Da'wah ini tidak mengenal sikap ganda ia hanya mengenal satu sikap TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu maka ia harus hidup bersama da'wah dan da'wah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barang siapa yang lemah dalam memikul beban ini ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tinggal bersama orang-orang duduk. Lalu Allah SWT akan menggantikan mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan sanggup memikul beban dakwah ini

Minggu, 24 Oktober 2010

0 komentar

L U P A

Di surga yang tanpa lapar dan tanpa ketelanjangan, pada mulanya Adam hidup damai dan tenteram. Ditemani istrinya, yang diciptakan untuk mengusir sepi dan membuat hidupnya tidak sendiri. Adam benar-benar dalam puncak kebahagiaan, “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thoha: 118-119).

Tetapi sesudah itu, Adam, bapak kita dan pemula seluruh umat manusia megawali sejarah penting kehadirannya di bumi dengan lupa. Allah berfirman, ”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thoha: 115). Jadi lupa adalah salah satu identitas terpenting kemanusiaan kita. Kita manusia maka kita lupa. Kita lupa maka kita manusia.

Adam lupa karena ia diciptakan sebagai manusia. Ini adalah lupa prosedural. Maksudnya, lupa itulah jalan yang harus ia lalui sebelum menjalankan tugas di muka bumi. Maka, dalam hadits shahih riwayat Bukhari, ketika suatu saat Musa menyalahkan Adam dalam sebuah dialog, Adam menegaskan posisinya sebagai bagian dari skenario besar Allah. Dan Musa pun tidak berkutik dengan jawaban itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: “Wahai Adam, engkau adalah nenek moyang kami, engkau telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: “Engkau Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?” Rasulullah bersabda: “Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa.”

Sesudah itu manusia-manusia pilihan yang diangkat Allah menjadi Rasul juga pernah lupa. Musa lupa dengan komitmen untuk tidak bertanya kepada Khidir. “Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al Kahfi: 73).

Rasulullah SAW, suatu saat pernah lupa shalat dhuhur lima rakaat. Itu lupa yang kemudian melahirkan syariat ibadah. Yaitu bagaimana tatacara ibadah bila ada yang lupa. Dalam fikih kita kemudian mengenal yang disebut dengan sujud sahwi, artinya sujud karena ada yang lupa kita lakukan, karena kelebihan atau kurang dalam shalat.

Lupa Konstruktif dan Dekstruktif

Lupa memiliki dua dimensi, lupa konstruktif dan lupa dekstruktif. Lupa konstruktif adalah anugerah. Bahkan menjadi salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada kita. Dengan lupa kita tidak selamanya teringat keburukan yang telah dilakukan orang lain kepada kita. Kita lupa agar kita memberi maaf, saling berbagi dan merelakan. Lupa adalah anugerah yang membuat kita bisa menjauhkan amarah yang bisa bersemayam abadi. Lupa adalah anugerah yang membuat kita bisa lari dari syaitan yang terus mengobarkan dengki. Lupa adalah anugerah, yang membuat kita bisa memulai banyak hal baru bersama orang lain, dengan suasana baru yang lebih segar.

Lupa adalah anugerah, yang membuat kita tidak terlampau mengingat-ingat kebaikan yang telah kita perbuat. Yang bisa membuat kita riya’, sombong dan berbangga berlebihan. Sesuatu yang menghalangi seseorang dari surga. Lupa adalah anugerah, yang membuat kita tidak terbelenggu oleh ingatan akan kelelahan dan kepayahan hidup.

Alangkah sengsaranya orang yang tidak bisa lupa. Seperti mereka yang terkena penyakit hyperthymestic syndrome. Yaitu suatu penyakit di mana orang bisa mengingat secara detail seluruh peristiwa yang pernah dialaminya. Bila disebut suatu tanggal dari bulan tertentu, maka ia akan menjelaskan semua yang pernah ia alami atau lakukan. Di dunia ini konon ada tiga orang. Yaitu Brad Williams, seorang perempuan berinisial A.J, keduanya di California, dan satu orang lagi laki-laki di Ohio. A.J merasa sangat tertekan dengan kondisinya karena ia ingin melupakan hal-hal yang remeh dan tidak penting yang pernah ia saksikan. Dr. James, yang menangani terapinya, pernah menanyakan apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1987, dan A.J menjawab dengan baik, termasuk menjawab apa yang sedang terjadi di dunia seperti yang ramai diberitakan oleh media pada hari itu.

