjalankan tugas di muka bumi. Maka, dalam hadits shahih riwayat Bukhari, ketika suatu saat Musa menyalahkan Adam dalam sebuah dialog, Adam menegaskan posisinya sebagai bagian dari skenario besar Allah. Dan Musa pun tidak berkutik dengan jawaban itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: “Wahai Adam, engkau adalah nenek moyang kami, engkau telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: “Engkau Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?” Rasulullah bersabda: “Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa.”

Sesudah itu manusia-manusia pilihan yang diangkat Allah menjadi Rasul juga pernah lupa. Musa lupa dengan komitmen untuk tidak bertanya kepada Khidir. “Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al Kahfi: 73).

Rasulullah SAW, suatu saat pernah lupa shalat dhuhur lima rakaat. Itu lupa yang kemudian melahirkan syariat ibadah. Yaitu bagaimana tatacara ibadah bila ada yang lupa. Dalam fikih kita kemudian mengenal yang disebut dengan sujud sahwi, artinya sujud karena ada yang lupa kita lakukan, karena kelebihan atau kurang dalam shalat.

Lupa Konstruktif dan Dekstruktif

Lupa memiliki dua dimensi, lupa konstruktif dan lupa dekstruktif. Lupa konstruktif adalah anugerah. Bahkan menjadi salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada kita. Dengan lupa kita tidak selamanya teringat keburukan yang telah dilakukan orang lain kepada kita. Kita lupa agar kita memberi maaf, saling berbagi dan merelakan. Lupa adalah anugerah yang membuat kita bisa menjauhkan amarah yang bisa bersemayam abadi. Lupa adalah anugerah yang membuat kita bisa lari dari syaitan yang terus mengobarkan dengki. Lupa adalah anugerah, yang membuat kita bisa memulai banyak hal baru bersama orang lain, dengan suasana baru yang lebih segar.

Lupa adalah anugerah, yang membuat kita tidak terlampau mengingat-ingat kebaikan yang telah kita perbuat. Yang bisa membuat kita riya’, sombong dan berbangga berlebihan. Sesuatu yang menghalangi seseorang dari surga. Lupa adalah anugerah, yang membuat kita tidak terbelenggu oleh ingatan akan kelelahan dan kepayahan hidup.

Alangkah sengsaranya orang yang tidak bisa lupa. Seperti mereka yang terkena penyakit hyperthymestic syndrome. Yaitu suatu penyakit di mana orang bisa mengingat secara detail seluruh peristiwa yang pernah dialaminya. Bila disebut suatu tanggal dari bulan tertentu, maka ia akan menjelaskan semua yang pernah ia alami atau lakukan. Di dunia ini konon ada tiga orang. Yaitu Brad Williams, seorang perempuan berinisial A.J, keduanya di California, dan satu orang lagi laki-laki di Ohio. A.J merasa sangat tertekan dengan kondisinya karena ia ingin melupakan hal-hal yang remeh dan tidak penting yang pernah ia saksikan. Dr. James, yang menangani terapinya, pernah menanyakan apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1987, dan A.J menjawab dengan baik, termasuk menjawab apa yang sedang terjadi di dunia seperti yang ramai diberitakan oleh media pada hari itu.

Lupa destruktif adalah lupa yang melahirkan kerusakan. Dan itu harus dijauhi. Lupa destruktif biasanya adalah akumulasi dari mental dan perilaku menyimpang. Seperti perasaan malas beribadah, angkuh kepada Allah, menyukai kefasikan, akhirnya perlahan-lahan semua itu melahirkan kelupaan kepada kewajiban. Puncak dari semua kefasikan yang melupakan adalah lupa akan hari akhir, lupa akan hari perhitungan, dan itulah seburuk-buruk lupa.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185061778133
0 komentar

Bergeraklah, tapi Bukan asal Gerak

Ada rambu penting yang harus diperhatikan dalam bergerak dan beraktivitas. Karena tidak sedikit sebuah aktivitas yang sudah diawali dengan niat yang baik, akan rusak di tengah jalan. Banyak pilihan langkah yang dimulai dengan keinginan dan maksud yang mulia, namun nilai-nilai itu tercemar saat rencana tengah digulirkan. Mungkin kita pernah mendengar, sebuah kegiatan yang baik semisal peringatan hari besar nasional dan agama yang dilakukan untuk tujuan yang baik, tapi dinodai oleh aktivitas yang tidak baik. Sebuah gerak perintisan jaringan bisnis untuk memperkuat ekonomi umat, tapi terjerat oleh gurita permainan dunia yang justru melalaikan keakhiratan. Atau malah terjerat oleh lemahnya mental kita menghadapi uang. Sebuah langkah melibatkan diri dalam kancah politik untuk memberi sumbangsih positif bagi perbaikan masyarakat, tapi kemudian terbawa oleh arus permainan kotor di dunia politik, atau makin menipisnya sikap kritis. Dan sebagainya.

