<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946</id><updated>2011-10-23T08:15:00.178-07:00</updated><category term='untukmu kader dakwah'/><category term='ust. rahmat abdullah'/><category term='annis mata'/><category term='kepanduan'/><category term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>jang justice</title><subtitle type='html'>selayaknya bagi jiwa-jiwa yang menjadikan dakwah sebagai laku utama, maka Dialah visi, Dialah misi dan Dailah yang akan menghantarkan jiwa-jiwa ini menuju magfirah-Nya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5456967167239879673</id><published>2011-05-06T03:40:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T03:45:25.319-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Abu Hanifah An-Nu’man</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nji9CmTqqQ8/TcPRKuyihSI/AAAAAAAAAMU/KTWngYNYaFc/s1600/abu%2Bhanifah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 261px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nji9CmTqqQ8/TcPRKuyihSI/AAAAAAAAAMU/KTWngYNYaFc/s320/abu%2Bhanifah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603552343667934498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga enak dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai wewangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka bisa menebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu lah dia Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah, orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah bani Umayah dan awal kekuasaan bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama hingga rejeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengulurkan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat tiga puluh ribu dirham, padahal Al-Manshur dikenal kikir dibanding yang lain. Lalu Abu Hanifah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Maka aku titipkan di baitul maal, kelak jika aku memerlukannya, saya akan meminta kepada Anda.” Maka Al-Manshur mengabulkan permohonannya. Hanya saja, masa hidup Abu Hanifah tak begitu lama setelah peristiwa itu. Ketika beliau wafat, ternyata didapatkan di rumahnya harta titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul Mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabuhi kita, dia tidak ingin mengambil sesuatu pun dari kita, dia menolak pemberianku dengan cara halus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidaklah aneh, karena Abu Hanifah memiliki prinsip bahwa tidak ada yang lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil tangannya sendiri. Oleh sebab itu, beliau menyediakan waktu khusus untuk berdagang. Beliau berdagang kain dan pakaian, kadang-kadang pulang pergi antar kota-kota di Irak. Di samping itu beliau juga memiliki toko pakaian yang terkenal dan banyak dikunjungi orang. Mereka mendapatkan kejujuran dalam bermuamalah  dan amanah dalam memberi dan mengambil. Tidak diragukan lagi bahwa mereka merasakan kesenangan tersendiri dari cara muamalah Abu Hanifah, perniagaan beliau maju berkat karunia Allah hingga banyak keuntungan  yang beliau dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal lalu membelanjakan di tempat  yang semestinya. Telah menjadi kebiasaan beliau, setiap sampai haul (satu tahun), beliau menghitung laba yang beliau dapat. Lalu menyisihkan sekedarnya untuk mencukupi kebutuhannya, sisanya dibelikan barang untuk diberikan kepada para penghafal Al-Qur’an, ahli hadits, ahli fikih dan murid-muridnya baik berupa makanan ataupun pakaian. Beliau memberikan hal itu sembari berkata, “Ini adalah laba dari hasil perniagaanku dengan kalian, Allah melancarkannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi kalian dengan hartaku sendiri, melainkan karunia Allah untuk kalian yang diberikan-Nya melalui aku. Pada tiap-tiap rezeki tidak ada suatu kekuatan dari seseorang kecuali dari Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang kedermawanan dan kebijaksanaan Abu Hanifah masyhur di belahan bumi timur maupun barat. Terutama di kalangan para sahabat dan orang-orang yang biasa bertemu dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contohnya, pernah seorang pelanggannya datang ke toko beliau seraya berkata, “Saya membutuhkan baju “khaz”, wahai Abu Hanifah.” Beliau menjawab, “Apa warna yang Anda kehendaki?” dia menjawab, “Yang berwarna ini dan ini.” Beliau berkata, “Bersabarlah sampai saya menemukannya dan akan aku berikan kepada Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus yang lain, ada seorang wanita tua  yang mencari baju “khaz”, kemudian beliau menunjukkanbarang yang dimaksud. Lalu wanita itu berkata, “Saya adalah seorang wanita yang lemah, tidak pula tahu menahu soal harga, sedangkan ini hanyalah titipan. Maka juallah baju itu dengan harga yang sama ketika Anda membelinya, lalu ambillah sedikit untung darinya, karena saya adalah wanita lemah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifah berkata, “Saya membeli baju ini dua potong dalam satu harga. Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saja dari modal saya. Belialah baju ini seharga empat dirham karena saya tidak ingin mendapatkan laba dari Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari beliau mendapatkan pakaian usang dan lusuh yang dikenakan seorang yang menghadiri majlisnya. Ketika orang-orang telah bubar dan tak ada seorang pun selain beliau dan laki-laki itu, beliau berkata, “Angkatlah alas shalat itu lalu ambillah sesuatu di bawahnya.” Orang itu mengangkat alas yang dimaksud, ternyata ada uang seribu dirham. Abu Hanifah berakta, “Ambillah dan perbaikilah penampilan Anda.” Orang itu menjawab, “Saya adalah orang yang mampu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak membutuhkannya.” Abu Hanifah berkata, “Jika Allah telah memberikan nikmatnya kepada Anda, lantas manakan bekas nikmat yang engkau tampakkan? Belum sampaikah sabda Nabi saw, “Allah suka melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas para hambanya,” sudah sepantasnya Anda memperbagus penampilan Anda agar tidak menyusahkan teman Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain mencapai klimaksnya, hingga setiap kalia beliau memberikan belanja kepada keluarganya, beliau juga menginfakkan jumlah yang sama kepada orang-orang yang membutuhkan. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau juga membelikan baju-baju untuk orang miskin sebesar harga bajunya. Jika diletakkan makanan di hadapannya, beliau sisihkan separuhnya untuk diberikan kepada orang-orang fakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula bahwa beliau bertekad setiap kali bersumpah kepada Allah di tengah pembicaraannya, beliau akan bersedekah dengan satu dirham perak. Berikutnya ditingkatkan lagi, beliau berjanji untuk bersedekah satu dinar emas setiap kali bersumpah di tengah pembicaraanya. Namun jika sumpahnya menjadi kenyataan, dia sedekah lagi sebanyak satu dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu rekan bisnis Abu Hanifah adalah Hafs bin Abdurrahman. Abu Hanifah biasa menitipkan kain-kain kepadanya untuk dijual ke sebagian kota-kota di Irak. Suatu kali Abu Hanfiah memberikan dagangan yang banyak kepada Hafsh sambil memberitahukan bahwa pada barang ini dan itu ada cacatnya. Beliau berkata, “Jika Anda bermaksud menjualnya, maka beritahukanlah cacat barang kepada orang yang hendak membelinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Hafsh berhasil menjual seluruh barang, namun dia lupa memberitahukan cacat barang-barang tertentu tersebut. Dia berusah mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, namun hasilnya nihil. Tatkala Abu Hanifah mengetahui duduk perkaranya, juga tidak mungkin diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, beliau merasa tidak tenang hingga kahirnya beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan yang dibawa Hafsh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Abu Hanifah juga pandai bergaul. Majelisnya dipenuhi orang dan dia bersusah hati bila ada yang tidak hadir meski dia orang yang memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan, “Aku mendengar Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah alangkah jauhnya Abu Hanifah dari ghibah. Akut ak pernah medengarnya menyebutkan satu keburukan pun tentang musuhnya.” Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Abu Hanifah cukup berakal sehingga tidak akan membiarkan kebaikannya lenyap karena ghibahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah mencukupi kebutuhan orang yang menarik simpatinya. Sering ada orang lewat kemudian ikut duduk di majelisnya tanpa sengaja. Ketikadia hendak beranjak pergi, beliau segera menghampirinya dan bertanya tentang kebutuhannya. Bila dia punya kebutuhan, maka Abu Hanifah akan memberinya, kalau sakit maka akan beliau antarkan dan jika memiliki hutang maka beliau akan membayarkan sehingga terjalinlah hubungan yang baik antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keutamaan yang disandang Abu Hanifah tersebut, beliau juga termasuk orang  yang rajin shaum di siang hari dan shalat tahajud di malam harinya. Akrab dengan Al-Qur’an dan istighfar di waktu ashar. Ketekunannya dalam beribadah di latar belakangi oleh peristiwa di mana beliau mendatangi suatu kaum lalu mendengar mereka berkomentar tentang Abu Hanifah. “Orang yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam.” Demi mendengar kata-kata itu, Abu Hanifah berkata, “Dugaan orang terhadapku ternyata berbeda dengan apa yang aku kerjakan di sisi Allah. Demi Allah jangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai hari itu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk shalat. Setiap kali malam datang dan kegelapan menyelimuti alam, ketika semua lambung merebahkan diri. Beliau bangkit mengenakan pakaian yang indah, merapikan jenggot dan memakai wewangian. Kemudian beridiri di mihrabnya, mengisi malamnya untuk ketaatan kepada Allah, atau membaca beberapa juz dari Al-Qur’an. Setelah itu mengangkat kedua tangan dengan sepenuh harap disertai kerendahan hati. Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur’an penuh dalam satu rekaat, terkadang pula beliau menghabiskan shalat semalam dengan satu ayat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah riwayat menyebutkan bahwa tatkala shalat malam secara berulang-ulang Abu Hanifah membaca membaca firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pasti,” (Al-Qamar: 46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diketahui banyak orang selama lebih dari empat puluh tahun beliau melakukan shalat fajar dengan wudhu shalat isya’. Hingga akhir wafat beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7000 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, bergetar hatinya. Dengan memegang jenggotnya, beliau berkata, “Wahai yang membalas sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu’man dari api neraka dan jauhkan ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 398-406.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5456967167239879673?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5456967167239879673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/05/abu-hanifah-numan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5456967167239879673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5456967167239879673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/05/abu-hanifah-numan.html' title='Abu Hanifah An-Nu’man'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nji9CmTqqQ8/TcPRKuyihSI/AAAAAAAAAMU/KTWngYNYaFc/s72-c/abu%2Bhanifah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6333385338141573054</id><published>2011-05-02T10:54:00.000-07:00</published><updated>2011-05-02T10:56:46.659-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepanduan'/><title type='text'>Pandu Qurani (tamat)</title><content type='html'>Kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya tugas yang diemban pandu qur’ani lebih banyak dari waktu yang dimiliki, serta beratnya beban, rintangan dan tantangan tidak hanya memerlukan kecerdasan namun juga kekuatan dan ketahanan fisik yang tinggi.Mungkin disinilah letak rahasia mengapa Allah lebih mencintai mukmin yang kuat daripada yang lemah.Allah menilai seseorang berdasarkan amal perbuatannya.Seorang mukmin yang kuat akan sanggup melakukan amal yang lebih banyak dibanding mukmin yang lemah. Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran jika pemimpin yang dipilihkan Allah untuk memimpin Bani Israil melawan kezaliman adalah orang yang memiliki keluasan ilmu sekaligus kekuatan fisik yang lebih baik daripada yang lainnya.Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dan Nabi mereka berkata; sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut menjadi raja kalian.Mereka berkata bagaimana mungkin ia menjadi raja kami sementara kami lebih berhak menjadi raja dibanding ia, dan ia tidak tidak memiliki harta yang banyak.Ia (Nabi mereka) berkata; sesunguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) diantara kalian dan memberinya kelebihan dalam ilmu dan fisik”.QS:2:247.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Keterampilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa keterampilan sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap tugas dan persoalan yang dihadapi.Keterampilan sangat menentukan efisiensi dan efektifitas kerja, dua hal yang mendasari amal yang berkualitas. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam memerintahkan untuk membina keterampilan sejak dini.Beliau bersabda:&lt;br /&gt;”Ajarilah anak-anak kalian memanah dan berenang”.&lt;br /&gt;Demikian juga Umar bin Khaththab berkata:&lt;br /&gt;”ajarilah anak-anak kalian menaiki kuda dengan sekali lompatan”.&lt;br /&gt;Kecerdasan dan kekuatan seseorang yang dipadukan dalam latihan yang memadai menghasilkan keterampilan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian&lt;br /&gt;Kecerdasan, kekuatan, dan keterampilan akan menjadi sia-sia dihadapan tugas dan persoalan tanpa keberanian bertindak dan menanggung resiko.Keberanian adalah salah satu indikasi frekwensi iman seseorang.Rasulullah bersabda:”Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya.Jika tidak sanggup maka dengan lisannya.Jika tidak sanggup lagi maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah”.Hanya diatas iman dapat terukir amal saleh yang menghindarkan dari berbagai kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandu Keadilan hanyalah bahagian dari Pandu Qur’ani.Siapakah yang termasuk Pandu Keadilan?Yaitu semua kader Partai Keadilan Sejahtera.Agar memenuhi karakter pandu Qurani semua anggota pria Pandu Keadilan berkewajiban mengikuti mukhayyam kepanduan yang diselenggarakan Departemen Kepanduan dan turunannya di daerah minimal sekali setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap melalui mukhayyam terbangun dan terasah kecerdasan, kekuatan, keterampilan, dan keberanian serta buah dari keempatnya berupa keikhlasan, kepahaman, amal, jihad, tha’ah, tadlhiyah, tsiqah, tsabat, tajarrud, dan ukhuwwah yang membawa kepada kejayaan Islam, ampunan dan rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita berlindung kepada Allah dari segala hal yang meruntuhkan karakter Pandu Qur’ani:”Ya Allah kami berlindung kepadamu dari berbuat syirik kepadamu secara sadar, dan kami memohohon ampunanmu terhadap (perbuatan syirik) yang tidak kami sadari.Ya Allah kami berlindung kepadamu dari kegundahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kekikiran, dan dari lilitan utang dan penindasan orang-orang yang kuat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mukhayyam wajib ada LPK (Latsar Pandu Keadilan) untuk berkiprah dalam regu-regu Pandu yang berada di bawah payung besar BRIGADE 2009, baik regu Pandu Reguler, RSP (Regu Siaga Pemilu), KORSAD (Korps Satuan Tugas Keadilan), maupun SANTIKA (Barisan Putri Keadilan).Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahilhamdu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tamat)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6333385338141573054?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6333385338141573054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/05/pandu-qurani-tamat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6333385338141573054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6333385338141573054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/05/pandu-qurani-tamat.html' title='Pandu Qurani (tamat)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6496453090448844295</id><published>2011-05-02T07:29:00.000-07:00</published><updated>2011-05-02T07:33:32.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>ABU DZAR AL-GHIFARI</title><content type='html'>Ia datang ke Mekah terhuyung-huyung letih tetapi matanya bersinar bahagia�..Memang, sulitnya perjalanan dan panasnya telah menyengat badannya dengan rasa sakit udara padang pasir dan lelah, tetapi tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat serta rasa gembira dalam jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah ia seorang yang hendak melakukan thawaf keliling berhala-berhala besar di Ka'bah atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan atau lebih tepat orang yang telah menempuh jarak amat jauh, yang merlukan istirahat dan manambah perbekalan. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Padahal seandainya orang-orang Mekah mengetahui babwa kedatangannya itu untuk menemui Muhammad dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan membunuhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ia tak perduli akan dibunuh asal saja setelah melintasi padang pasir luas, ia dapat menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan iman kepadanya. Kebenaran dan da'wah yang diberikan Muhammad dapat memuaskan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang memperkatakan Muhammad , ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati; hingga dari cerita yang tersebar di sana-sini, diperolehnya petunjuk yang dapat menunjukkan tempat persembunyian Muhammad , dan mempertemukannya dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi suatu hari ia pergi ke tempat itu, didapatinya Muhammad sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, katanya: "Selamat pagi wahai kawan sebangsa!" "Alaikum salam, wahai shahabat", ujar Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Abu Dzar: "Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!"&lt;br /&gt;"Ia bukan sya'ir hingga dapat digubah, tetapi adalah Al Quran yang mulia!", Ujar Rasulullah.&lt;br /&gt;dibacakanlah oleh Rasulullah, sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga tidak berselang lama iapun berseru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dari mana, saudara sebangsa?", tanya rasulullah.&lt;br /&gt;"Dari Ghitar'', ujarnya.&lt;br /&gt;Maka terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah, sementara wajahnja diliputi rasa kagum dan ta'jub. Abu dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik rasa kagum Rasulullah demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu, seorang laki-laki dari Ghifar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka, dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dikala agama Islam yang baru saja lahir dan berjalan sembunyi-sembunyi, mungkinkah ada diantara orang-orang Ghifar itu seorang yang sengaja datang untuk masuk Islam? Berkatalah Abu Dzar dalam menceritakan sendiri kisah itu: "Maka pandangan Rasulullah pun turun naik, tak putus ta'jub memikirkan tabi'at orang-orang Ghifar, lalu sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukaiNya�!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Allah menunjuki,siapa yang Ia kehendaki ! Abu dzar salah seorang yang, dikehendaki Allah beroleh petunjuk , orang yang dipilihNya akan mendapat kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, Abu Dzar ini seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, mempunyai kepercayaan akan Ketuhanan serta iman kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Perkasa, maka iapun menyiapkan bekal dan segera mengayunkan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi�.! urutannya dikalangan Muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk agam itu pada hari-hari pertama, bahkan pada saat-saat pertama agama Islam, hingga keIslamannya termasuk dalam barisan terdepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia masuk Islam, Rasulullah masih menyampaikan da'wahnya secara berbisik-bisik. Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitupun kepada lima orang lainya yang telah iman kepadanya. Dan bagi Abu Dzar, tak ada yang dapat dilakukannya sekarang selain memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Mekah secara diam-diam dan kembali kepada kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Abu Dzar yang nama aslinya Jundub bin Junadah, seorang kuat dan revolusioner. Telah menjadi watak dan tabi'atnya menentang kebathilan dimanapun ia berada. Dan sekarang kebathilan itu berada dihadapannya serta disaksikannya dengan kedua matanya sendiri�.Batu-batu yang ditembok, yang dibentuk oleh para pemujanya, disembah oleh orang-orang yang menundukkan kepala dan merendahkan akal mereka, dan diseru mereka dengan ucapan yang muluk : Inilah kami , kami datang demi mengikuti titahmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang, ia melihat Rasulullah memilih cara bisik-bisik pada hari-hari tersebut, tetapi tidak dapat tidak harus ada suatu teriakan keras yang akan dikumandangkan pemberontak ulung ini sebelum ia pergi. Baru saja masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan kepada Rasulullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, apa yang saya kerjakan menurut anda?"&lt;br /&gt;"Kembalillah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!", ujar Rasulullah.&lt;br /&gt;"Demi Tuhan yang menguasai nyawaku", kata Abu Dzar pula, "saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah telah saya katakan kepada kalian�..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa yang kuat dan revolusioner! Apakah Abu Dzar pada saat terbukanya alam baru secara gamblang, yang jelas terlukis pada Rasulullah yang diimaninya, sertada'wah yang uraiannya disampaikan dengan lisannya�, apakah pada saat seperti itu ia mampu kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu seribu bahasa ? Sunguh, hal itu diluar kesanggupan dan kemampuannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar pergi menuju masjidil haram dan menyerukan dengan sekeras-kerasnya suaranya: "Asyhadu Alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah". Setahu kita, teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang Agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka�., diserukan oleh seorang perantau asing yang diMekkah tidak mempunyai bangsa, sanak keluarga maupun pembela. Dan sebagai akibatnya, ia mendapat perlakuan dari mereka yang sebetulnya telah dimaklumi akan ditemuinya�.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang musyrik mengepung dan memukulnya hingga rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita mengenai peristiwa yang dialami Abu Dzar itu akhirnya sampai juga kepada paman Nabi, Abbas. Ia segera mendatangi tempat terjadinya peristiwa tersebut, tapi dirasanya ia tidak dapat melepaskan Abu Dzar dari cengkeraman mereka kecuali dengan menggunakan diplomasi halus, maka katanya kepada mereka :&lt;br /&gt;"Wahai kaum Quraisy! Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan lewat dikampung Bani Ghifar. Dan orang ini salah seorang warganya, bila ia bertindak akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kafilah-kafilahmu nanti!" merekapun sama menyadari hal itu, lalu pergi meniggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Abu Dzar yang telah mengenyam manisnya penderitaan dalam membela Agama Allah, tak hendak meninggalkan Mekkah sebelum beroleh tambahan dari darma baktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pada hari berikutnya, tampak olehnya dua orang wanita sedang thawaf keliling berhala-berhala Usaf dan Na-ilah sambil memohon padanya. Abu Dzar segera berdiri menghadangnya, lalu dihadapan mereka berhala-berhala itu dihina sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua wanita itu memekik berteriak, hingga orang-orang gempar dan berdatangan laksana belalang, lalu menghujani Abu Dzar dengan pukulan hingga tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, maka yang diserunya tiada lain hanyalah "bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu utusan Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumlah sudah Rasulullah akan watak dan tabi'at murid barunya yang ulung ini serta keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebathilan. Hanya sayang saatnya belum lagi tiba, maka diulanginyalah perintah agar dia pulang, sampai bila telah didengarnya nanti Islam lahir terang-terangan ia dapat kembali dan turut mengambil bagian dalam percaturan dan aneka peristiwanya��&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar kembali mendapatkan keluarga serta kaumnya dan menetapkan kepada mereka tentang Nabi yang baru diutus Allah, -yang menyeru agar mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa dan membimbing mereka supaya berakhlaq mulia. Seorang demi seorang kaumnya masuk Islam; Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya semata, tapi dilanjutkannya pada,suku lain - yaitu suku Aslam:-di tengah-tengah mereka: dipancarkan cahaya islam.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu mengikuti peredaran , Rasulullah telah hijrah ke Madinah dan menetap di sana bersama Kaum Muslimin. Pada suatu hari, suatu barisan panjang yang, terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota, meninggalkan kepulan debu belakang mereka, Kalau bukanlah bunyi suara takbir mereka yang gemuruh tentulah yang melihat akan menyangka mereka itu suatu pasukan tentara musyrik yang hendak menyerang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan besar itu semakin dekat�.. lalu masuk ke dalam kota dan menujukan langkah mereka ke masjid Rasulullah dan tempat kediamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata rombongan itu tiada lain dari kabilah-kabilah Ghifar dan Aslam yang dikerahkan semuanya oleh Abu Dzar dan tanpa kecuali telah masuk Islam; laki-laki, perempuan, orang tua, remaja dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah selayaknyalah Rasulullah semakin ta'jub dan kagum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama berselang, ia ta'jub ada seorang Iaki-laki dari Ghifar yang menanyakan keislamannya di hadapannya. Sabdanya menunjukkan keta'juban itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekarang yang datang itu adalah seluruh warga Ghifar yang menyatakan keIslaman mereka. Telah beberapa tahun lamanya mereka menganut Agama itu, semenjak mereka diberi hidayah Allah di tangan Abu Dar. Dan ikut pula bersama mereka suku Aslam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raksasa garong dan komplotan syetan telah beralih rupa menjadi raksasa kebajikan dan pendukung kebenaran ! Nah, tidaklah sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ?Rasulullah melayangkan pandangannya kepada wajah-wajah yang berseri-seri, pandangan yang diliputi rasa haru dan cinta kasih. Sambil menoleh kepada suku Ghifar, ia bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Suku Ghifar telah di-ghafar -- diampuni -- oleh Allah."&lt;br /&gt;Kemudian sambil menghadap kepada suku Aslam, sabdanya&lt;br /&gt;" Suku Aslam telah disalam - diterima dengan damai � oleh Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengenai Abu Dzar, muballigh ulung yang berjiwa bebas dan bercita- cita mulia itu, tidakkah Rasulullah akan menyampaikan ucapan istimewa kepadanya? Tidak pelak lagi, pastilah ganjarannya tidak terhingga, serta ucapan kepadanya dipenuhi berkah! Dan tentulah pada dadanya akan tersemat bintang terfinggi, begitu pun riwayat hidupnya akan penuh dengan medali. Turunan demi turunan serta generasi demi generasi akan berlalu pergi, tetapi manusia akan selalu mengulang-ulang apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw. mengenai Abu Dzar ini:�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takhan pernah lagi dijumpai cli bawah langit ini, orang yang lebih bencrr ucapannya dari Abu Dzar ...! Kemudian pula:&lt;br /&gt;Lebih benarkah ucapannya dari Abu Dzar ...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Rasulullah saw. bagai telah membaca hari depan shahabatnya itu, dan manyimpulkan kesemuanya pada kalimat tersebut. Kebenaran yang disertai keberanian, itulah prinsip hidup Abu Dzar secara keseluruhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bathinnya, benar pula lahirnya.&lt;br /&gt;Benar 'aqidahnya, benar pula ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan menjalani hidupnya secara benar, tidak akan melakukan kekeliruan. Dan kebenarannya itu bukanlah keutamaan yang bisu, karena bagi Abu Dzar, kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran! Yang dikatakan benar ialah menyatakan secara terbuka dan terus terang, yakni menyatakan yang haq dan menentang yang bathil, menyokong yang betul dan meniadakan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar itu kecintaan penuh terhadap yang haq, mengemukakannya secara berani dan melaksanakannya secara terpuji.&lt;br /&gt;Dengan penglihatannya yang tajam, bagai menembus ke alam ghaib yang jauh tidak terjangkau atau samudera yang tidak terselami, Rasulullah saw. menampakkan segala kesusahan yang akan dialami oleh Abu Dzar sebagai akibat dari kebenaran dan ketegasannya. Maka selalu dipesankan kepadanya agar melatih diri dengan keshabaran dan tidak terburu nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Rasulullah mengemukakan Irepadanya pertanyaan berikut ini:&lt;br /&gt;"Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti untuk diri mereka pribadi?" Jawab Abu Dzar: "Demi yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!" Sabda Rasulullah pula: Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu�.? Ialah bershabar samapai kamu menemuiku "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda kenapa Rasulullah mengajukan pertanyaan seperti itu? Itulah persoalan pembesar dan harta ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah itulah persoalan pokok bagi Abu Dzar dan untuk itu ia harus membaktikan hidupnya, suatu kemusykilan menyangkut masyarakat ummat dan masa depan yang harus dipecahkannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu telah dimaklumi oleh Rasululiah, dan itulah sebabnya kepada beliau mengajukan pertanyaan seperti demikian, yaitu untuk membekalinya dengan nasihat yang amat berharga: "Bershabarlah sampai kamu menemuiku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Dzar akan selalu ingat kepada wasiat guru dan Rasul ini. Ia tiadalah akan menggunakan ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengaut kekayaan dari harta rakyat sebagai ancamannya dulu ...,tetapi juga ia tidak akan bungkam atau berdiam diri walau agak sesaat pun terhadap mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, seandainya Rasulullah saw. melarangnya menggunakan senjata untuk menebas leher mereka, tetapi beliau tidak melarangnya menggunakan lidah yang tajam demi membela kebenaran. Dan wasiat itu akan dllaksanakannya ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Rasulullah berlalulah sudah, disusul kemudian oleh masa Abu Bakar, kemudian masa Umar. Dalam kedua Khilafah ini masih dapat dijinakkan sebaik-baiknya godaan hidup dan unsur-unsur fitnah pemecah belah, hingga nafsu angkara yang haus dahaga tidak beroleh angin atau mendapatkan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu tidak terdapat penyelewengan-penyelewengan yang akan mengakibatkan Abu Dzar bangkit menentang dengan suaranya yang lantang dan kecamannya yang pedas. Telah lama berlaku dalam pemerintahan Amirul Mu'minin Umar keharusan hidup sederhana dan menjauhi kemewahan serta menegakkan keadilan bagi setiap pejabat dan pembesar Islam. Begitu pun para hartawan di mana mereka berada, telah melaksanakan disiplin ketat yang hampir saja tidak terpikul oleh kemampuan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorang pun di antara pejabatnya, baik di Irak, di Syria, Shan'a, atau di negeri yang jauh letaknya sekalipun, yang memakan panganan mahal yang tidak terjangkau oleh rakyat biasa, kecuali selang beberapa hari berita itu akan sampai kepada Umar dan perintah keras pun akan memanggil pejabat yang bersangkutan menghadap Khalifah di Madinah untuk menjalani pemeriksaan ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tenanglah Abu Dzar kalau demikian ...tenteram dan damai, selama al-Faruqul 'adhim') masih menjabat Amirul Mu'minin .... Dan selama Abu Dzar dalam kehidupannya tidak diganggu oleh kepincangan-kepincangan seperti penumpukan harta dan penyalahgunaan kekuasaan, maka dengan pengawasan Umar ibnul Khatthab' yang ketat terhadap fihak penguasa dan pembagian yang merata terhadap harta, berarti telah memberikan kepuasan dan kelegaan kepada dirinya .... Dan dengan demikian dapatlah ia memusatkan perhatiannya dalam beribadat kepada Allah penciptanya dan berjihad di jalan-Nya, tanpa sedikitpun hendak berdiam diri jika melihat kesalahan-kesalahan di sana-sini, yang ketika itu memang jarang terjadi ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi setelah khalifah terbesar yang teramat adil dan paling mengagumkan di antara tokoh kemanusiaan telah pergi, terasa adanya kehampaan dalam kepemimpinan. Bahkan hal tersebut menimbulkan kemunduran yang tak dapat dikuasai dan dibatasi oleh tenaga manusia. Sementara itu meluasnya ajaran al-Islam ke berbagai pelosok dunia menumbuhkan kemakmuran hidup. Orang yang tidak dapat menahan godaan dunia banyak yang terjerwmus ke daiam kemewahan yang melebihi batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar melihat bahaya ini ....&lt;br /&gt;Panji-panji kepentingan pribadi hampir saja menyeret dan mendepak orang-orang yang tugasnya sehari-hari menegakkan panji-panji Allah. Dan dunia, dengan daya tarik serta tipu muslihatnya yang mempesona, hampir pula memperdayakan orang-orang yang mengemban risalah untuk menpergunakannya sebagai wadah untuk menyemai dan menanamkan kebajikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harta yang dijadikan Allah sebagai pelayan yang harus tunduk kepada manusia, cenderung berubah mupa, menjadi tuan yang mengendalikan manusia.&lt;br /&gt;Al-Faruqul 'adhim, yakni pemisah antara haq dan bathil yang perkssa. Al-Faruq, ialah gelar kepahlawanan Umar ibnul Khatthab yang dianugerahkan oleh RasululIah saw.&lt;br /&gt;Dan kepada siapa.. .?&lt;br /&gt;Tiada lain kepada shahabat-shahabat Muhammad saw., yang di waktu wafatnya baju besinya sedang tergadai, sementara gundukan upeti dan harta rampasan perang bertumpuk di bawah telapak kakinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kekayaan bumi yang sengaja diperuntukkan Allah bagi semua ummat manusia, dengan menjadikan mereka mempunyai hak yang sama, hampir berubah menjadi suatu keistimewaan dan hak monopoli bagi mereka yang terbenam dalam kemewahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jabatan, yang merupakan amanat untuk dipertanggungjawabkan kelak di hadapan pengadilan ilahi, beralih menjadi alat untuk merebut kekuasaan, kekayaan dan kemewahan yang menghancur binasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar melihat semua ini. Ia tidak memikirkan apakah itu menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya. Hanya ia langsung menghunus pedang, meletakkannya ke udara dan membedahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia bangkit berdiri dan menantang masyarakat yang telah menyimpang dari ajaran islam dengan pedangnya yang tak pernah tumpul itu. Tetapi secepatnya bergemalah dalam kalbunya bunyi wasiat yang telah disampaikan Rasulullah ke padanya dulu. Maka dimasukkannya kembali pedang itu ke dalam sarungnya, karena tiada sepantasnya ia akan mengacungkannya ke wajah seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak ada haq bagi seorang Mu 'min untuk membunuh Mu 'min lainnya kecuali karena keliru (tidak sengaja). (Q,S. an-Nisa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dulu Rasulullah telah menyatakan di hadapan para shakabatnya bahwa di bawah langit ini takkan pernah lagi muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memiliki bemampuan seperti ini, berupa kata-kata tepat dan jitu, tidak memerlukan lagi senjata lainnya. Satu kalimat yang diucapkannya, akan lebih tajam dan banyak hasilnya daripada pedang walau sepenuh bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan senjata kebenarannya ia akan pergi mendapatkan para pembesar, kaum hartawan; pendeknya kepada dunia manusia yang cenderung menumpuk kekayaan yang membahayakan Agama, yakni Agama yang sengaja datang untuk memberikan bimbingan dan bukan untuk memungut upeti, sebab kenabian bukan suatu kerajaan, menjadi rahmat karunia bukan adab sengsara, mengajarkan kerendahan hati bukan kesombongan diri, persamaan bukan pengkastaan, kesahajaan bukan keserakahan, kesederhanaan bukan keborosan, kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup bukan terpedaya dan mati-matian dalam mengejarnya�..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah ia pergi mendapatkan mereka semua, dan biarlah Allah menjadi hakim diantaranya dengan mereka, dan dialah sebaik-baik hakim!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pergilah Abu Dzar menemui pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dan dengan lisannya yang tajam dan benar merubah sikap mental mereka satu persatu. Dalam beberapa hari saja tak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri yang jauh yang penduduknya selama itu belum pernah melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Abu Dzar bagaikan terbang ke sana ..., dan tak satu daerah pun yang dilaluinya -- bahkan walau barn namanya yang sampai ke sans -- menimbulkan rasa takut dan ngeri hati fihak penguasa dan golongan berharta yang beulaku curang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya penggerak hidup sederhana ini hendak mengambil suatu panji bagi diri pribadi dan gerakannya, maka lambang yang akan terpampang pada panji-panji itu tiada lain dari sebuah seterika dengan baranya yang merah menyala. Sedang yang akan menjadi semboyan dan lagi yang selalu diulang-ulangnya setiap waktu dan tempat, dan diulang-ulang pula oleh para pengikutnya seolah-olah suatu lagu perjuangan, ialah kalimat-kalimat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beritakanlah kepada para penumpuk harta,&lt;br /&gt;yang menumpuk emas dan perak,&lt;br /&gt;mereka akan diseterika dengan seterika api neraka,&lt;br /&gt;menyeterika hening dan pinggang mereka di hari qiamat"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ia mendaki bukit, menuruni lembah memasuki kota; dan setiap ia berhadapan dengan seorang pembesar, selalu kalimat itu yang menjadi buah mulutnya. Begitu pun setiap orang melihatnya datang berkunjung, mereka akan menyambutnya dengan ucapan: "Beritakan kepada para penumpuk harta...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini benar-benar telah menjadi panji-panji suatu missi yang menjadi tekad serta pendorong dalarfi membaktikan hidupnya, demi dilihatnya harta itu telah ditumpuk dan dimonopoli, serta jabatan disalahgunakan untuk memupuk kekuatan dan mengaut keuntungan; serta disaksikannya bahwa cinta dunia telah merajalela dan hampir saja melumari hasil yang telah dicapai di tahun-tahun kerasulan, berupa keutamaan dan keshalihan, kesungguhan dan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar menujukan sasarannya yang pertama terhadap poros utama kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan, yaitu Syria, tempat bercokolnya Mu'awiyah bin Abi Sufyan yang memerintah wilayali Islam paling subur, paling banyak hasil bumi dan paling kaya dengan barang upetinya. Mu'awiyah telah memberikan dan membagi-bagikan harta tanpa perhitungan, dengan tujuan untuk mengambil hati orang-orang terpandang dan berpengaruh, dan demi terjaminnya masa depan yang masih dirindukannya, didambakan oleh keinginannya yang luas tidak terbatas ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana tanah-tanah luas, gedung-gedung tinggi dan harta berlimpah telah menggoda sisa-sisa yang tinggal dari pemikul da'wah, maka Abu Dzar cepat mengatasinya, sebelum hal itu berlarut-larut, sebelum pertolongan datang terlambat hingga nasi telah menjadi bubur. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6496453090448844295?