Da'wah ini tidak mengenal sikap ganda ia hanya mengenal satu sikap TOTALITAS. Siapa yang bersedia untuk itu maka ia harus hidup bersama da'wah dan da'wah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barang siapa yang lemah dalam memikul beban ini ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tinggal bersama orang-orang duduk. Lalu Allah SWT akan menggantikan mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan sanggup memikul beban dakwah ini

Minggu, 24 Oktober 2010

Bergeraklah, tapi Bukan asal Gerak

Ada rambu penting yang harus diperhatikan dalam bergerak dan beraktivitas. Karena tidak sedikit sebuah aktivitas yang sudah diawali dengan niat yang baik, akan rusak di tengah jalan. Banyak pilihan langkah yang dimulai dengan keinginan dan maksud yang mulia, namun nilai-nilai itu tercemar saat rencana tengah digulirkan. Mungkin kita pernah mendengar, sebuah kegiatan yang baik semisal peringatan hari besar nasional dan agama yang dilakukan untuk tujuan yang baik, tapi dinodai oleh aktivitas yang tidak baik. Sebuah gerak perintisan jaringan bisnis untuk memperkuat ekonomi umat, tapi terjerat oleh gurita permainan dunia yang justru melalaikan keakhiratan. Atau malah terjerat oleh lemahnya mental kita menghadapi uang. Sebuah langkah melibatkan diri dalam kancah politik untuk memberi sumbangsih positif bagi perbaikan masyarakat, tapi kemudian terbawa oleh arus permainan kotor di dunia politik, atau makin menipisnya sikap kritis. Dan sebagainya.

Ini adalah warning, agar setiap orang tidak gegabah dalam melakukan sebuah gerak. Tapi tidak benar juga bila tidak mau bergerak sekadar karena takut mengalami penyimpangan dan kekeliruan saat melakukannya. Dalam bingkai psikologi, rasa takut dan khawatir akan kekeliruan dalam melakukan sebuah aktivitas sebenarnya bisa menjadi energi positif untuk lebih berhati-hati dan waspada. Justeru tanpa rasa takut dan khawatir seseorang bisa sembrono dalam berkerja. Hanya saja, perasaan takut dan khawatir salah seperti itu akan berubah menjadi masalah jika dilakukan berlebihan. Hingga menjadikan seseorang tak mau bergerak, mengurung dan membatasi diri, tak berani melangkah, tidak percaya diri, negative thinking, sulit mengembangkan diri bahkan pesimis dalam hidup karena takut risikonya. Di sinilah bahayanya.

Hidup adalah pilihan. Sedang pilihan adalah gerak itu sendiri yang pasti memiliki risiko atau kemungkinan salah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa manusia adalah tempatnya dosa dan kealpaan. Bukan berarti semua orang boleh bergelimang salah dan gagal, tapi dalam hadits itu terkandung pesan agar kita bisa meminimalisir kesalahan dan kegagalan.

Caranya, sebelum bergerak dan menentukan suatu langkah, kita mengidentifikasi berbagai risiko yang kemungkinan terjadi, Islam mengajarkan tawakkal setelah ikhtiar. Ikhtiar adalah upaya maksimal yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam ikhtiar ada unsur pendalaman ide, penelitian dan analisa, pertimbangan yang matang, kerja keras, melakukan pengelolaan yang baik, meminimalisir kesalahan, menumbuhkan gerak yang sehat dengan dukungan mentalitas dan ruhani yang baik. Setelah itu, tawakkal dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dalam tawakkal, kesiapan seseorang menerima berbagai keadaan setelah beruaha sebaik mungkin, ada dalam kata ridha. Ridha kepada apapun yang ditentukan Allah SWT. “Ikat untamu, kemudian tawakal,” begitu pesan Rasulullah saw yang menggambarkan keharusan ikhtiar sebelum tawakkal.

Setelah bergerak, seandainya melakukan kesalahan, jangan menyesalinya berlarut-larut hingga membuat diri tidak berdaya untuk berbuat yang lebih baik. Bukan menganggap ringan kesalahan, tapi kita harus berusaha agar sebuah risiko negatif bisa menjadi awal keadaan yang lebih baik. Kesalahan dan kekeliruan akan menjadi pengalaman baru, persepsi baru, pengetahuan baru, untuk digunakan di masa selanjutnya. Tapi tetap ingat, jangan asal bergerak.
Wallahu a'lam.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185917473133

0 komentar:

Posting Komentar

 

simkuring

Foto saya
orang biasa yang mempunyai mimpi luar biasa

barudak