Ini adalah warning, agar setiap orang tidak gegabah dalam melakukan sebuah gerak. Tapi tidak benar juga bila tidak mau bergerak sekadar karena takut mengalami penyimpangan dan kekeliruan saat melakukannya. Dalam bingkai psikologi, rasa takut dan khawatir akan kekeliruan dalam melakukan sebuah aktivitas sebenarnya bisa menjadi energi positif untuk lebih berhati-hati dan waspada. Justeru tanpa rasa takut dan khawatir seseorang bisa sembrono dalam berkerja. Hanya saja, perasaan takut dan khawatir salah seperti itu akan berubah menjadi masalah jika dilakukan berlebihan. Hingga menjadikan seseorang tak mau bergerak, mengurung dan membatasi diri, tak berani melangkah, tidak percaya diri, negative thinking, sulit mengembangkan diri bahkan pesimis dalam hidup karena takut risikonya. Di sinilah bahayanya.

Hidup adalah pilihan. Sedang pilihan adalah gerak itu sendiri yang pasti memiliki risiko atau kemungkinan salah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa manusia adalah tempatnya dosa dan kealpaan. Bukan berarti semua orang boleh bergelimang salah dan gagal, tapi dalam hadits itu terkandung pesan agar kita bisa meminimalisir kesalahan dan kegagalan.

Caranya, sebelum bergerak dan menentukan suatu langkah, kita mengidentifikasi berbagai risiko yang kemungkinan terjadi, Islam mengajarkan tawakkal setelah ikhtiar. Ikhtiar adalah upaya maksimal yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam ikhtiar ada unsur pendalaman ide, penelitian dan analisa, pertimbangan yang matang, kerja keras, melakukan pengelolaan yang baik, meminimalisir kesalahan, menumbuhkan gerak yang sehat dengan dukungan mentalitas dan ruhani yang baik. Setelah itu, tawakkal dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dalam tawakkal, kesiapan seseorang menerima berbagai keadaan setelah beruaha sebaik mungkin, ada dalam kata ridha. Ridha kepada apapun yang ditentukan Allah SWT. “Ikat untamu, kemudian tawakal,” begitu pesan Rasulullah saw yang menggambarkan keharusan ikhtiar sebelum tawakkal.

Setelah bergerak, seandainya melakukan kesalahan, jangan menyesalinya berlarut-larut hingga membuat diri tidak berdaya untuk berbuat yang lebih baik. Bukan menganggap ringan kesalahan, tapi kita harus berusaha agar sebuah risiko negatif bisa menjadi awal keadaan yang lebih baik. Kesalahan dan kekeliruan akan menjadi pengalaman baru, persepsi baru, pengetahuan baru, untuk digunakan di masa selanjutnya. Tapi tetap ingat, jangan asal bergerak.
Wallahu a'lam.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185917473133

Sabtu, 03 Juli 2010

1 komentar

Anas bin Malik

” اللهم ارزقه مالاً وولداً ، وبارك له

Anas bin Malik
Ya Allah berilah dia harta dan anak dan berkahilah. (Doa Rosul)

Anas bin Malik sejak usia belianya telah mendapat talqin dua syahadat dari ibunya Al ghumaisho’, sejak itu tumbuhlah kecintaan hatinya yang bersih kepada Rasul SAW, bersemangat untuk mendengar langsung darinya, tidak heran kalau kadang telinga lebih awal merindukan dari pada penglihatan. Sudah lama anak kecil ini mendambakan bertemu langsung dengan Rasul di Mekah atau di Yatsrib sehingga ia dapat bahagia dengan pertemuannya.