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6496453090448844295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/05/abu-dzar-al-ghifari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6496453090448844295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6496453090448844295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/05/abu-dzar-al-ghifari.html' title='ABU DZAR AL-GHIFARI'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-8909317519157880342</id><published>2011-04-25T01:58:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T02:06:10.867-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Thalhah dan Zubair</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Po1vMOoCmSM/TbU42CwQwWI/AAAAAAAAALo/9LaXIeIkWAA/s1600/Zubair%2Bbin%2BAwwam%2BSang%2BPembela%2BRosululloh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Po1vMOoCmSM/TbU42CwQwWI/AAAAAAAAALo/9LaXIeIkWAA/s320/Zubair%2Bbin%2BAwwam%2BSang%2BPembela%2BRosululloh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599444212808466786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali nama Thalhah disebut, nama Zubair juga disebut. Dan setiap kali disebut nama Zubair, nama Thalhah pun pasti disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya di Makkah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair. Sudah sejak lama Nabi SAW bersabda tentang keduanya secara bersamaan, seperti sabda beliau, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Murrah bin Ka’ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zaubair, juga bibi Rasulullah.&lt;br /&gt;Thalhah dan Zubair mempunyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan dalam beragama dan keberanian mereka hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, dan termasuk sepuluh orang yang dikabarkan oleh Rasul masuk surga, termasuk enam orang yang diamanahi Khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, hingga saat kematian keduanya sama persis.&lt;br /&gt;Seperti yang telah kita sebutkan, Zubair termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, karena ia termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam, dan sebagai perintis perjuangan di rumah Arqam. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Ia telah diebri petunjuk, cahaya, dan kebaikan saat remaja.&lt;br /&gt;Ia ahli menunggang kuda dan memiliki keberanian, sejak kecil. Bahkan, ahli sejarah menyebutkan bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah pedang Zubair bin Awwam.&lt;br /&gt;Di masa-masa awal, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit dan masih bermarkas di rumah Arqam, terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.&lt;br /&gt;Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya berita itu benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala orang-orang kafir Quraisy atau ia sendiri yang gugur.&lt;br /&gt;Di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia bertemu Rasulullah. Rasulullah menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan menceritakan tekadnya. Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi kemenangan.&lt;br /&gt;Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang, namun ia juga merasakan penyiksaan Quraisy. Orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Ia pernah diikat dan dibungkus tikar lalu diasapi hingga kesulitan bernapas. Di saat itulah sang paman berkata, “Larilah dari Tuhan Muhammad, akan kubebaskan kamu dari siksa ini.”&lt;br /&gt;Meskipun masih muda belia, Zubair menjawab dengan tegas, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya.”&lt;br /&gt;Zubair ikut dalam perjalanan hijrah ke Habasyah dua kali. Kemudian ia kembali, untuk mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, hingga tidak satu pun peperangan yang tidak ia ikuti.&lt;br /&gt;Banyaknya bekas luka pedang dan tombak di tubuhnya adalah bukti keberanian dan kepahlawanannya.&lt;br /&gt;Marilah kita dengarkan cerita seorang rekannya yang melihat bekas luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;“Aku pernah bersama Zubair bin Awwam dalam satu perjalanan dan aku melihat tubuhnya. Ada banyak bekas sabetan pedang. Di dadanya ada beberapa lubang bekas tusukan tombak dan anak panah. Aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, yang kulihat ditubuhmu belum pernah kulihat di tubuh orang lain.’ Ia menjawab, “Demi Allah, semua luka-luka ini kudapat bersama Rasulullah dalam peperangan membela agama Allah.”&lt;br /&gt;Seusai Perang Uhud, dan pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah, Zubair dan Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka agar mereka menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka tidak berpikir untuk menyerbu Madinah.&lt;br /&gt;Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka. Mereka menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.&lt;br /&gt;Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.&lt;br /&gt;Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena itu, aku memberi nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka syahid.”&lt;br /&gt;Ada yang diberi nama Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy. Ada yang diberi nama Mundzir dari nama Mundzir bin Amru. Ada yang diberi nama Urwah dari nama Urwah bin Amru. Ada yang diberi nama Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada yang diberi nama Ja’far dari nama Ja’far bin Abi Thalib. Ada yang diberi nama Mushab dari nama Mushab bin Umair. Ada yang diberi nama Khalid dari nama Khalid bin Sa’id. Seperti itulah, semua anaknya diberi nama dengan nama-nama para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti mereka.&lt;br /&gt;Disebutkan dalam buku sejarah, “Zubair tidak pernah menjadi bupati atau gubernur. Tidak pernah menjadi petugas penarik pajak atau cukai. Ia tidak pernah menduduki jabatan kecuali sebagai pejuang perang membela agama Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat percaya dengan kemampuannya di medan perang dan itulah kelebihannya. Meskipun pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang.&lt;br /&gt;Keteguhan hati di medan perang dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah keistimewaannya.&lt;br /&gt;Ia melihat gugurnya sang paman, yaitu Hamzah, di Perang Uhud, di Perang Uhud. Ia juga melihat bagaimana tubuh pamannya dicabik-cabik oleh pasukan kafir. Ia berdiri dekat jenazah sang paman. Gigi-giginya terdengar gemeretak dan genggaman pedangnya semakin erat. Hanya satu yang dipikirkannya, yaitu balas dendam. Akan tetapi, wahyu segera turun melarang kaum muslimin melakukan balas dendam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng musuh yang kuat dan berkata, “Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah. Atau, akan kita buka benteng mereka.” Keduanya melompat ke dalam benteng. Dengan kecerdasannya, ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan berhasil membuka pintu benteng sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam benteng.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perang hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang memalukan. Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya bersembunyi di sebuah tempat, mengintai pasukan Islam, dan bermaksud membunuh para panglima Islam. Ketika Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang mereka seorang diri dan berhasil mengobrak-abrik mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sangat sayang kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya atas perjuangan Zubair. “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”&lt;br /&gt;Bukan karena sebagai saudara sepupu dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang bergelar “Dzatun Niqatain” (memiliki dua selendang), melainkan karena pengabdiannya yang luar biasa, keberaniannya yang tiada dua, kepemurahannya yang tidak terkira, dan pengorbanan diri serta hartanya untuk Allah, Tuhan alam semesta.&lt;br /&gt;Sungguh tepat apa yang dikatakan Hasan bin Tsabit ketika melukiskan sifat-sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati&lt;br /&gt;Atas petunjuk Nabi ia berbakti&lt;br /&gt;Dialah sang pembela sejati&lt;br /&gt;Kata dan perbuatannya bagai merpati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan Nabi, ia berjala&lt;br /&gt;Bela kebenaran sebagai tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika api peperangan sudah menyala&lt;br /&gt;Dialah penunggang kuda tiada dua&lt;br /&gt;Dialah pejuang tak kenal menyerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Rasul, masih keluarga&lt;br /&gt;Terhadap Islam, selalu membela&lt;br /&gt;Pedangnya selalu siaga&lt;br /&gt;Kala Rasul dihadang bahaya&lt;br /&gt;Dan Allah tidak ingkar pada janji-Nya&lt;br /&gt;Memberi pahala tiada terkira&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang yang bebrudi tinggi dan berakhlak mulia. Keberanian dan kepemurahannya bagai dua kuda yang digadaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang pebisnis sukses. Harta kekayaannya melimpah ruah. Semuanya ia dermakan untuk kepentingan Islam hingga saat mati mempunyai utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan nyawanya u. Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, “Jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.”&lt;br /&gt;Sang anak bertanya, “Siapa pelindung yang ayah maksud?”&lt;br /&gt;Zubair menajwab, “Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, sang anak bercerita, “Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar utangnya, aku berkata, ‘Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah melunasi utangnya.”&lt;br /&gt;Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair berakhir.&lt;br /&gt;Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya, lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit oleh sejumlah orang yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang melaksanakan shalat, mereka menikam Zubair.&lt;br /&gt;Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah membunuh Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali memusuhi Zubair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka.”&lt;br /&gt;Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Adakah kata yang lebih indah dari kata-kata Khalifah Ali untuk melepas kepergian Zubair?&lt;br /&gt;Salam sejahtera untukmu, wahai Zubair, di alam kematian.&lt;br /&gt;Beribu salam sejahtera untukmu, wahai pembela Rasulullah. &lt;br /&gt;[sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-8909317519157880342?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/8909317519157880342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/04/setiap-kali-nama-thalhah-disebut-nama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8909317519157880342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8909317519157880342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/04/setiap-kali-nama-thalhah-disebut-nama.html' title='Thalhah dan Zubair'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Po1vMOoCmSM/TbU42CwQwWI/AAAAAAAAALo/9LaXIeIkWAA/s72-c/Zubair%2Bbin%2BAwwam%2BSang%2BPembela%2BRosululloh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5825319816638485702</id><published>2011-03-02T21:39:00.000-08:00</published><updated>2011-03-02T21:43:13.223-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepanduan'/><title type='text'>Pandu Qurani (bagian 3)</title><content type='html'>Konsekwensi logis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya peran dan tanggung jawab pandu qur’ani menuntutnya menjadi pribadi yang cekatan berlandaskan empat karakter yaitu; cerdas , kuat, terampil, dan berani.Pandu qur’ani mesti cekatan dalam merespon seruan Allah dan RasulNya, memenuhi panggilan dakwah, dan dalam memberikan berbagai pelayanan kepada masyarakat luas berlandaskan semangat kompetisi dalam kebajikan demi meraih ampunan dan ganjaran Allah. Allah berfirman;&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju sorga yang luas seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”.QS:3:133.&lt;br /&gt;“Maka berlomba di dalam kebaikan….”.QS:&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Jika tidak maka segala afiliasi yang disandangnya tidak akan memberinya arti apa-apa.&lt;br /&gt;”Barang siapa yang tidak dipercepat oleh amal perbuatannya, ia tidak akan dipercepat oleh afiliasinya”.Sebuah kata hikmah dijalan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Pandu Qur’ani memiliki kecerdasan spiritual sebagai hasil interaksi ta’abbudi dengan Allah ‘azza wa jalla, dan melalui penghayatan terhadap nilai-nilai aqidah dan akhlak islami.Nilai-nilai spiritual Islam terhimpun dalam satu gudang bernama taqwa, didalamnya terdapat perbendaharaan spiritual bernilai tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;firman Allah:&lt;br /&gt;“Alif, laam, miim.Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan, didalamnya terdapat petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan mereka yang menginfakkan sebagian harta yang Kami karuniakan kepada mereka.Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu, dan mereka meyakini hari akhirat.Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.QS;2:1-4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukanlah kebaktian itu dengan menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat, akan tetapi kebaktian ialah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, Al-Kitab, dan para Nabi, menyerahkan harta dengan rasa senang kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, orang-orang yang meminta bantuan, dan untuk pembebasan budak,  menegakkan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji.Dan orang-orang yang sabar dalam bencana dan kesulitan serta dalam pertempuran.Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.QS:2:177.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bersegeralah menuju ampunan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.Yaitu orang-orang yang berinfaq di waktu lapang maupun sempit,mampu mengendalikan amarah, dan pemaaf kepada manusia.Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.Dan orang-orang yang yang mengingat Allah ketika melakukan perbuatan keji atau berbuat aniaya terhadap diri, maka mereka memohon ampunan Allah, dan siapakah yang mengampuni dosa-dosa selain Allah.Dan mereka tidak terus menerus melakukan dosa sedang mereka mengetahui”.QS:3:133-135.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa sebagai kecerdasan spiritual sangat berperan dalam membangun kecerdasan emosional, dan membuka jalan yang luas untuk menghasilkan kecerdasan intelektual.Allah berfirman:&lt;br /&gt;“…Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah mengajari kalian,dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.QS:2:282.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan yang integral membangun kepahaman yang jelas, utuh, dan benar terhadap manhaj Islam, persoalan dakwah, dan sangat membantu menemukan solusi dan format penyelesaian segala persoalan sesuai manhaj islami sejalan situasi dan kondisi yang ada, serta strategi-strategi guna memenangkan dakwah Islam sesuai amanat risalah ilahiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang pasti soliditas adalah anak yang lahir dari rahim kecerdasan.Tanpa soliditas maka segala format dan strategi dakwah tidak akan memberi hasil yang optimal, atau tidak sama sekali, bahkan mungkin menimbulkan kerugian.Soliditas individu dapat meredam fitnah dunia yang sangat berpotensi menimbulkan insoliditas kolektif sebagaimana yang pernah menimpa para sahabat sehabis perang Badar seperti dikisahkan didalam surat Al-Anfaal ayat satu sampai empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://pandukeadilan.org&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5825319816638485702?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5825319816638485702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/03/pandu-qurani-bagian-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5825319816638485702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5825319816638485702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/03/pandu-qurani-bagian-3.html' title='Pandu Qurani (bagian 3)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6804844436058417469</id><published>2011-02-28T21:52:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T22:01:01.138-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Sudahkah Kita Tarbiyah ?</title><content type='html'>Tarbiyah mungkin saja telah akrab dengan kehidupan anda. Tetapi apakah sesungguhnya kita telah tarbiyah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pula ia telah menjadi bagian terpenting dalam hidup anda. Atau mungkin ia telah memakan waktu harian anda. Mungkin anda bekerja di lingkungan tarbiyah. Mungkin anda berbisnis di lingkungan tarbiyah. Berolahragapun di lingkungan tarbiyah. Mungkin anda berkeluarga di keluarga tarbiyah. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Mungkin anda mengajar di halaqoh tarbiyah. Mungkin anda memimpin di lembaga-lembaga tarbiyah. Mungkin saja kita menjadi kaya dengan pengaruh tarbiyah. Mungkin saja kita berpengaruh karena kesempatan yang diberikan tarbiyah. Bisa saja kita memimpin dengan rekayasa tarbiyah. Atau kita menjadi tokoh dengan toleransi tarbiyah. Tetapi apakah sesungguhnya kita telah tarbiyah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sudahkah saya tarbiyah?. Sebuah pertanyaan yang tidak saja penting untuk dijawab, melainkan juga – bahkan – menentukan sebagian masa depan saya. Masa depan tarbiyah saya dan masa depan saya secara umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tahun menikmati tarbiyah sampai saatnya sampai pada satu titik. Satu titik yang mempertanyakan apakah sesungguhnya saya sudah tarbiyah. Saya menggunakan kata ‘sesungguhnya’ karena saya kira saya memang harus menggunakannya. Apakah saya sudah tarbiyah bukan karena saya telah memiliki murabbi. Bukan pula karena saya telah memiliki halaqoh. Bukan juga karena saya telah menjadwal liqo pekanan. Dan bukan karena aspek ‘formal’ lainnya. Namun lebih kepada apakah saya telah berubah? Apakah saya telah memiliki kemampuan mengubah? Sejauh apakah saya telah merasakan sakitnya perubahan? Sejauh apa kerelaan saya untuk berubah? Atau saya tetaplah saya yang dulu? Tak berubah karena tarbiyah dan tak mengubah dengan tarbiyah. Benarkah tarbiyah saya? Dan benarkah saya sudah tarbiyah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertanyakan apakah saya telah tarbiyah adalah sesuatu yang tak terhindarkan pada saat materi tarbiyah relatif telah kumpul, ketika pengalaman telah cukup mewarnai cara pandang, ketika murabbi telah beberapa kali berganti, dan ketika halaqoh telah bervariasi. Dan yang terpenting adalah ketika saya mencoba menatap masa depan. Benarkah saya telah tarbiyah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada satu ‘materi’ dalam diskusi kecil-kecilan antara seorang pelatih dengan salah satu pemain senior sebuah kesebelasan sepakbola. Diskusi kecil itu mencoba membuat analisis sebab-sebab seorang pemain sepak bola tidak mampu menjalankan instruksi pelatih. Menurut salah seorang pemain yg sudah senior – yang diiyakan oleh pelatih - ada tiga sebab mengapa seorang pemain tidak mampu menerjemahkan instruksi pelatih di lapangan. Sebab pertama, seorang pemain tidak faham dengan apa yang dimaui pelatih. Ketidaktahuan seorang pemain membuatnya banyak membuat kesalahan. Sebab kedua adalah seorang pemain sudah mengalami kelelahan. Sehingga meski ia tahu apa yang harus dikerjakannya, ia tetap tidak mampu menunaikan tugas dan perannya dengan baik. Sebab ketiga adalah seorang pemain malas atau menentang instruksi pelatih dengan berbagai alasan. Misalnya karena perbedaan persepsi, perbedaan pendapat atau perbedaan tujuan. Ketidakmampuan jenis ini dilakukan oleh pemain dengan kesadaran penuh untuk membangkang instruksi pelatih. Disebabkan oleh satu, dua atau ketiga hal di atas seorang pemain potensial melakukan kesalahan di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kompetisi sepakbola, pemain yang bersinar hanyalah mereka yang cerdas, kuat dan bertanggungjawab. Dunia da’wah kita juga merupakan dunia kompetisi. Hanya mereka yang terberdayakan yang akan senantiasa siap memikul beban da’wah. Beban da’wah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimananya da’wah. Tim da’wah ini membutuhkan anggota tim yang cerdas, qowwi, matin dan bertanggungjawab. Karakter tersebut hanya didapatkan dengan cara tarbiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarbiyah yang kita jalani memiliki kesempatan untuk memperbaiki, mengembangkan, dan mengokohkan kita. Artinya kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi, Sudahkah Kita Tarbiyah?&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=202500053133&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6804844436058417469?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6804844436058417469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/02/sudahkah-kita-tarbiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6804844436058417469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6804844436058417469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/02/sudahkah-kita-tarbiyah.html' title='Sudahkah Kita Tarbiyah ?'