Lupa destruktif adalah lupa yang melahirkan kerusakan. Dan itu harus dijauhi. Lupa destruktif biasanya adalah akumulasi dari mental dan perilaku menyimpang. Seperti perasaan malas beribadah, angkuh kepada Allah, menyukai kefasikan, akhirnya perlahan-lahan semua itu melahirkan kelupaan kepada kewajiban. Puncak dari semua kefasikan yang melupakan adalah lupa akan hari akhir, lupa akan hari perhitungan, dan itulah seburuk-buruk lupa.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185061778133
0 komentar

Bergeraklah, tapi Bukan asal Gerak

Ada rambu penting yang harus diperhatikan dalam bergerak dan beraktivitas. Karena tidak sedikit sebuah aktivitas yang sudah diawali dengan niat yang baik, akan rusak di tengah jalan. Banyak pilihan langkah yang dimulai dengan keinginan dan maksud yang mulia, namun nilai-nilai itu tercemar saat rencana tengah digulirkan. Mungkin kita pernah mendengar, sebuah kegiatan yang baik semisal peringatan hari besar nasional dan agama yang dilakukan untuk tujuan yang baik, tapi dinodai oleh aktivitas yang tidak baik. Sebuah gerak perintisan jaringan bisnis untuk memperkuat ekonomi umat, tapi terjerat oleh gurita permainan dunia yang justru melalaikan keakhiratan. Atau malah terjerat oleh lemahnya mental kita menghadapi uang. Sebuah langkah melibatkan diri dalam kancah politik untuk memberi sumbangsih positif bagi perbaikan masyarakat, tapi kemudian terbawa oleh arus permainan kotor di dunia politik, atau makin menipisnya sikap kritis. Dan sebagainya.

Ini adalah warning, agar setiap orang tidak gegabah dalam melakukan sebuah gerak. Tapi tidak benar juga bila tidak mau bergerak sekadar karena takut mengalami penyimpangan dan kekeliruan saat melakukannya. Dalam bingkai psikologi, rasa takut dan khawatir akan kekeliruan dalam melakukan sebuah aktivitas sebenarnya bisa menjadi energi positif untuk lebih berhati-hati dan waspada. Justeru tanpa rasa takut dan khawatir seseorang bisa sembrono dalam berkerja. Hanya saja, perasaan takut dan khawatir salah seperti itu akan berubah menjadi masalah jika dilakukan berlebihan. Hingga menjadikan seseorang tak mau bergerak, mengurung dan membatasi diri, tak berani melangkah, tidak percaya diri, negative thinking, sulit mengembangkan diri bahkan pesimis dalam hidup karena takut risikonya. Di sinilah bahayanya.

Hidup adalah pilihan. Sedang pilihan adalah gerak itu sendiri yang pasti memiliki risiko atau kemungkinan salah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa manusia adalah tempatnya dosa dan kealpaan. Bukan berarti semua orang boleh bergelimang salah dan gagal, tapi dalam hadits itu terkandung pesan agar kita bisa meminimalisir kesalahan dan kegagalan.

Caranya, sebelum bergerak dan menentukan suatu langkah, kita mengidentifikasi berbagai risiko yang kemungkinan terjadi, Islam mengajarkan tawakkal setelah ikhtiar. Ikhtiar adalah upaya maksimal yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam ikhtiar ada unsur pendalaman ide, penelitian dan analisa, pertimbangan yang matang, kerja keras, melakukan pengelolaan yang baik, meminimalisir kesalahan, menumbuhkan gerak yang sehat dengan dukungan mentalitas dan ruhani yang baik. Setelah itu, tawakkal dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dalam tawakkal, kesiapan seseorang menerima berbagai keadaan setelah beruaha sebaik mungkin, ada dalam kata ridha. Ridha kepada apapun yang ditentukan Allah SWT. “Ikat untamu, kemudian tawakal,” begitu pesan Rasulullah saw yang menggambarkan keharusan ikhtiar sebelum tawakkal.

Setelah bergerak, seandainya melakukan kesalahan, jangan menyesalinya berlarut-larut hingga membuat diri tidak berdaya untuk berbuat yang lebih baik. Bukan menganggap ringan kesalahan, tapi kita harus berusaha agar sebuah risiko negatif bisa menjadi awal keadaan yang lebih baik. Kesalahan dan kekeliruan akan menjadi pengalaman baru, persepsi baru, pengetahuan baru, untuk digunakan di masa selanjutnya. Tapi tetap ingat, jangan asal bergerak.
Wallahu a'lam.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185917473133
 

simkuring

Foto saya
orang biasa yang mempunyai mimpi luar biasa

barudak