Tidak berselang waktu yang lama, Yatsrib dibahagiakan oleh kedatangan Rasulullah dan sahabatnya As Siddiq yang sudah lama di damba-dambakan. Maka tidak satu pun keluarga dan hati penduduk Madinah yang tidak berbahagia. Saat itu semua pemuda menyebarkan berita setiap pagi bahwa Rasulullah SAW akan tiba di Yatsrib. Anas bin Malik bersama anak-anak yang lain yang berusaha ingin bertemu dengan Rasulullah, namun ketika belum berhasil menemuinya ia sedih.

Pada suatu pagi yang indah yang menyebarkan keharuman, masyarakat berteriak-teriak, bahwa Muhammad dan sahabatnya telah dekat dari kota Madinah, semua orang berusaha menyambut kedatangan Nabi SAW. Begitu juga anak-anak, mereka berlomba-lomba ikut menyambut Rasulullah dengan hati yang diliputi kegembiraan yang meluap-luap dan wajah yang berseri-seri, maka di antara anak-anak itu adalah Anas bin Malik. Sementara para wanita telah berada di atas rumah mereka, menunggu dan berusaha melihat wajah Rasulullah SAW. Hati mereka berkata: “Mana yang orangnya yang disebut Rasul?” Sungguh hari itu adalah hari yang bersejarah. Peristiwa ini terus dikenang oleh Anas sampai usianya hampir seratus tahun.

Belum lama Rasul tinggal di Madinah, datanglah seorang wanita bernama Al Ghumaiso’ binti Milhan menemui Rasulullah SAW bersama putranya Anas bin Malik, ia berkata:

يا رسول الله .. . لم يبق رجُلٌ ولا امرأةٌ من الأنصار إلا وقد أتحفك بتُحفَةٍ ، وإني لا أجدُ ما أُتحِفُكَ به غير ابني هذا . .. فخُذْهُ ، فليخدمك ما شئت . . .

“Wahai Rasul, tidak satu pun seorang laki-laki dan perempuan dari Anshar ini, kecuali telah memberi hadiah kepadamu, dan sesungguhnya Aku tidak memiliki apa yang dapat aku berikan kepadamu kecuali anakku ini…. maka ambillah anak ini agar dia dapat membantumu kapan Anda mau.”

Tergugahlah Rasul untuk menerimanya, beliau mengusap kepalanya dan menyatukannya dengan keluarganya. Saat itu umur Anas sepuluh tahun, saat kebahagiaannya dapat menjadi pembantu Rasul, dan hidup terus bersama Rasulullah sampai Rasul kembali kepada Allah. Adalah masa hidupnya menjadi pembantu Rasul selama sepuluh tahun. Kondisi ini sangat dimanfaatkan oleh Anas untuk menimba langsung hidayah dari Rasul, memahami semua sabdanya, mengetahui sifat-sifatnya dan keutamaannya yang tidak dapat diketahui oleh selainnya.

Anas berkata: “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling baik akhlaqnya, lapang dadanya, dan banyak kasih sayangnya. Suatu saat beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, ketika aku berangkat aku tidak menuju ke tempat yang Rasul inginkan, namun aku pergi ke tempat anak-anak-anak yang sedang bermain di pasar ikut bermain bersama mereka. Ketika aku telah bersama mereka aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku dan menari bajuku, maka aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah dengan senyum beliau menegurku: “Ya Unais (panggilan kesayangan) apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?” Aku gugup menjawabnya: Ya, ya Rasul, sekarang aku akan berangkat. Demi Allah aku telah menjadi pembantunya sepuluh tahun, tidak pernah aku mendengar ia menegurku: “Mengapa kamu lakukan ini dan itu, atau mengapa kamu tidak melakukan ini atau itu?””

Dan adalah Rasulullah SAW jika memanggilnya selalu memanggilnya dengan panggilan rasa sayang dan memanjakan yaitu dengan memanggilnya dengan kata Unais atau ya bunayya. Begitu juga Rasulullah banyak menasihatinya sampai memenuhi hati dan otaknya. Di antara nasihat-nasihatnya adalah:

( يا بُنيَّ إن قدرت أن تُصبح وتُمسي وليس في قلبك غش لأحد فافعل . . .

“Ya bunayya jika engkau mampu setiap pagi dan sore hatimu bersih dari perasaan dengki kepada orang lain maka lakukanlah.”

يا بُنيَّ إنَّ ذلك من سُنتي ، ومن أحيا سُنتي فقد أحَبَّني .

ومن أحَبَّني كان معي في الجنة .