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-1328805819029225083</id><published>2011-02-28T20:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T20:42:02.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>TARBIYAH bukan HANYA Liqa</title><content type='html'>Beberapa tahun yang lalu, ada seorang ikhwah yang tergolong biasa-biasa saja. Ia memang aktif tetapi kapabilitas keilmuannya tidak begitu menonjol. Ia masih sangat canggung dalam menyampaikan ceramah di hadapan khalayak umum, kurang percaya diri jika memberi taujih pada majlis yang dihadiri banyak kader. Ia juga termasuk ikhwah yang pemalu, terlebih jika harus berhadapan dengan target Ziswaf Ramadhan. Maka, ia pun menempati urutan bawah prestasi kader dalam tugas ke-amil-an tersebut.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Lalu bagaimana ia (baca: beliau) kini? Subhaanallah. Kini beliau menjadi salah seorang mas’ul dakwah di tingkat daerah. Ceramahnya tidak sekedar terkesan sangat percaya diri, namun juga memiliki daya magnetis bagi pendengarnya. Banyak kajian yang kini dikelolanya, baik di instansi perusahaan, kampung, dan sering juga di kampus. Taujih-taujihnya di depan ikhwah juga dinanti, oleh sebagian ikhwah beliau juga ditempatkan sebagai pemateri tatsqif terfavorit. Bagaimana dengan target Ziswaf Ramadhan? Jangan ditanya, sebab beliaulah yang pada tahun lalu menjadi ikhwah terbaik pada tugas dakwah itu.&lt;br /&gt;demikianlah seharusnya kader dakwah dalam tarbiyah. Semakin hari semakin lebih baik. Bertambahnya usia tarbiyah seseorang, sudah selayaknya berbanding lurus dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Kualitas Ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita telah hafal dengan hadits “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung, siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi. Dan siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin maka ia celaka” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika seorang ikhwah sejak pertama masuk tarbiyah beberapa tahun lalu kualitasnya ibadahnya tetap saja ala kadarnya: qiyamullail seminggu sekali; shalat jamaah hanya Maghrib; tilawah masih satu juz sepekan (???) puasa sunnah tidak pernah, lalu bagaimana ia bisa lepas dari kerugian dan kecelakaan yang digambarkan Rasulullah? Bagaimana pula kita bisa memperoleh kemenangan sementara hubungan kita dengan Sang Pemberi kemenangan demikian jauh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk poin penting yang perlu diperhatikan banyak ikhwah adalah kualitas tilawah kita! Bagi kita yang telah ditarbiyah bertahun-tahun tapi tilawahnya (afwan) masih “gratul-gratul”, tidak lancar, dan banyak melanggar kaidah tajwid, hendaknya menyadari bahwa kita belum berhasil bertumbuh dan berkembang dalam tarbiyah. Bukankah masyarakat yang kita dakwahi adalah masyarakat yang sangat sensitif terhadap kualitas tilawah? Maka tidak heran jika seorang ikhwah “ditolak” oleh komunitas tertentu dengan komentar yang sangat tidak mengenakkan institusi tarbiyah “Lha wong bacaan Qur’annya amburadul seperti itu kok mau ngajari ngaji kita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Tsaqofah Islamiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu ana ngisi kajian di sebuah wajihah. Ketika ana ajukan pertanyaan mengenai perjanjian hudaibiyah ternyata tidak seorang pun mampu menjawabnya. Padahal, wahijah itu merupakan wajihah yang ‘selayaknya’ paling kredibel dalam keilmuan. Ana kemudian bertanya, lalu bagaimana dengan kualitas mereka yang ada di pedesaan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu seringkali kita dihadapkan pada dialog antar harokah (hiwar haroki) yang menuntut kita untuk menjawab segala pertanyaan dengan pendekatan ilmiah. Bahkan kadang kita juga akan menghadapi tipe obyek dakwah yang kritis dan membutuhkan jawaban kita terhadap apa yang menjadi problematika mereka. Umumnya pertanyaan mereka masuk dalam domain fiqh, adakalanya juga pendekatan ideologi. Maka, kader yang telah bertumbuh dalam tarbiyah tidak akan kesulitan ketika ditanya mengapa kita ikut dalam demokrasi: di mana akar kebenaran demokrasi dalam perspektif Islam?&lt;br /&gt;Perkembangan Kapasitas Kepemimpinan dan Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya kita anggota Dewan atau eksekutif? Kadang pertanyaan itu muncul ketika kita menyinggung dua hal penting ini; kepemimpinan dan Politik. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya”. Dalam kesempatan lain beliau juga memberikan batasan komunitas muslim “Man lam yahtamma biamril muslimiin laisa minhum” (barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka). Menegaskan hal ini Hasan Al-Banna mengatakan “Seorang belum menjadi mukmin yang sempurna sebelum menjadi politisi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah pemimpin dan kita harus menguasai politik; sesuai kapasitas kita masing-masing. Lebih-lebih bagi mereka yang memang diamanahi di struktur dalam dakwah ini. Masyarakat akan melihat bagaimana kemampuan kita memimpin masyarakat. Masyarakat juga kerap bertanya bagaimana sikap politik kita maupun solusi yang kita tawarkan terhadap problematika dan kasus tertentu.&lt;br /&gt;Mayoritas masyarakat telah mengakui bahwa kita baik; bahwa jamaah ini adalah kumpulan banyak kader yang sholih. Masyarakat juga melihat bahwa kita memang punya kepedulian sangat tinggi pada mereka, terutama jika terjadi musibah atau bencana. Namun semua itu belum cukup untuk membuat mereka menjatuhkan pilihannya pada kita. Kebaikan dan bakti sosial yang kita lakukan baru membentuk citra kebaikan dan itu membuat masyarakat mengidentikkan jamaah kita seperti LSM atau yayasan. Masyarakat masih menunggu bukti-bukti kemampuan kepemimpinan ikhwah dan kepiawaian kita dalam berpolitik. Alhamdulillah, itu sudah mulai berjalan khususnya bagi para ikhwah yang ada di eksekutif. Dan, semoga kita termasuk yang mendukung pencitraan “profesional” itu.&lt;br /&gt;Apa Kuncinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jamaah ini telah menyediakan sarana dan fasilitas bagi kita untuk bertumbuh dan berkembang. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya. Apa itu? Itulah “wasailut tarbiyah” perangkat-perangkat tarbiyah. Bukan hanya halaqah, di sana juga ada daurah/training, tatsqif, mabit, mukhoyam, dll. Terkadang, banyak ikhwah yang kurang responsif terhadap wasailut tarbiyah itu. Salah satunya indikasinya adalah minimnya kehadiran di tastqif, mabit, dan daurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;so, ternyata tarbiyah bisa membuat hidup kita lebih bermakna, tapi ternyata proses tarbiyah itu bukan hanya sekedar hadir LIQA. Meski kehadiran di LIQA merupakan salah satu indikasi proses tarbiyah yg baik.&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=212664723133&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-1328805819029225083?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/1328805819029225083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/02/tarbiyah-bukan-hanya-liqa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1328805819029225083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1328805819029225083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/02/tarbiyah-bukan-hanya-liqa.html' title='TARBIYAH bukan HANYA Liqa'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-7228552020516060</id><published>2011-01-19T22:37:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T22:02:50.737-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Bencana Bagi Dakwah</title><content type='html'>Ketika da’wah harus mampu menjangkau dan menggerakkan seluruh unsur masyarakat, maka pembesaran jumlah aktifis/kader sebagai anashir da’wah menjadi mutlak diperlukan. Dan ketika misi da’wah juga harus mampu menghasilkan perubahan-perubahan besar di berbagai aspek kehidupan, maka peningkatan kualitas kader menjadi suatu keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan antara aspek kuantitas dan kualitas inilah yang digambarkan Allah SWT dalam ayat :”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa (rabbaniyyin), mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar (3/146). &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kualitas kader dalam kehidupan da’wah harus senantiasa mengikuti kebutuhan marhaliyah (tahapan) dan mihwar (era) da’wah. Semakin meningkat marhalah dan semakin meluas mihwar da’wah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi da’wah. Apa saja bentuk bencana itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqomah didalam mengikuti irama perjalanan da’wah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas da’wah. Hendaknya kita selalu mengingat satu ayat yang membuat rambut Rasul SAW beruban :”Maka istiqomahlah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (11/112). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran untuk menggapai janji-janji Allah adalah kunci rahasianya. ”Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (18/128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan kehidupan da’wah sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan da’wah ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung menjadi orang yang ingin ”hidup dari da’wah” dan bukan ”menghidupkan da’wah”. Perhatikan firman Allah :”Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diraih dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka bersumpah dengan (nama) Allah ’Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu’. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka sesungguhnya benar-benar orang-orang yang berdusta (9/42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, munculnya ketidakmampuan didalam menjalankan misi da’wah di tengah-tengah masyarakat. Ini karena ISITI'AB (daya dukung dan daya topang) yang dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan da’wah yang semakin terbuka. Allah SWT mengarahkan Rasulullah SAW untuk menyiapkan diri sedemikian rupa agar mampu mengemban misi da’wah yang besar &amp; berat. (74/1-7). Dalam hal ini ada tuntutan bagi para kader da’wah untuk senantiasa membekali dirinya dengan bekal-bekal utama da’i khususnya bekal ruhiyah ma’nawiyah dan amaliyah ta’abudiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, akibat dari ketiga hal diatas, da’wah menjadi disibukkan oleh problematika internal yang menguras energi da’wah, sehingga tidak mampu menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama da’wah adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata. ”...Dan aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali (11/88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara harapan besar masyarakat dengan apa yg bisa diberikan oleh da’wah. Lalu terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi juga akan diramaikan oleh sejumlah kasus-kasus negatif yang dilakukan kader yang muncul ke permukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada kondisi inilah, akan muncul pikiran di sebagian kader yang lemah untuk menarik kembali da’wah ke belakang. Mereka merasa lebih nyaman ketika da’wah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka. Cukuplah pelajaran dari kisah perang Uhud berikut ini : ”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Dan mereka berkata :”janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas yang terik ini”. Katakanlah :”api neraka jahannam itu lebih sangat panas”, jikalau mereka mengetahui (9/81).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bencana yang bisa terjadi pada da’wah manakala aspek kualitas diabaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-7228552020516060?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/7228552020516060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/01/bencana-bagi-dakwah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7228552020516060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7228552020516060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2011/01/bencana-bagi-dakwah.html' title='Bencana Bagi Dakwah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6889142619841208815</id><published>2010-10-25T21:00:00.000-07:00</published><updated>2011-02-28T22:03:46.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Masuk Islamnya Ikrimah Putra Abu Jahal</title><content type='html'>Siapa yang tidak kenal Ikrimah? Putra Abu Jahal ini demikian keras memusuhi Rasulullah saw. Bahkan, aktif mengangkat senjata bersama pasukan kaum musyrikin Makkah menyerang kaum Muslimin Madinah. Namun keadaan berbalik saat Rasulullah saw. bersama pasukan Muslimin mengepung Makkah. Ikrimah sadar betul, jika Makkah jatuh dalam penguasaan Rasulullah saw., keselamatannya terancam. Pasti ia akan dieksekusi atas semua kejahatannya terhadap kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika Rasulullah saw. berhasil menaklukkan kota Makkah, Ikrimah berkata, “Aku tidak akan tinggal di tempat ini!” Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata, “Hendak kemana kamu, wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka isteri Ikrimah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman kerana ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. menjawab, “Dia akan berada dalam keadaan aman!” Mendengar jawaban itu, isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya, “Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah bertanya, “Apakah yang harus aku ikhlaskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad adalah utusan Allah!” kata pengemudi kapal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah menjawab, “Tidak, justru aku melarikan diri adalah karena ucapan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu datanglah isterinya. “Wahai Ikrimah, putera bapak saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah bertanya kepada isterinya, “Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isterinya menjawab, “Benar, aku telah berbicara dengan beliau dan beliau pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendengar berita itu, di malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan hubungan suami-isteri dengan isterinya. Tetapi isterinya menolak. Istrinya berkatam “Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah berkata, “Penolakan kamu itu adalah masalah besar bagi diriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka tiba di Makkah. Mendengar berita bahwa Ikrimah sudah pulang, Rasulullah saw. menemuinya. Saking gembiranya Rasulullah saw. sampai lupa memakai serbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan Ikrimah, Rasulullah saw. duduk. Ketika itu Ikrimah ditemani isterinya. Ikrimah berikrar, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ikrar Ikrimah itu, Rasulullah saw. sangat gembira. “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan,” kata Ikrimah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. menjawab, “Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah kembali bertanya, “Selepas itu apa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah berkata, “Aku memohon kepadamu, ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu, dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah saw. pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu, dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku maupun tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar doa Rasulullah saw. itu, alangkah senangnya hati Ikrimah. Ketika itu juga ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersumpah, demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah tekad Ikrimah setelah memeluk Islam. Dan itu ia buktikan dengan selalu ikut dalam setiap peperangan. Salah satunya Perang Yarmuk. Di perang ini Ikrimah ikut sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Khalid bin Walid berkata, “Jangan kamu lakukan hal itu. Karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah menjawab, “Wahai Khalid, engkau telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah saw., maka biarlah hal ini aku lakukan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah tetap pada pendiriannya. Ia bertempur dengan gigih hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Di tubuhnya terdapat sekitar tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak, dan anak panah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud berkata, “Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, masing-masing mereka berkata, ‘Berikan air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain ditambahkan, sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut. Akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula. Ikrimah berkata, “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata, “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja. Barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka. Sehingga tidak seorangpun di antara mereka yang meminum air tersebut. Ketiganya mati syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Ikramah mendapatkan kesyahidannya. Sungguh berbeda sekali dengan ayahnya, Abu Jahal, yang mati dalam kekafiran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6889142619841208815?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6889142619841208815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/10/masuk-islamnya-ikrimah-putra-abu-jahal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6889142619841208815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6889142619841208815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/10/masuk-islamnya-ikrimah-putra-abu-jahal.html' title='Masuk Islamnya Ikrimah Putra Abu Jahal'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-2365996291767021125</id><published>2010-10-24T00:47:00.000-07:00</published><updated>2011-02-28T22:04:21.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>L U P A</title><content type='html'>Di surga yang tanpa lapar dan tanpa ketelanjangan, pada mulanya Adam hidup damai dan tenteram. Ditemani istrinya, yang diciptakan untuk mengusir sepi dan membuat hidupnya tidak sendiri. Adam benar-benar dalam puncak kebahagiaan, “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thoha: 118-119).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tetapi sesudah itu, Adam, bapak kita dan pemula seluruh umat manusia megawali sejarah penting kehadirannya di bumi dengan lupa. Allah berfirman, ”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thoha: 115). Jadi lupa adalah salah satu identitas terpenting kemanusiaan kita. Kita manusia maka kita lupa. Kita lupa maka kita manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam lupa karena ia diciptakan sebagai manusia. Ini adalah lupa prosedural. Maksudnya, lupa itulah jalan yang harus ia lalui sebelum menjalankan tugas di muka bumi. Maka, dalam hadits shahih riwayat Bukhari, ketika suatu saat Musa menyalahkan Adam dalam sebuah dialog, Adam menegaskan posisinya sebagai bagian dari skenario besar Allah. Dan Musa pun tidak berkutik dengan jawaban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, “Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa: “Wahai Adam, engkau adalah nenek moyang kami, engkau telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab: “Engkau Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?” Rasulullah bersabda: “Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu manusia-manusia pilihan yang diangkat Allah menjadi Rasul juga pernah lupa. Musa lupa dengan komitmen untuk tidak bertanya kepada Khidir. “Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al Kahfi: 73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW, suatu saat pernah lupa shalat dhuhur lima rakaat. Itu lupa yang kemudian melahirkan syariat ibadah. Yaitu bagaimana tatacara ibadah bila ada yang lupa. Dalam fikih kita kemudian mengenal yang disebut dengan sujud sahwi, artinya sujud karena ada yang lupa kita lakukan, karena kelebihan atau kurang dalam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa Konstruktif dan Dekstruktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa memiliki dua dimensi, lupa konstruktif dan lupa dekstruktif. Lupa konstruktif adalah anugerah. Bahkan menjadi salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada kita. Dengan lupa kita tidak selamanya teringat keburukan yang telah dilakukan orang lain kepada kita. Kita lupa agar kita memberi maaf, saling berbagi dan merelakan. Lupa adalah anugerah yang membuat kita bisa menjauhkan amarah yang bisa bersemayam abadi. Lupa adalah anugerah yang membuat kita bisa lari dari syaitan yang terus mengobarkan dengki. Lupa adalah anugerah, yang membuat kita bisa memulai banyak hal baru bersama orang lain, dengan suasana baru yang lebih segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa adalah anugerah, yang membuat kita tidak terlampau mengingat-ingat kebaikan yang telah kita perbuat. Yang bisa membuat kita riya’, sombong dan berbangga berlebihan. Sesuatu yang menghalangi seseorang dari surga. Lupa adalah anugerah, yang membuat kita tidak terbelenggu oleh ingatan akan kelelahan dan kepayahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sengsaranya orang yang tidak bisa lupa. Seperti mereka yang terkena penyakit hyperthymestic syndrome. Yaitu suatu penyakit di mana orang bisa mengingat secara detail seluruh peristiwa yang pernah dialaminya. Bila disebut suatu tanggal dari bulan tertentu, maka ia akan menjelaskan semua yang pernah ia alami atau lakukan. Di dunia ini konon ada tiga orang. Yaitu Brad Williams, seorang perempuan berinisial A.J, keduanya di California, dan satu orang lagi laki-laki di Ohio. A.J merasa sangat tertekan dengan kondisinya karena ia ingin melupakan hal-hal yang remeh dan tidak penting yang pernah ia saksikan. Dr. James, yang menangani terapinya, pernah menanyakan apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1987, dan A.J menjawab dengan baik, termasuk menjawab apa yang sedang terjadi di dunia seperti yang ramai diberitakan oleh media pada hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa destruktif adalah lupa yang melahirkan kerusakan. Dan itu harus dijauhi. Lupa destruktif biasanya adalah akumulasi dari mental dan perilaku menyimpang. Seperti perasaan malas beribadah, angkuh kepada Allah, menyukai kefasikan, akhirnya perlahan-lahan semua itu melahirkan kelupaan kepada kewajiban. Puncak dari semua kefasikan yang melupakan adalah lupa akan hari akhir, lupa akan hari perhitungan, dan itulah seburuk-buruk lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185061778133&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-2365996291767021125?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/2365996291767021125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/10/l-u-p.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2365996291767021125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2365996291767021125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/10/l-u-p.html' title='L U P A'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-9031440004901334694</id><published>2010-10-24T00:41:00.000-07:00</published><updated>2011-02-28T22:05:02.511-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Bergeraklah, tapi Bukan asal Gerak</title><content type='html'>Ada rambu penting yang harus diperhatikan dalam bergerak dan beraktivitas. Karena tidak sedikit sebuah aktivitas yang sudah diawali dengan niat yang baik, akan rusak di tengah jalan. Banyak pilihan langkah yang dimulai dengan keinginan dan maksud yang mulia, namun nilai-nilai itu tercemar saat rencana tengah digulirkan. Mungkin kita pernah mendengar, sebuah kegiatan yang baik semisal peringatan hari besar nasional dan agama yang dilakukan untuk tujuan yang baik, tapi dinodai oleh aktivitas yang tidak baik. Sebuah gerak perintisan jaringan bisnis untuk memperkuat ekonomi umat, tapi terjerat oleh gurita permainan dunia yang justru melalaikan keakhiratan. Atau malah terjerat oleh lemahnya mental kita menghadapi uang. Sebuah langkah melibatkan diri dalam kancah politik untuk memberi sumbangsih positif bagi perbaikan masyarakat, tapi kemudian terbawa oleh arus permainan kotor di dunia politik, atau makin menipisnya sikap kritis. Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ini adalah warning, agar setiap orang tidak gegabah dalam melakukan sebuah gerak. Tapi tidak benar juga bila tidak mau bergerak sekadar karena takut mengalami penyimpangan dan kekeliruan saat melakukannya. Dalam bingkai psikologi, rasa takut dan khawatir akan kekeliruan dalam melakukan sebuah aktivitas sebenarnya bisa menjadi energi positif untuk lebih berhati-hati dan waspada. Justeru tanpa rasa takut dan khawatir seseorang bisa sembrono dalam berkerja. Hanya saja, perasaan takut dan khawatir salah seperti itu akan berubah menjadi masalah jika dilakukan berlebihan. Hingga menjadikan seseorang tak mau bergerak, mengurung dan membatasi diri, tak berani melangkah, tidak percaya diri, negative thinking, sulit mengembangkan diri bahkan pesimis dalam hidup karena takut risikonya. Di sinilah bahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah pilihan. Sedang pilihan adalah gerak itu sendiri yang pasti memiliki risiko atau kemungkinan salah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa manusia adalah tempatnya dosa dan kealpaan. Bukan berarti semua orang boleh bergelimang salah dan gagal, tapi dalam hadits itu terkandung pesan agar kita bisa meminimalisir kesalahan dan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya, sebelum bergerak dan menentukan suatu langkah, kita mengidentifikasi berbagai risiko yang kemungkinan terjadi, Islam mengajarkan tawakkal setelah ikhtiar. Ikhtiar adalah upaya maksimal yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam ikhtiar ada unsur pendalaman ide, penelitian dan analisa, pertimbangan yang matang, kerja keras, melakukan pengelolaan yang baik, meminimalisir kesalahan, menumbuhkan gerak yang sehat dengan dukungan mentalitas dan ruhani yang baik. Setelah itu, tawakkal dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dalam tawakkal, kesiapan seseorang menerima berbagai keadaan setelah beruaha sebaik mungkin, ada dalam kata ridha. Ridha kepada apapun yang ditentukan Allah SWT. “Ikat untamu, kemudian tawakal,” begitu pesan Rasulullah saw yang menggambarkan keharusan ikhtiar sebelum tawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bergerak, seandainya melakukan kesalahan, jangan menyesalinya berlarut-larut hingga membuat diri tidak berdaya untuk berbuat yang lebih baik. Bukan menganggap ringan kesalahan, tapi kita harus berusaha agar sebuah risiko negatif bisa menjadi awal keadaan yang lebih baik. Kesalahan dan kekeliruan akan menjadi pengalaman baru, persepsi baru, pengetahuan baru, untuk digunakan di masa selanjutnya. Tapi tetap ingat, jangan asal bergerak. &lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=185917473133&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-9031440004901334694?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/9031440004901334694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/10/bergeraklah-tapi-bukan-asal-gerak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/9031440004901334694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/9031440004901334694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/10/bergeraklah-tapi-bukan-asal-gerak.html' title='Bergeraklah, tapi Bukan asal Gerak'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-1087761156616642109</id><published>2010-07-03T02:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T02:33:31.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Anas bin Malik</title><content type='html'>” اللهم ارزقه مالاً وولداً ، وبارك له&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik&lt;br /&gt;Ya Allah berilah dia harta dan anak dan berkahilah. (Doa Rosul)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik sejak usia belianya telah mendapat talqin dua syahadat dari ibunya Al ghumaisho’, sejak itu tumbuhlah kecintaan hatinya yang bersih kepada Rasul SAW, bersemangat untuk mendengar langsung darinya, tidak heran kalau kadang telinga lebih awal merindukan dari pada penglihatan. Sudah lama anak kecil ini mendambakan bertemu langsung dengan Rasul di Mekah atau di Yatsrib sehingga ia dapat bahagia dengan pertemuannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tidak berselang waktu yang lama, Yatsrib dibahagiakan oleh kedatangan Rasulullah dan sahabatnya As Siddiq yang sudah lama di damba-dambakan. Maka tidak satu pun keluarga dan hati penduduk Madinah yang tidak berbahagia. Saat itu semua pemuda menyebarkan berita setiap pagi bahwa Rasulullah SAW akan tiba di Yatsrib. Anas bin Malik bersama anak-anak yang lain yang berusaha ingin bertemu dengan Rasulullah, namun ketika belum berhasil menemuinya ia sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pagi yang indah yang menyebarkan keharuman, masyarakat berteriak-teriak, bahwa Muhammad dan sahabatnya telah dekat dari kota Madinah, semua orang berusaha menyambut kedatangan Nabi SAW. Begitu juga anak-anak, mereka berlomba-lomba ikut menyambut Rasulullah dengan hati yang diliputi kegembiraan yang meluap-luap dan wajah yang berseri-seri, maka di antara anak-anak itu adalah Anas bin Malik. Sementara para wanita  telah berada di atas rumah mereka, menunggu dan berusaha melihat wajah Rasulullah SAW. Hati mereka berkata: “Mana yang orangnya yang disebut Rasul?” Sungguh hari itu adalah hari yang bersejarah. Peristiwa ini terus dikenang oleh Anas sampai usianya hampir seratus tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama Rasul tinggal di Madinah, datanglah seorang wanita  bernama Al Ghumaiso’ binti Milhan menemui Rasulullah SAW bersama putranya Anas bin Malik, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا رسول الله .. . لم يبق رجُلٌ ولا امرأةٌ من الأنصار إلا وقد أتحفك بتُحفَةٍ ، وإني لا أجدُ ما أُتحِفُكَ به غير ابني هذا . .. فخُذْهُ ، فليخدمك ما شئت . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasul, tidak satu pun seorang laki-laki dan perempuan dari Anshar ini, kecuali telah memberi hadiah kepadamu, dan sesungguhnya Aku tidak memiliki apa yang dapat aku berikan kepadamu kecuali anakku ini…. maka ambillah anak ini agar dia dapat membantumu kapan Anda mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergugahlah Rasul untuk menerimanya, beliau mengusap kepalanya dan menyatukannya dengan keluarganya. Saat itu umur Anas sepuluh tahun, saat kebahagiaannya dapat menjadi pembantu Rasul, dan hidup terus bersama Rasulullah sampai Rasul kembali kepada Allah. Adalah masa hidupnya menjadi pembantu Rasul selama sepuluh tahun. Kondisi ini sangat dimanfaatkan oleh Anas untuk menimba langsung hidayah dari Rasul, memahami semua sabdanya, mengetahui sifat-sifatnya dan keutamaannya yang tidak dapat diketahui oleh selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas berkata: “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling baik akhlaqnya, lapang dadanya, dan banyak kasih sayangnya. Suatu saat beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, ketika aku berangkat aku tidak menuju ke tempat yang Rasul inginkan, namun aku pergi ke tempat anak-anak-anak yang sedang bermain di pasar ikut bermain bersama mereka. Ketika aku telah bersama mereka aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku dan menari bajuku, maka aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah dengan senyum beliau menegurku: “Ya Unais (panggilan kesayangan) apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?” Aku gugup menjawabnya: Ya, ya Rasul, sekarang aku akan berangkat. Demi Allah aku telah menjadi pembantunya sepuluh tahun, tidak pernah aku mendengar ia menegurku: “Mengapa kamu lakukan ini dan itu, atau mengapa kamu tidak melakukan ini atau itu?””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adalah Rasulullah SAW jika memanggilnya selalu memanggilnya dengan panggilan rasa sayang dan memanjakan yaitu dengan memanggilnya dengan kata Unais atau ya bunayya. Begitu juga Rasulullah banyak menasihatinya sampai memenuhi hati dan otaknya. Di antara nasihat-nasihatnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( يا بُنيَّ إن قدرت أن تُصبح وتُمسي وليس في قلبك غش لأحد فافعل . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya bunayya jika engkau mampu setiap pagi dan sore hatimu bersih dari perasaan dengki kepada orang lain maka lakukanlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا بُنيَّ إنَّ ذلك من سُنتي ، ومن أحيا سُنتي فقد أحَبَّني .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن أحَبَّني كان معي في الجنة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya bunayya sesungguhnya hal itu adalah sunnahku, barang siapa menghidupkan sunnahku maka mencintaiku, barangsiapa mencintaiku akan bersamaku di surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا بُني إذا دخلت على أهلك فسلم يكن بركَةً عليك وعلى أهل بيتك )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya bunayya jika engkau menemui keluargamu maka berilah salam niscaya akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi keluargamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik hidup setelah wafatnya Rasulullah SAW sekitar delapan puluh tahun lebih. Dadanya dipenuhi ilmu yang langsung diambil dari Rasulullah. Otaknya tumbuh dengan pemahaman kenabian. Oleh karena itu sepanjang umurnya menjadi rujukan umat Islam, tempat umat bertanya, setiap menghadapi permasalahan sulit dan tidak diketahui hukumnya. Suatu saat terjadi perdebatan tentang keberadaan telaga Nabi nanti di hari kiamat. Maka mereka bertanya kepada Anas tentang masalah ini. Beliau menjawab: “Aku tidak mengira hidup dalam kondisi mendapatkan kalian mendiskusikan tentang telaga. Sungguh aku telah meninggalkan para wanita tua di belakangku, tidaklah di antara mereka shalat kecuali mereka berdoa agar dapat minum dari telaga nabi tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya Anas sepanjang hidupnya selalu mengenang kehidupan Rasulullah. Adalah Anas selalu riang setiap kali bertemu dengan Rasulullah, sangat sedih di saat perpisahan, banyak mengulang-ulang sabdanya, sangat perhatian mengikuti perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya, menyenangi apa yang disenangi dan membenci apa yang dibenci, dan hari yang paling berkesan baginya karena dua peristiwa: Hari yang pertama ia bertemu dengan Rasulullah dan hari saat berpisah dengan Beliau. Apabila terkenang hari yang pertama beliau berbahagia, dan apabila terkenang hari yang kedua terharu yang membuat orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. Beliau sering berkata: “Sungguh saya melihat Nabi SAW pada hari pertama bersama kita, dan hari pada saat wafatnya, maka tidaklah aku melihat dua hari itu ada kemiripan. Maka pada hari saat masuk ke Madinah menyinari segala sesuatu. Dan pada hari hampir wafatnya, jadilah Madinah kota yang gelap. Terakhir aku melihat Rasulullah SAW pada hari senin ketika tabir di kamarnya di buka, maka aku melihat wajahnya seperti kertas mushaf, para sahabat saat itu berdiri di belakang Abu Bakar melihatnya, hampir-hampir mereka bergejolak kalau saja Abu Bakar tidak menenangkan mereka. Pada hari itulah Rasulullah SAW wafat, maka tidaklah kami melihat pemandangan yang sangat mengherankan dari pada melihat wajah Rasulullah SAW harus diuruk dengan tanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Rasulullah SAW sering mendoakan  Anas bin Malik. Di antara doanya: ( اللهم ارزقه مالاً وولداً ، وبارك له )  “Ya Allah berilah rezki kepadanya harta dan anak, dan berkahilah.” Dan sungguh Allah telah mengabulkan doanya, jadilah Anas orang yang kaya di kalangan Anshar, dan paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia panjang umur dan hidup bersama cucu-cucunya lebih dari seratus orang. Dan umurnya mencapai seratus tahun lebih. Dan adalah Anas, sahabat yang sangat mengharapkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat, sering sekali ia mengatakan: “Aku berharap dapat bertemu Rasulullah pada hari kiamat dan mengatakan kepada Rasulullah SAW, ya Rasul inilah saya yang dulu menjadi pembantumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anas sakit menjelang kematiannya, dia berkata kepada keluarganya: “Tuntunlah aku untuk membaca laailaaha Illallah.” Begitulah ia mengulang-ulangnya sampai datang ajalnya. Beliau pernah berwasiat agar tongkat kecil milik Rasul dikuburkan bersamanya, maka diletakkanlah di antara lambungnya. Selamat bagi Anas, yang telah dikaruniai oleh Allah dengan berbagai macam kebaikan. Total masa hidup Anas bersama Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Beliau berada di ranking ketiga di dalam meriwayatkan hadits, setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Semoga Allah membalasnya dan ibunya atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-1087761156616642109?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/1087761156616642109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/07/anas-bin-malik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1087761156616642109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1087761156616642109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/07/anas-bin-malik.html' title='Anas bin Malik'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5429441572028480114</id><published>2010-07-03T02:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T02:35:51.951-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Bersiaga Menanti Tugas</title><content type='html'>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan merupakan anugerah Allah swt. yang sangat berharga. Ia juga menjadi harapan orang yang sedang berjuang. Bagi mereka yang berada di medan juang kemenangan amat dinanti-nanti segera tiba. Mereka ingin kemenangan itu jadi dekat. Akan tetapi perlu diketahui bahwa kemenangan tidak akan datang secara ujug-ujug. Melainkan ada beberapa persoalan yang patut untuk dilakukan agar bisa menghadirkannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kemenangan bagian dari ketentuan Allah swt. atas urusan hamba-Nya (Qudratullah). Dia yang Maha Tahu akan nasib yang dialami ciptaan-Nya. Dia pula yang berhak untuk memberikan kemenangan ataupun menundanya. Kemenangan dari Allah swt. pasti datangnya baik di dunia ataupun akhirat. Sehingga tidak ada kamus kekalahan di hati para pejuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemenangan itu datang dengan jalan-jalan yang akan memuluskan kehadirannya. Melalui upaya maksimalitas manusia (ikhtiyar basyariyah). Adapun mereka yang telah melakukan upaya yang maksimal untuk mencapai prasyarat kemenangan, maka kemenangan menjadi haknya. Oleh karena itu ikhtiyar basyariyah juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan oleh mereka yang menunggu-nunggu kemenangan. Ikhtiyar basyariyah yang optimallah yang perlu dibangun dalam perjuangan ini agar kememangan itu menjadi hak yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila para dai yang sedang berada di barisan terdepan dalam medan perjuangan ini memahami akan hakikat kemenangan dari dua hal di atas, maka sikap utama dari diri mereka tidak lain adalah sikap siap untuk digerakkan dalam menunaikan sebuah operasionalisasi dakwah ini (isti’dad lil amal). Adapun upaya yang mesti dilakukannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesanggupan untuk dimobilisasi (Al Qudrah li tanfidz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesanggupan dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai keadaan merupakan watak para pahlawan Islam dalam memenangkan dakwah di medan peperangan. Sikap ini secara umum memang perilaku prajurit sejati. Kesanggupan diri membuat mereka berani maju menghadapi tugas dan amanah dakwah sekalipun berat rasanya. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali kemenangan yang hakiki. Hidup mulia atau mati syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang prajurit yang siap, memikul tugas dan tanggung jawab adalah kemuliaan. Sehingga mereka akan mengerahkan segenap kemampuan untuk tetap berada di garis tugasnya. Berbalik ke belakang sama artinya dengan mewariskan keburukan dan kekalahan. Karena itu mereka berupaya untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Abdullah bin Rawahah RA. yang berapi-api di Perang Muktah memacu keberanian para sahabat sehingga mampu mengobarkan kepahlawanan mereka. Membuat jiwa para sahabat lebih mencintai harumnya syurga dari pada pulang kembali ke Madinah. Padahal mereka harus menghadapi musuh dengan jumlah dan kekuatan yang besar. Kecintaan pada hari akhirat menjadi landasan sikap mereka menyongsong tugas mulia. Dan modal itulah kaum muslimin memenangkan pertarungan dan mewariskan perilaku keimanan yang sebenar-benarnya kepada generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang kita lalui saat ini tampak sangat jelas. Karena jelasnya tugas dan amanah yang mesti kita tunaikan. Bila kita runut tugas itu satu persatu maka akan kita dapati begitu banyak tugas yang menanti kita. Tugas itu sedang antri untuk diselesaikan. Masalahnya adalah siapakah gerangan yang akan menunaikannya. Apalagi jika ditinjau dari waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya, maka ia memerlukan kader dakwah yang amat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi dan kondisi yang pelik dimana tugas dan waktu saling berlomba. Maka perilaku dai sejati untuk selalu siap dimobilisasi harus dikedepankan dari pada sikap gamang untuk menunaikannya. Karena kegamangan dalam melaksanakan tugas sering menghambat kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Sikap gamang bagi kader dakwah merupakan batu sandungan yang harus segera disingkirkan. Dan yang perlu dihidupkan adalah sikap untuk selalu sanggup dimobilisasi dengan cepat dalam berbagai situasi. Selanjutnya menempati pos-pos yang lowong dengan sabar dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jihad siyasi banyak pos-pos dakwah yang perlu diisi dengan segera. Karena waktu dan tugas yang perlu diselesaikan saling mendahului. Kader dakwah mesti tanggap dengan kemampuannya dan pos yang ada. Sehingga bisa segera mengistijabahi tugas-tugas mulia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersabar berada di pos-pos dakwah (As Shabru fi ‘aba’i ad da’wah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada pada pos dakwah terkadang banyak kendala dan cobaan. Baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan. Ini memang ujian dakwah yang diberikan Allah swt. pada kita untuk menilai sejauh mana tingkat kesabaran dan kesetiaan prajurit sejati pada tugasnya. Serta keberhasilannya dalam menjalankan amanah yang diberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya berada pada pos-pos tugas membosankan bahkan menegangkan karena beban yang berat. Namun adakalanya juga menyenangkan karena fasilitas dan pendapatan yang menggiurkan. Tidak jarang kita jumpai orang yang minta dipindahkan ke pos lain karena tidak suka pada tugas yang harus dikerjakan sehari-hari. Ada pula yang minta terus berada pada posnya karena penghasilan dan fasilitas yang ia dapatkan. Akhirnya tugas itu dinilai dari kesenangan material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin pernah mengalami pelajaran pahit di medan Uhud. Ini mesti menjadi catatan mahal umat Islam. Tatkala pos-pos tugas itu dinilai dengan pandangan kesenangan material maka berakibat fatal bagi mereka. Sebab pos-pos yang harusnya dijaga dengan sabar dan disiplin, akhirnya ditinggalkan begitu saja. Kekosongan pos tugas itu menjadi peluang musuh untuk mengkocar-kacir barisan kaum muslimin hingga porak poranda. Dan kerugianlah yang diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Rasululah saw. mengingatkan mereka dengan komandonya: “Berjagalah di pos kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut serta menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Uhud menjadi ibroh (pelajaran) berharga bagi orang-orang beriman. Cukup sekali saja hal itu terjadi. Tidak boleh terulang lagi apalagi sampai berulang-ulang. Oleh karena itu bekal kesabaran dan keteguhan hati perlu terus dipasok jangan sampai berkurang sedikitpun. Panglima Saad bin Abi Waqqas r.a. menyerukan pasukan yang akan menghadapi tentara Persia dengan instruksinya: “Tempati pos kalian dan bersabarlah, karena kesabaran menjadi jalan kemenangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kader dakwah ketika sudah menempati pos tugasnya, ia akan menjaganya dengan baik. Ia tidak akan tergiur sekejappun untuk meninggalkannya. Ia juga tidak tergoda oleh kesenangan material yang mengganggunya. Namun ia akan terus berada pada posnya dengan penuh kesabaran. Sebagaimana Sang Junjungan telah mengingatkan bahwa, “Prajurit yang baik adalah bila ditugaskan di bagian belakang, maka ia ada di tempatnya. Bila ia ditugaskan di barisan terdepan, maka ia pun ada di tempatnya.” (HR. An-Nasai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Siap siaga menyongsong tugas (Al Istijabah lil amal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila peluit sang komandan telah dibunyikan, berarti tugas-tugas harus segera diselesaikan. Kesiagaan menyongsong tugas menjadi indikasinya. Dari sana kadang menang dan kalah dapat diperkirakan. Mereka yang siap siaga artinya mereka siap menghadapi situasi apapun. Akan tetapi mereka yang lengah berarti mereka akan menjerumuskan dirinya pada jurang kebinasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiagaan kader dakwah indikasi kesiapannya untuk bertarung. Tentunya, siap di segala sektor. Kesiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan nafsiyah. Dengan kesiapan yang demikian, maka dapat dipetakan kekuatan diri dan musuhnya. Dan seberapa besar kendala yang peluang kemenangan yang akan didapatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kesiapan itu sudah begitu gamblang di hati kaum muslimin dan kader dakwah secara khusus, maka Allah swt. yang akan memback-upnya. Yang Maha Kuat dan Perkasalah yang akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki kader dakwah apabila sudah digerakkan sejak awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalannya adalah apakah kader dakwah saat ini seluruhnya sudah siap siaga menyongsong tugas atau masih asyik termangu dengan kebingungannya. Semuanya kembali pada diri masing-masing. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bila kader dakwah belum siap siaga menyongsong tugas jangan berharap hari esok lebih baik dari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Qur’ani masa lalu menjadi umat terbaik bukan terletak pada keberadaan Rasul bersama mereka. Melainkan sikap mereka terhadap Qur’an dan sikap mereka secara keseluruhan yang siap siaga menerima tugas dan perintah. Bila saat itu disodorkan amanah tugas, maka saat itu pula mereka kerjakan tanpa reserve. Nah, kalau begitu sikap mereka itulah yang perlu kita ulang pada diri kita saat ini. Karena tugas dan instruksi komandan untuk jihad siyasi saat ini begitu sangat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pantang Mundur (Adamul dubur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pertarungan sudah di hadapan, hanya satu sikap saja yang dilakukan, yaitu maju ke depan. Tidak boleh ada kata mundur atau balik ke belakang. Karena mundur artinya kekalahan. Dan kekalahan adalah kehinaan bagi kader dakwah di dunia dan akhirat. Allah swt. sudah menegaskan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfal: 15 -16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kader dakwah tugas mulia menjadi jalan mulus untuk masa depan. Ia tidak akan pernah berpikir balik ke belakang. Ia akan maju terus menyongsong masa depan. Begitulah kemenangan kaum muslimin di berbagai tempat, termasuk di Eropa. Panglima Thariq bin Ziyad menyampaikan pidatonya di hadapan para prajurit, “Wahai kaum muslimin di belakangmu lautan lepas, tidak ada lagi perahu yang akan membawa kalian ke negeri kampung halaman. Dan di depanmu musuh menghadang. Tidak ada pilihan lain untuk kemenangan kecuali maju ke hadapan songsong musuh dengan hati lapang. Sambut tugas dengan ringan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi kenyataan ini, keberanianlah yang perlu kita perbesar. Berani karena benar dan berani karena membawa misi kesucian. Kader dakwah pemberani dalam melaksanakan tugas dapat menjadi pintu kegemilangan. Khususnya kegemilangan dakwah di negeri dambaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak bermaksiat (Adamul Ma’shiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan dan kekalahan yang dialami kaum muslimin sangat dipengaruhi oleh perbuatan para prajuritnya. Kemaksiatankah atau ketaatan. Kemaksiatan dapat menjadi penyebab kekalahan dan ketaatan dapat membawa kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin Islam selalu mewasiatkan untuk mewaspadai perilaku kemaksiatan kadernya. Karena kemaksiatan yang dilakukan satu orang dapat berakibat buruk bagi yang lainnya. Kemaksiatan yang dilakukan seorang kader dakwah harus lebih ditakuti daripada besarnya jumlah dan kekuatan musuh. Sebab maksiatan membuat Allah swt. menjauhi mereka. Dan tidak akan memberikan bala bantuan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan hitam dari kasus Uhud pun terjadi lantaran kemaksiatan sebagian prajurit muslim. Mereka tidak mematuhi perintah Rasulullah saw. karena tergiur dengan rampasan perang yang berserakan di depan mereka. Lalu mereka meninggalkan bukit Uhud dan mengumpulkan ghanimah tersebut. Akhirnya pos yang kosong itu segera diambil alih musuh sebagaimana yang diingatkan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Iman: 152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah Uhud menjadi pelajaran besar bagi kita. Satu hal yang perlu dicamkan. Jangan pernah bermaksiat sedikitpun ketika pertarungan telah di hadapan. Kemaksiatan lobang jurang kebinasaan dan kehinaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala anashir-anashir kemenangan tersebut dapat terealisir di jiwa para kader dakwah, maka pertolongan dan bala bantuan yang dijanjikan Allah swt. akan tampak nyata di depan mata. Kemenangan tersebut menjadi hak bagi para pejuang (nashrullah wal futuhat). Sebagaimana kemenangan dan penaklukan Kota Mekkah, banyak musuh-musuh dakwah yang tunduk terhina di hari itu dan segera menjadi pengikut Nabi saw. dan kemuliaan orang beriman sebagai pakaian para pejuang yang dahulu telah memberikan investasinya pada dakwah ini. Dan kita telah memahaminya bahwa hal itu melalui proses yang panjang dan rumit. Wallahu ‘alam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dakwatuna.com)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5429441572028480114?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5429441572028480114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/07/dan-siapkanlah-untuk-menghadapi-mereka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5429441572028480114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5429441572028480114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/07/dan-siapkanlah-untuk-menghadapi-mereka.html' title='Bersiaga Menanti Tugas'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5836619609774075811</id><published>2010-05-13T01:21:00.001-07:00</published><updated>2011-02-28T22:07:10.586-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Aids Haraki</title><content type='html'>Aku gemakan sebuah gaung kewaspadaan terhadap kerusakan yang melingkupi dan bahaya yang mengancam. Itulah wabah Aids Haraki yang menggerogoti bangunan harakah dan tanzhim serta menghacurkannya menjadi puing. Sebuah wabah yang diingatkan Al-Qur’an dengan tegas: “…dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka adakah yang menyambut gema ini? Saya berharap demikian. Allah sajalah yang memberi pertolongan dan kepada-Nya lah kita bertawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Ramadhan 1409 H&lt;br /&gt;Fathi Yakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aids Haraki. Ya, demikianlah Ustadz Fathi Yakan – seorang ulama dan mujahid dakwah tingkat dunia – mengistilahkan suatu fenomena yang telah dan sedang terjadi di sebagian harakah (gerakan) Islam. Ini adalah sebuah peringatan keras dari beliau kepada para aktivis dakwah, lebih dari delapan belas tahun lalu. Fa dzakkir inna adz-dzikra tanfa’ul mu’miniin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aids adalah kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan daya kekebalan tubuh, sehingga menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Dan karena virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS ini belum ditemukan obatnya hingga saat ini, para pengidap HIV/AIDS pada umumnya akan segera mengalami kematian secara mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dalam bukunya yang berjudul Ihdzaruu Al-Aids Al-Haraky (1989), Ustadz Fathi Yakan secara khusus menyoroti kasus kehancuran harakah (gerakan) dan tanzhim (organisasi) dakwah di Libanon. Pada saat yang sama beliau juga menemukan fenomena yang sama sedang terjadi di sebagian negeri-negeri muslim lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat beliau, kasus-kasus kehancuran organisasi dakwah yang berawal dari melemahnya daya tahan internal organisasi mereka, seringkali terjadi di saat mereka berada pada mihwar siyasi (orbit politik), yaitu saat gerakan Islamiyah memasuki wilayah politik untuk menyempurnakan wilayah amal dan pencapaian sasaran dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa begitu? Apakah masuknya gerakan dakwah Islam ke dalam wilayah politik adalah suatu kekeliruan? Tentu saja tidak! Karena syumuliyatul-Islam (sifat kemenyeluruhan ajaran Islam) mengharuskan politik sebagai bagian tak terpisahkan dari Islam. Dan syumuliyatud-da’wah menuntut kita untuk memasuki wilayah politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana suatu gerakan dakwah bisa terjangkiti penyakit aids dan kemudian mengalami kehancuran? Dalam analisisnya, Ustadz Fathi Yakan menyebutkan tujuh faktor yang menyebabkan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab pertama, hilangnya manna’ah i’tiqadiyah (imunitas keyakinan) dan tidak tegaknya bangunan dakwah di atas pondasi fikrah dan mabda’ yang benar dan kokoh. Dampak yang timbul dari faktor ini di antaranya adalah tidak tegaknya organisasi dakwah di atas fikrah yang benar dan kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya sebuah organisasi hanya berwujud tanzhim ziami, yaitu bangun organisasi yang tegak di atas landasan loyalitas kepada seorang pemimpin yang diagungkan. Ada lagi yang berupa tanzhim syakhshi, yaitu bangun organisasi yang dibangun di atas bayangan figur seseorang. Yang lain berupa tanzhim mashlahi naf’i yaitu bangun organisasi yang berorientasi mewujudkan tujuan materi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, jadilah bangunan organisasi dakwah tadi begitu lemah dan rapuh. Tidak mampu menghadapi kesulitan dan tantangan. Akhirnya goncanglah ia dan bercerai-berailah barisannya, sehingga muncul berbagai tragedi yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab kedua, rekruting berdasarkan kuantitas, dimana bilangan dan jumlah personil menjadi demikian menyibukkan dan menguras perhatian qiyadah (pemimpin) dakwah. Dengan anggapan bahwa jumlah yang banyak itu menjadi penentu kemenangan dan kejayaan. Kondisi ini memang seringkali mendapatkan pembenarannya ketika sebuah gerakan dakwah tampil secara formal sebagai partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi kepada rekruting kuantitas – pada sisi lain – akan memudahkan pihak-pihak tertentu menciptakan qaidah sya’biyah atau basis dukungan sosial untuk kepentingan realisasi tujuan-tujuannya. Dalam situasi tertentu bisa muncul figur atau tokoh-tokoh tertentu dalam gerakan dakwah yang memperjuangkan kepentingannya dengan memanfaatkan qaidah sya’biyah yang dibangunnya. Pada saat seperti inilah, qaidah sya’biyah ini bisa berdiri sebagai musuh bagi gerakan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab ketiga, bangunan organisasi dakwah tergadai oleh pihak luar. Baik tergadai oleh sesama organisasi dakwah, organisasi politik, maupun negara. Boleh jadi juga tergadai oleh basis-basis kekuatan yang ada di sekelilingnya; baik secara politis, ekonomi, keamanan, atau keseluruhan dari unsur-unsur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, bangun organisasi dakwah tadi kehilangan potensi cengkeram, kabur orientasi, dan arah politiknya. Jadilah ia sebuah organisasi yang diperalat bagi kepentingan pihak lain, meskipun terkadang ia sendiri bisa mendapatkan kepentingannya dengan cara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab keempat, tergesa-gesa ingin meraih kemenangan meskipun tidak diimbangi dengan sarana yang memadai, dalam kondisi minimal sekalipun. Wilayah politik identik dengan pos-pos kekuasaan. Ada semangat pencarian dan pencapaian pos-pos kekuasaan yang pasti dilakukan oleh setiap pelaku politik. Dan semua itu akan berlangsung seperti tidak ada ujung akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan, di manapun – menurut Ustadz Fathi Yakan – kemampuannya membagi ghanimah (harta) kepada aparat sebanding dengan potensinya menderita kerugian. Bahkan ghanimah yang telah diperoleh itu terkadang justru melahirkan cobaan dan bencana bagi gerakan dakwah. Pemicunya adalah sengketa dalam pembagiannya; antar personil, personil dengan pemimpin serta penguasa yang berambisi mendapatkan bagian terbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kajian yang jernih terhadap faktor-faktor yang mengantarkan beberapa hizb (partai) meraih kekuasaannya atas berbagai wilayah di dunia, mampu mengungkap sejauh-mana dampak negatif bahkan bahaya yang dihadapi oleh hizb tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak negatif tadi antara lain berupa keruntuhan dan kehancurannya, serta terpecah-belahnya hizb itu menjadi kepingan, kehilangan prinsip dan orientasi, yang akhirnya mengantarkannya menjadi sebuah kelompok yang mengejar kepentingan hawa nafsu dan materi duniawi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab kelima, munculnya sentra-sentra kekuatan, aliran, dan sayap-sayap gerakan dalam tubuh gerakan dakwah. Kebanyakan bangunan organisasi dakwah yang mengalami pertikaian dan perselisihan berpotensi melahirkan hal-hal di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gerakan dakwah, apa saja namanya, apabila memiliki ta’addudul wala’ (multi loyalitas) dan dikendalikan oleh beragam kekuatan, tidak tunduk kepada qiyadah (kepemimpinan) tunggal, di mana hati para personil dan para mas’ul-nya tidak terhimpun pada seseorang yang dipercaya, maka ia menjadi gerakan dakwah yang potensial melahirkan pertikaian, berebut pengaruh dan kekuasaan untuk meraih ambisi-ambisi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab keenam, campur-tangan pihak luar. Di zaman sekarang, faktor-faktor ini telah begitu dominan mempengaruhi dunia. Kekuatan siyasiyah (politik), fikriyah (pemikiran), asykariyah (militer), dan jasusiyah (intelejen) yang beraneka ragam dikerahkan untuk memukul seterunya dengan target kehancuran bangunan organisasi dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan melalui deteksi cermat terhadap titik lemah, kemudian menawarkan “dukungan”, setelah itu dipukul hancur. Pintu masuk menuju ke sana memang sangat banyak. Adakalanya melalui pintu siyasah, yaitu dengan menawarkan berbagai kemaslahatan politik. Terkadang melalui pintu maliyah, dengan jalan menutup kebutuhan finansial. Lain kali melalui pintu amniyah, yaitu dengan menjanjikan perlindungan keamanan. Hal-hal itu dilakukan satu per satu atau secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah kekuatan eksternal bisa masuk ke dalam tubuh organisasi dakwah? Yaitu ketika bangunan organisasi dakwah secara umum mengalami kelemahan; keringnya ruh akidah, baik di tingkat personil anggota maupun level pemimpinnya, dan beratnya beban maddiyah (materi) maupun ma’nawiyah (moril) yang harus dipikul. Jadilah ia sebuah bangunan organisasi rapuh yang pintu-pintunya terkuak. Orang pun dengan leluasa masuk ke dalamnya untuk mewujudkan ambisi mereka dengan seribu satu cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab ketujuh, lemah atau bahkan tidak adanya wa’yu siyasi (kesadaran politik). Sebuah gerakan dakwah Islam – di mana saja – apabila tidak memiliki wa’yu siyasi yang tinggi dan baik, tidak akan bisa hidup mengimbangi zaman; tidak memahami kejadian yang ada di sekelilingnya, terkecoh oleh fenomena permukaan, lupa mengkaji apa di balik peristiwa, tidak mampu merumuskan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai peristiwa global, tidak bisa membuat footnote setelah membaca teks, tidak mampu meletakkan kebijakan politik lokal berdasarkan kondisi-kondisi politik internasional, dan lain-lain kepekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sebuah gerakan dakwah memiliki kelemahan seperti itu, di saat mana arah politik demikian tumpang-tindih dan keserakahan demikian merajalela, yang tampak di permukaan tidak lagi sebagaimana isinya, maka ia akan menjadi organisasi gerakan dakwah yang langkahnya terseok-seok, sikap-sikapnya kontradiktif, dan mudah terbawa arus. Apabila sudah demikian, datanglah sang penghancur untuk memutuskan hukuman mati atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal penting dan mendasar dari analisis lanjutan Ustadz Fathi Yakan yaitu, semua faktor yang dipaparkan di atas adalah buah dari pohon “politik mendominasi tarbiyah”. Iklim atau munakh dalam gerakan dakwah lebih kental politik, yang bahkan sangat mempengaruhi bangunan sikap-perilaku jajaran kader dan para pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari taushiyah yang disampaikan lebih dari delapan belas tahun silam untuk kebaikan dan kemajuan gerakan dakwah di Indonesia. Amin. []&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5836619609774075811?