“Ya bunayya sesungguhnya hal itu adalah sunnahku, barang siapa menghidupkan sunnahku maka mencintaiku, barangsiapa mencintaiku akan bersamaku di surga.”

يا بُني إذا دخلت على أهلك فسلم يكن بركَةً عليك وعلى أهل بيتك )

“Ya bunayya jika engkau menemui keluargamu maka berilah salam niscaya akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi keluargamu.”

Anas bin Malik hidup setelah wafatnya Rasulullah SAW sekitar delapan puluh tahun lebih. Dadanya dipenuhi ilmu yang langsung diambil dari Rasulullah. Otaknya tumbuh dengan pemahaman kenabian. Oleh karena itu sepanjang umurnya menjadi rujukan umat Islam, tempat umat bertanya, setiap menghadapi permasalahan sulit dan tidak diketahui hukumnya. Suatu saat terjadi perdebatan tentang keberadaan telaga Nabi nanti di hari kiamat. Maka mereka bertanya kepada Anas tentang masalah ini. Beliau menjawab: “Aku tidak mengira hidup dalam kondisi mendapatkan kalian mendiskusikan tentang telaga. Sungguh aku telah meninggalkan para wanita tua di belakangku, tidaklah di antara mereka shalat kecuali mereka berdoa agar dapat minum dari telaga nabi tersebut.”

Dan seterusnya Anas sepanjang hidupnya selalu mengenang kehidupan Rasulullah. Adalah Anas selalu riang setiap kali bertemu dengan Rasulullah, sangat sedih di saat perpisahan, banyak mengulang-ulang sabdanya, sangat perhatian mengikuti perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya, menyenangi apa yang disenangi dan membenci apa yang dibenci, dan hari yang paling berkesan baginya karena dua peristiwa: Hari yang pertama ia bertemu dengan Rasulullah dan hari saat berpisah dengan Beliau. Apabila terkenang hari yang pertama beliau berbahagia, dan apabila terkenang hari yang kedua terharu yang membuat orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. Beliau sering berkata: “Sungguh saya melihat Nabi SAW pada hari pertama bersama kita, dan hari pada saat wafatnya, maka tidaklah aku melihat dua hari itu ada kemiripan. Maka pada hari saat masuk ke Madinah menyinari segala sesuatu. Dan pada hari hampir wafatnya, jadilah Madinah kota yang gelap. Terakhir aku melihat Rasulullah SAW pada hari senin ketika tabir di kamarnya di buka, maka aku melihat wajahnya seperti kertas mushaf, para sahabat saat itu berdiri di belakang Abu Bakar melihatnya, hampir-hampir mereka bergejolak kalau saja Abu Bakar tidak menenangkan mereka. Pada hari itulah Rasulullah SAW wafat, maka tidaklah kami melihat pemandangan yang sangat mengherankan dari pada melihat wajah Rasulullah SAW harus diuruk dengan tanah.”

Adalah Rasulullah SAW sering mendoakan Anas bin Malik. Di antara doanya: ( اللهم ارزقه مالاً وولداً ، وبارك له ) “Ya Allah berilah rezki kepadanya harta dan anak, dan berkahilah.” Dan sungguh Allah telah mengabulkan doanya, jadilah Anas orang yang kaya di kalangan Anshar, dan paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia panjang umur dan hidup bersama cucu-cucunya lebih dari seratus orang. Dan umurnya mencapai seratus tahun lebih. Dan adalah Anas, sahabat yang sangat mengharapkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat, sering sekali ia mengatakan: “Aku berharap dapat bertemu Rasulullah pada hari kiamat dan mengatakan kepada Rasulullah SAW, ya Rasul inilah saya yang dulu menjadi pembantumu.”

Ketika Anas sakit menjelang kematiannya, dia berkata kepada keluarganya: “Tuntunlah aku untuk membaca laailaaha Illallah.” Begitulah ia mengulang-ulangnya sampai datang ajalnya. Beliau pernah berwasiat agar tongkat kecil milik Rasul dikuburkan bersamanya, maka diletakkanlah di antara lambungnya. Selamat bagi Anas, yang telah dikaruniai oleh Allah dengan berbagai macam kebaikan. Total masa hidup Anas bersama Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Beliau berada di ranking ketiga di dalam meriwayatkan hadits, setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Semoga Allah membalasnya dan ibunya atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.
 

simkuring

Foto saya
orang biasa yang mempunyai mimpi luar biasa

barudak