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5836619609774075811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/05/aids-haraki_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5836619609774075811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5836619609774075811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/05/aids-haraki_13.html' title='Aids Haraki'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6203464921894659093</id><published>2010-05-13T01:21:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T02:36:59.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Aids Haraki</title><content type='html'>Aku gemakan sebuah gaung kewaspadaan terhadap kerusakan yang melingkupi dan bahaya yang mengancam. Itulah wabah Aids Haraki yang menggerogoti bangunan harakah dan tanzhim serta menghacurkannya menjadi puing. Sebuah wabah yang diingatkan Al-Qur’an dengan tegas: “…dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka adakah yang menyambut gema ini? Saya berharap demikian. Allah sajalah yang memberi pertolongan dan kepada-Nya lah kita bertawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Ramadhan 1409 H&lt;br /&gt;Fathi Yakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aids Haraki. Ya, demikianlah Ustadz Fathi Yakan – seorang ulama dan mujahid dakwah tingkat dunia – mengistilahkan suatu fenomena yang telah dan sedang terjadi di sebagian harakah (gerakan) Islam. Ini adalah sebuah peringatan keras dari beliau kepada para aktivis dakwah, lebih dari delapan belas tahun lalu. Fa dzakkir inna adz-dzikra tanfa’ul mu’miniin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aids adalah kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan daya kekebalan tubuh, sehingga menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Dan karena virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS ini belum ditemukan obatnya hingga saat ini, para pengidap HIV/AIDS pada umumnya akan segera mengalami kematian secara mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang berjudul Ihdzaruu Al-Aids Al-Haraky (1989), Ustadz Fathi Yakan secara khusus menyoroti kasus kehancuran harakah (gerakan) dan tanzhim (organisasi) dakwah di Libanon. Pada saat yang sama beliau juga menemukan fenomena yang sama sedang terjadi di sebagian negeri-negeri muslim lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat beliau, kasus-kasus kehancuran organisasi dakwah yang berawal dari melemahnya daya tahan internal organisasi mereka, seringkali terjadi di saat mereka berada pada mihwar siyasi (orbit politik), yaitu saat gerakan Islamiyah memasuki wilayah politik untuk menyempurnakan wilayah amal dan pencapaian sasaran dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa begitu? Apakah masuknya gerakan dakwah Islam ke dalam wilayah politik adalah suatu kekeliruan? Tentu saja tidak! Karena syumuliyatul-Islam (sifat kemenyeluruhan ajaran Islam) mengharuskan politik sebagai bagian tak terpisahkan dari Islam. Dan syumuliyatud-da’wah menuntut kita untuk memasuki wilayah politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana suatu gerakan dakwah bisa terjangkiti penyakit aids dan kemudian mengalami kehancuran? Dalam analisisnya, Ustadz Fathi Yakan menyebutkan tujuh faktor yang menyebabkan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab pertama, hilangnya manna’ah i’tiqadiyah (imunitas keyakinan) dan tidak tegaknya bangunan dakwah di atas pondasi fikrah dan mabda’ yang benar dan kokoh. Dampak yang timbul dari faktor ini di antaranya adalah tidak tegaknya organisasi dakwah di atas fikrah yang benar dan kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya sebuah organisasi hanya berwujud tanzhim ziami, yaitu bangun organisasi yang tegak di atas landasan loyalitas kepada seorang pemimpin yang diagungkan. Ada lagi yang berupa tanzhim syakhshi, yaitu bangun organisasi yang dibangun di atas bayangan figur seseorang. Yang lain berupa tanzhim mashlahi naf’i yaitu bangun organisasi yang berorientasi mewujudkan tujuan materi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, jadilah bangunan organisasi dakwah tadi begitu lemah dan rapuh. Tidak mampu menghadapi kesulitan dan tantangan. Akhirnya goncanglah ia dan bercerai-berailah barisannya, sehingga muncul berbagai tragedi yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab kedua, rekruting berdasarkan kuantitas, dimana bilangan dan jumlah personil menjadi demikian menyibukkan dan menguras perhatian qiyadah (pemimpin) dakwah. Dengan anggapan bahwa jumlah yang banyak itu menjadi penentu kemenangan dan kejayaan. Kondisi ini memang seringkali mendapatkan pembenarannya ketika sebuah gerakan dakwah tampil secara formal sebagai partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi kepada rekruting kuantitas – pada sisi lain – akan memudahkan pihak-pihak tertentu menciptakan qaidah sya’biyah atau basis dukungan sosial untuk kepentingan realisasi tujuan-tujuannya. Dalam situasi tertentu bisa muncul figur atau tokoh-tokoh tertentu dalam gerakan dakwah yang memperjuangkan kepentingannya dengan memanfaatkan qaidah sya’biyah yang dibangunnya. Pada saat seperti inilah, qaidah sya’biyah ini bisa berdiri sebagai musuh bagi gerakan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab ketiga, bangunan organisasi dakwah tergadai oleh pihak luar. Baik tergadai oleh sesama organisasi dakwah, organisasi politik, maupun negara. Boleh jadi juga tergadai oleh basis-basis kekuatan yang ada di sekelilingnya; baik secara politis, ekonomi, keamanan, atau keseluruhan dari unsur-unsur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, bangun organisasi dakwah tadi kehilangan potensi cengkeram, kabur orientasi, dan arah politiknya. Jadilah ia sebuah organisasi yang diperalat bagi kepentingan pihak lain, meskipun terkadang ia sendiri bisa mendapatkan kepentingannya dengan cara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab keempat, tergesa-gesa ingin meraih kemenangan meskipun tidak diimbangi dengan sarana yang memadai, dalam kondisi minimal sekalipun. Wilayah politik identik dengan pos-pos kekuasaan. Ada semangat pencarian dan pencapaian pos-pos kekuasaan yang pasti dilakukan oleh setiap pelaku politik. Dan semua itu akan berlangsung seperti tidak ada ujung akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan, di manapun – menurut Ustadz Fathi Yakan – kemampuannya membagi ghanimah (harta) kepada aparat sebanding dengan potensinya menderita kerugian. Bahkan ghanimah yang telah diperoleh itu terkadang justru melahirkan cobaan dan bencana bagi gerakan dakwah. Pemicunya adalah sengketa dalam pembagiannya; antar personil, personil dengan pemimpin serta penguasa yang berambisi mendapatkan bagian terbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kajian yang jernih terhadap faktor-faktor yang mengantarkan beberapa hizb (partai) meraih kekuasaannya atas berbagai wilayah di dunia, mampu mengungkap sejauh-mana dampak negatif bahkan bahaya yang dihadapi oleh hizb tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak negatif tadi antara lain berupa keruntuhan dan kehancurannya, serta terpecah-belahnya hizb itu menjadi kepingan, kehilangan prinsip dan orientasi, yang akhirnya mengantarkannya menjadi sebuah kelompok yang mengejar kepentingan hawa nafsu dan materi duniawi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab kelima, munculnya sentra-sentra kekuatan, aliran, dan sayap-sayap gerakan dalam tubuh gerakan dakwah. Kebanyakan bangunan organisasi dakwah yang mengalami pertikaian dan perselisihan berpotensi melahirkan hal-hal di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gerakan dakwah, apa saja namanya, apabila memiliki ta’addudul wala’ (multi loyalitas) dan dikendalikan oleh beragam kekuatan, tidak tunduk kepada qiyadah (kepemimpinan) tunggal, di mana hati para personil dan para mas’ul-nya tidak terhimpun pada seseorang yang dipercaya, maka ia menjadi gerakan dakwah yang potensial melahirkan pertikaian, berebut pengaruh dan kekuasaan untuk meraih ambisi-ambisi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab keenam, campur-tangan pihak luar. Di zaman sekarang, faktor-faktor ini telah begitu dominan mempengaruhi dunia. Kekuatan siyasiyah (politik), fikriyah (pemikiran), asykariyah (militer), dan jasusiyah (intelejen) yang beraneka ragam dikerahkan untuk memukul seterunya dengan target kehancuran bangunan organisasi dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan melalui deteksi cermat terhadap titik lemah, kemudian menawarkan “dukungan”, setelah itu dipukul hancur. Pintu masuk menuju ke sana memang sangat banyak. Adakalanya melalui pintu siyasah, yaitu dengan menawarkan berbagai kemaslahatan politik. Terkadang melalui pintu maliyah, dengan jalan menutup kebutuhan finansial. Lain kali melalui pintu amniyah, yaitu dengan menjanjikan perlindungan keamanan. Hal-hal itu dilakukan satu per satu atau secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah kekuatan eksternal bisa masuk ke dalam tubuh organisasi dakwah? Yaitu ketika bangunan organisasi dakwah secara umum mengalami kelemahan; keringnya ruh akidah, baik di tingkat personil anggota maupun level pemimpinnya, dan beratnya beban maddiyah (materi) maupun ma’nawiyah (moril) yang harus dipikul. Jadilah ia sebuah bangunan organisasi rapuh yang pintu-pintunya terkuak. Orang pun dengan leluasa masuk ke dalamnya untuk mewujudkan ambisi mereka dengan seribu satu cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab ketujuh, lemah atau bahkan tidak adanya wa’yu siyasi (kesadaran politik). Sebuah gerakan dakwah Islam – di mana saja – apabila tidak memiliki wa’yu siyasi yang tinggi dan baik, tidak akan bisa hidup mengimbangi zaman; tidak memahami kejadian yang ada di sekelilingnya, terkecoh oleh fenomena permukaan, lupa mengkaji apa di balik peristiwa, tidak mampu merumuskan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai peristiwa global, tidak bisa membuat footnote setelah membaca teks, tidak mampu meletakkan kebijakan politik lokal berdasarkan kondisi-kondisi politik internasional, dan lain-lain kepekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sebuah gerakan dakwah memiliki kelemahan seperti itu, di saat mana arah politik demikian tumpang-tindih dan keserakahan demikian merajalela, yang tampak di permukaan tidak lagi sebagaimana isinya, maka ia akan menjadi organisasi gerakan dakwah yang langkahnya terseok-seok, sikap-sikapnya kontradiktif, dan mudah terbawa arus. Apabila sudah demikian, datanglah sang penghancur untuk memutuskan hukuman mati atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal penting dan mendasar dari analisis lanjutan Ustadz Fathi Yakan yaitu, semua faktor yang dipaparkan di atas adalah buah dari pohon “politik mendominasi tarbiyah”. Iklim atau munakh dalam gerakan dakwah lebih kental politik, yang bahkan sangat mempengaruhi bangunan sikap-perilaku jajaran kader dan para pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari taushiyah yang disampaikan lebih dari delapan belas tahun silam untuk kebaikan dan kemajuan gerakan dakwah di Indonesia. Amin. []&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6203464921894659093?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6203464921894659093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/05/aids-haraki.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6203464921894659093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6203464921894659093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/05/aids-haraki.html' title='Aids Haraki'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6673759322114504794</id><published>2010-05-13T01:15:00.000-07:00</published><updated>2010-07-03T02:37:55.778-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Figh Ghazawat (Strategi Perang)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/S-u1kFI8GLI/AAAAAAAAALQ/7KoSCqdD9kU/s1600/kuda-kemenangan1-250x192.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 192px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/S-u1kFI8GLI/AAAAAAAAALQ/7KoSCqdD9kU/s320/kuda-kemenangan1-250x192.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470665803831187634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kita sadari “As-Shira’ bainal haq wal bathil”, pertarungan antara al-Hak dan batil terus berlangsung di tengah-tengah kehidupan kita. Persoalannya yang penting bagi kita adalah, sejauh mana kita berada dalam barisan yang hak dan memenangkan pertarungan melawan yang batil tersebut. Untuk memenangkan pertarungan ikhwah fillah, kita perlu menata dan memenej dengan baik “al-haq” yang kita perjuangkan, sebab tanpa itu semua kita akan mudah digilas dan dikalahkan dengan manuver-manuver kebatilan yang ditata dan dimenej dengan baik, sebagaimana kata Imam Ali RA : “Al-Haqqu bilaa nizhaamin yaghlibuhul Bathil binizhaamin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haq dalam pengertian yang luas bila terus diperkuat dan dikembangkan, akan mampu menggeser kebatilan di segala bidang. Untuk memperkuat dan mengembangkan al-Haq agar semakin eksis dan aplikatif dalam kehidupan ini tentunya memerlukan sarana. Sarana itu adalah “dakwah” itu sendiri.  Oleh karena itu dakwah harus selalu dipahami dalam konteknya sebagai  refresentasi Al-Haq yang bertarung melawan kebatilan. Sehingga berdakwah dalam arti luas sesungguhnya dapat juga diartikan dengan berperang. Berperang merebut pengaruh dan dukungan, berperang untuk menguasai sektor-sektor kebijakan publik yang nantinya diharapkan mengkapitalisasi potensi dan kekuatan dakwah di segala bidang, serta memperbanyak program-program kebaikan (Amar Ma’ruf) di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan meminimalisasi program-program kemunkaran (Nahi Munkar) yang berpotensi merusak tatanan nilai kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itu, orientasi dakwah tidak cukup hanya memasyarakat (Mihwar Sya’by), tetapi orientasi dakwah juga harus menegara (Mihwar daulah). Untuk itu diperlukan “strategic of war”, strategi perang untuk memenangkan dakwah ini. Bila kita renungkan Ikhwah Fillah!, Rasulullah SAW sebelum terjun  melewati peperangan yang sesungguhnya telah mengawali aksi dakwahnya dengan pendekatan strategi perang. Perang untuk menguasai individu-individu yang penting dan potensial bagi kapitalisasi dakwah ke depan. Misalnya Pola rekrutmen yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam dakwahnya adalah pola pendekatan yang segmentatif, dari kalangan segmen wanita Rasulullah berhasil merekrut isterinya Khadijah RA, dari kalangan pria dewasa khususnya saudagar beliau berhasil merekrut Abu Bakar RA, dari kalangan kaum dhuafa dan hamba sahaya berhasil direkrut Zaid bin HAritsah dan dari kalangan anak-anak dan remaja Ali bin Abi Thalib RA. Masing-masing segmen kemudian menjadi bertambah panjang rangkaian gerbong dan penumpangnya, karena proses dakwah dan rekrutmen terus berjalan pada masing-masing segmen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kontek jihad siyasi menuju mihwar daulah sekarang ini,  juga amat penting bagi kita untuk merekonstruksi strategi perang yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, artinya harus ada dari kita ikhwah fillah,  yang memfokuskan dakwahnya untuk segmen dan kalangan tertentu, harus ada di antara kita yang berdakwah di kalangan pengusaha, birokrat, pelajar, dosen, mahasiswa, buruh, petani, pedagang dan sya’biyah ‘aammah.  Semakin banyak segmen yang dapat direkrut dan dikelola, maka akan semakin banyak simpul massa yang bisa di raih untuk meningkatkan potensi dan dukungan bagi dakwah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam strategi perang yang terpenting adalah menguasai sumber-sumber kekuatan, yang dapat menambah kekuatan kita dan mengurangi kekuatan lawan. Oleh karena itu Habab bin Mundzir RA penasehat militer Rasulullah SAW mengusulkan agar pasukan kaum muslimin dalam perang Badar segera mendekat ke sumber air sebelum pasukan Quraisy mengambil posisi tersebut. Dalam konteks jihad siyasi kita sekarang ini juga di perlukan penguasaan sumber, di antara sumber yang penting untuk dikuasai adalah media dan sarana informasi lainnya, juga  sumber-sumber yang dapat mendatangkan pengaruh, seperti public figure, simpul massa dan vote getter. Semakin banyak hal itu dikuasai, semakin banyak sumber-sumber kekuatan yang dapat membantu kelancaran dakwah, dan semakin membuat dakwah memiliki kekuatan untuk memuluskan jalan al-Haq dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiqhul ghazawat, tidak hanya terkait dengan kecamuk nya perang, tetapi juga terkait dengan kepiawaian diplomasi dan memperlihatkan Performa di mata lawan, oleh sebab itu Rasulullah SAW membawa serta 80 kaum Musyrikin Bani Khuza’ah lengkap dengan hewan-hewan kurban yang akan disembelih, ketika beliau dan kaum Muslimin menuju Mekah untuk melakukan umrah. Peristiwa inilah yang mengantarkan kaum Muslimin kepada perjanjian Hudaibiyah yang kemudian membuat dakwah semakin leluasa dan bebas bergerak. Diplomasi dan Performa damai yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW menegaskan kepada elit pimpinan Quraisy bahwa Islam datang dengan misi social charity untuk kemanusiaan. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak kedatangan Nabi dan kaum Muslimin. Nah, misi itu pulalah yang juga harus ditonjolkan oleh dakwah ini, bagaimana meyakinkan para pemimpin baik di tingkat nasional maupun internasional untuk tidak mencurigai dakwah ini dan tidak ada alas an bagi mereka untuk menentang dan menolaknya. Untuk itu  ikhwah fillah, kita harus banyak melakukan pendekatan, kalau perlu mengundang mereka untuk hadir pada even-even besar yang diselenggarakan. Mengundang tokoh nasional khususnya kalangan tokoh partai Nasionalis-Sekuler, bahkan tokoh internasional baik kalangan Muslim dan non muslimnya akan sangat membantu menumbuhkan kesan pergaulan nasional dan internasional yang baik dan  imej inklusif tas dakwah ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah kesempatan besar untuk memperkenalkan kepada mereka, sebatas yang diperlukan, apa dakwah ini, apa misi besarnya, dan bagaimana pandangan dakwah dalam membangun solusi dari problematika yang dihadapi dunia dewasa ini. Bila mereka mengenali dakwah dengan baik maka insya Allah mereka tidak akan mudah begitu saja memusuhi dakwah. “Al- Insaanu ‘aduwwun bimaa jahula”, manusia cenderung memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya”. Demikian kata Imam Ghazali rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi menampakkan kekuatan di mata lawan juga sangat penting kaitannya dengan strategi perang, oleh sebab itu pasca perjanjian Hudaibiyah Rasulullah SAW mengirim ekspedisi ke Mu’tah wilayah koloni Romawi, di satu sisi memanfaatkan gencatan senjata dan perdamaian untuk memperluas pengaruh dakwah, di sisi lain untuk show of force kepada kabilah-kabilah Arab, bahwa kekuatan kaum Muslimin tidak dapat diremehkan begitu saja, tidak pernah sejarahnya bangsa Arab berperang dengan Romawi, tetapi Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin telah memulainya, beliau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab sebelumnya, hal ini semakin menunjukkan imej kekuatan umat Islam di kalangan bangsa Arab, khususnya kaum kafir Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu’man bin Muqarrin RA, panglima perang kaum Muslimin ketika berperang melawan Persia di Nahawand, dengan jumlah pasukan yang jauh tidak seimbang, di mana pasukan kaum Muslimin jauh lebih sedikit ketimbang jumlah pasukan Persia. Num’an bin Muqarrin dengan kecerdasan intelegensianya segera memberikan komando serentak kepada pasukan, pada saat musuh telah tampak dari kajauhan, strategi agar kaum Muslimin kelihatan banyak dan bermilitansi tinggi, maka dibuatlah komando serentak melalui aba-aba takbir serentak secara berbarengan. Takbir pertama, seluruh pasukan kaum Muslimin bersiap-siap di samping kendaraan tunggangannya, takbir kedua mereka serempak menurunkan peralatan dan perlengkapan tenda nya, takbir ketiga mereka serentak mendirikan kemahnya dalam waktu yang sangat cepat. Hal ini menimbulkan ketakutan di kalangan pasukan Persia, setiap mereka mendengarkan gemuruh takbir membahana di tengah pasukan kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ikhwah fillah, pentingnya membangun image sebagai sebuah strategi memenangkan pertarungan, strategi membangun image ini tidak hanya dibutuhkan pada konteks jihad askary, tetapi juga jihad siyasi. Intinya adalah bagaimana kita dapat bermain cantik, smooth dan efektif dalam memenangkan pertarungan antara al-haq dan al-bathil, sebagaimana pesan salah seorang ashabul Kahfi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi ; 19) Wallahu A’lamu Bisshawab&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6673759322114504794?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6673759322114504794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/05/figh-ghazawat-strategi-perang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6673759322114504794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6673759322114504794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/05/figh-ghazawat-strategi-perang.html' title='Figh Ghazawat (Strategi Perang)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/S-u1kFI8GLI/AAAAAAAAALQ/7KoSCqdD9kU/s72-c/kuda-kemenangan1-250x192.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5875396282661880273</id><published>2010-04-22T04:24:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T04:26:05.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Kami Adalah Dai</title><content type='html'>Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah&lt;br /&gt;2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran&lt;br /&gt;3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas&lt;br /&gt;4. Bertahap dalam pembebanan tugas&lt;br /&gt;5. Mempermudah, bukan mempersulit&lt;br /&gt;6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)&lt;br /&gt;7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman&lt;br /&gt;8. Memahaman, bukan mendikte&lt;br /&gt;9. Mendidik bukan menelanjangi&lt;br /&gt;10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5875396282661880273?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5875396282661880273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/04/kami-adalah-dai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5875396282661880273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5875396282661880273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/04/kami-adalah-dai.html' title='Kami Adalah Dai'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-4891082367913576579</id><published>2010-01-06T21:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T21:40:18.315-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Filosofi angsa : sebuah renungan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/S0VzlEOltjI/AAAAAAAAALE/SqnYHkGmE1c/s1600-h/angsa+formasi+V.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/S0VzlEOltjI/AAAAAAAAALE/SqnYHkGmE1c/s320/angsa+formasi+V.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423868406864918066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungkan ayat berikut ini:&lt;br /&gt;أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ&lt;br /&gt;“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur : 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Sesuai tema pokok kita pada taujih kali ini, mari kita tadabburi ayat di atas, lantas mari kita tafakkuri kehidupan angsa, sebagaimana dalam pembahasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombonganangsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf “V”. kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi “V”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan daya dukung bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakangnya tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh dari pada kalau setiap burung terbang sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: ketika kita bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas diantara kita, insya Allah dapat mencapai tujuan kita dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena kita menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seekor angsa keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan saudara-saudara kita yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri dari pada melakukannya bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: sungguh masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta, atau sumber daya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta keempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas susara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, du angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh dalam setiap ciptaan Allah, terdapat pelajaran bagi kaum yang berfikir. Burung, sebagaimana yang Allah firmankan, juga umat seperti kita. Dan dari kehidupan mereka, kita banya mendapat pelajaran.&lt;br /&gt;وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ&lt;br /&gt;“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatu dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am : 38)&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-4891082367913576579?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/4891082367913576579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/filosofi-angsa-sebuah-renungan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/4891082367913576579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/4891082367913576579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/filosofi-angsa-sebuah-renungan.html' title='Filosofi angsa : sebuah renungan'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/S0VzlEOltjI/AAAAAAAAALE/SqnYHkGmE1c/s72-c/angsa+formasi+V.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6409584728693607765</id><published>2010-01-02T17:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T17:54:16.938-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Harun Ar-Rasyid</title><content type='html'>Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan. Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang ketiga.Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran). Di masa mudanya, Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid Al-Barmak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Era pemerintahan Harun, yang dilanjutkan oleh Ma'mun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa pemerintahannya beliau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;* Membangun kota Baghdad dengan bangunan-bangunan megah.&lt;br /&gt;* Membangun tempat-tempat peribadatan.&lt;br /&gt;* Membangun sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.&lt;br /&gt;* Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian.&lt;br /&gt;* Membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun Al-Rasyid Bukanlah Khalifah Yang Suka Foya-Foya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang meyakini bahwa khalifah Bani ‘Abbas, Harun al-Rasyid adalah seorang yang suka hura-hura dan foya-foya, hidup dalam gelamour kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya, tidaklah demikian. Harun al-Rasyid amat berbeda dari kondisi seperti itu sama sekali. Beliau adalah Abu Ja’far, Harun bin al-Mahdi, Muhammad bin al-Manshur, salah seorang khalifah Daulah Bani ‘Abbasiah di Iraq, yang lahir tahun 148 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjadi khalifah menggantikan kakaknya, al-Hadi pada tahun 170 H. Beliau merupakan khalifah paling baik, dan raja dunia paling agung pada waktu itu. Beliau biasa menunaikan haji setahun dan berperang setahun. Sekalipun sebagai seorang khalifah, beliau masih sempat shalat yang bila dihitung setiap harinya mencapai seratus rakaat hingga beliau wafat. Beliau tidak meninggalkan hal itu kecuali bila ada uzur. Demikian pula, beliau biasa bersedekah dari harta pribadinya setiap harinya sebesar 1000 dirham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau orang yang mencintai ilmu dan para penuntut ilmu, mengagungkan kehormatan Islam dan membenci debat kusir dalam agama dan perkataan yang bertentangan dengan Kitabullah dan as-Sunnah an-Nabawiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berumrah tahun 179 H di bulan Ramadhan, dan terus dalam kondisi ihram hingga melaksanakan kewajiban haji. Beliau berjalan kaki dari Mekkah ke padang Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berhasil menguasai kota Hiracle dan menyebarkan pasukannya di bumi Romawi hingga tidak tersisa lagi seorang Muslim pun yang menjadi tawanan di kerajaan mereka. Beliau mengirimkan pasukannya yang kemudian menaklukkan benteng Cicilia, Malconia dan Cyprus, lalu menawan penduduknya yang berjumlah 16000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun al-Rasyid wafat dalam usia 45 tahun atau 46 tahun dalam perangnya di Khurasan tahun 193 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati Harun al-Rasyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6409584728693607765?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6409584728693607765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/harun-ar-rasyid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6409584728693607765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6409584728693607765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/harun-ar-rasyid.html' title='Harun Ar-Rasyid'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5826546649724005750</id><published>2010-01-02T17:51:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T17:53:07.911-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Ibnu Taimiyyah</title><content type='html'>Ibnu Taimiyyah Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H. Beliau adalah imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan penghidup sunah Rasul shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUJIAN ULAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah.. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia ….. Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA`I, MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari. Akhirnya dengan izin Allah Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEHIDUPAN PENJARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tiada pernah tinggalkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, terpenjaraku adalah khalwat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematianku adalah mati syahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah berkata dalam penjara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAFATNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahu a`lam. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5826546649724005750?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5826546649724005750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/ibnu-taimiyyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5826546649724005750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5826546649724005750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/ibnu-taimiyyah.html' title='Ibnu Taimiyyah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-8925557561321991009</id><published>2010-01-02T17:50:00.001-08:00</published><updated>2010-01-02T17:50:40.834-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Utsman bin Affan</title><content type='html'>Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Beliau dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat julukan Dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibu beliau adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah Saw sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”&lt;br /&gt;Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Saw ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habbasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.&lt;br /&gt;Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Saw memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 1000 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.&lt;br /&gt;Setelah wafatnya Umar bin Khatab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilik khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdurrahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.&lt;br /&gt;Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.&lt;br /&gt;Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada hari Jumat tanggal 17 Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-8925557561321991009?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/8925557561321991009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/utsman-bin-affan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8925557561321991009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8925557561321991009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/utsman-bin-affan.html' title='Utsman bin Affan'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-2166370014735517841</id><published>2010-01-02T17:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T17:49:43.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Hasan Al Banna</title><content type='html'>Hasan Al Banna dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur'an.&lt;br /&gt;Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i'dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur'an, "Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya."(Q. S. Al-An'aam: 52).&lt;br /&gt;Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa'id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap "rombongan anak-anak kecil" tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul 'Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma'iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya "Al-Ikhwanul Muslimun," bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.&lt;br /&gt;Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).&lt;br /&gt;Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff: 8)&lt;br /&gt;Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur'an (di bawah lindungan Al-Qur'an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur'an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur'an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu'an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya:&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat."&lt;br /&gt;Saya berjanji: "Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia."&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam."&lt;br /&gt;Saya berjanji: "Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini."&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.&lt;br /&gt;Saya berjanji: "Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya."&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka."&lt;br /&gt;Saya berjanji: "Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam."&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam."&lt;br /&gt;Saya berjanji: "Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut."&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia."&lt;br /&gt;Saya berjanji: "Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka."&lt;br /&gt;Saya meyakini: "Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari "dien" (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-2166370014735517841?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/2166370014735517841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/hasan-al-banna.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2166370014735517841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2166370014735517841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/hasan-al-banna.html' title='Hasan Al Banna'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-7291755218554262242</id><published>2010-01-02T17:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T17:48:34.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Umar bin Khattab</title><content type='html'>Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat nabi dan khalifah kedua setelah wafatnya Abu Bakar As-Sidiq. Jasa dan pengaruhnya terhadap penyebaran Islam sangat besar hingga Michael H. Heart menempatkannya sebagai orang paling berpengaruh nomor 51 sedunia sepanjang masa.&lt;br /&gt;Beliau lahir di Mekah dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy dengan nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza. Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar tumbuh menjadi pemuda yang disegani dan ditakuti pada masa itu. Wataknya yang keras membuatnya mendapat julukan “Singa Padang Pasir”. Ia juga amat keras dalam membela agama tradisional bangsa Arab yang menyembah berhala serta menjaga adat-istiadat mereka. Bahkan putrinya dikubur hidup-hidup demi menjaga kehormatan Umar.&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa pada suatu saat, Umar berketetapan untuk membunuh Muhammad SAW. Saat mencarinya, ia berpapasan dengan seorang muslim (Nu’aim bin Abdullah) yang kemudian memberi tahu bahwa saudara perempuannya juga telah memeluk Islam. Umar terkejut atas pemberitahuan itu dan pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;Di rumah Umar menjumpai bahwa saudaranya sedang membaca ayat-ayat Al Qur’an (surat Thoha), ia menjadi marah akan hal tersebut dan memukul saudaranya. Ketika melihat saudaranya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat. Ia kemudian menjadi sangat terguncang oleh isi Al Qur’an tersebut dan kemudian langsung memeluk Islam pada hari itu juga.&lt;br /&gt;Sebagai seorang petinggi militer dan ahli siasat yang baik, Umar sering mengikuti berbagai peperangan yang dihadapi umat Islam bersama Rasullullah Saw. Ia ikut terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria.&lt;br /&gt;Setelah wafatnya Rasullullah Saw., beliau merupakan salah satu shabat yang sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Ia bahkan pernah mencegah dimakamkannya Rasullullah karena yakin bahwa nabi tidaklah wafat, melainkan hanya sedang tidak berada dalam tubuh kasarnya, dan akan kembali sewaktu-waktu. Namun setelah dinasehati oleh Abu Bakar, Umar kemudian sadar dan ikut memakamkan Rasullullah.&lt;br /&gt;Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya. Kemudian setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, atas wasiat Abu Bakar Umar ditunjuk menggantikannya dan disetujui oleh seluruh perwakilan muslim saat itu.&lt;br /&gt;Selama masa jabatannya, khalifah Umar amat disegani dan ditakuti negara-negara lain. Kekuatan Islam maju pesat, mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).&lt;br /&gt;Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di jaman itu, ia tetap hidup sebagaimana saat para pemeluk Islam masih miskin dan dianiaya. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun keempat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.&lt;br /&gt;Umar syahid setelah ditikam oleh Abu Lukluk, seorang budak asal Persia yang dendam atas kekalahan Persia terhadap Islam pada suatu subuh saat Umar sedang mengerjakan shalat. Umar meninggal pada 25 Dzulhijjah 23 H dan selanjutnya digantikan oleh Utsman bin Affan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-7291755218554262242?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/7291755218554262242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/umar-bin-khattab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7291755218554262242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7291755218554262242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2010/01/umar-bin-khattab.html' title='Umar bin Khattab'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-2437736499443642559</id><published>2009-12-11T14:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T14:27:47.147-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepanduan'/><title type='text'>Pandu Qurani (bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B.Pandu Qur’ani menebar kebaikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat Islam dikeluarkan Allah untuk manusia.Artinya ummat Islam dirancang untuk membawa manfaat yang seluas-luasnya untuk manusia.Manfaaat itu diwujudkan dengan amar ma’ruf nahi munkar.Amar ma’ruf adalah setiap upaya menumbuhkan dan memelihara kebaikan dan sumber-sumbernya baik fisik maupun non fisik.Sebaliknya nahi munkar adalah setiap upaya mencegah,menghentikan dan memberantas kerusakan dan sumber-sumbernya baik fisik maupun non fisik.Dalam syariat Islam dikenal apa yang disebut dengan Maqaashid Asy-Syarii’ah Al-Khamsah yaitu  lima objek perlindungan syariat yaaitu; agama, akal, jiwa, harta benda, dan kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amar ma’ruf nahi munkar akan langgeng jika dilandasi iman kepada Allah dan sebaliknya iman kepada Allah mengharuskan amar ma;ruf nahi munkar.Allah berfirman:”Kalian sebaik-baik ummat yang dikeluarkan bagi manusia, menyerukan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) dan kalian beriman kepada Allah”.Qs:3:110&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pandu Qur’ani adalah pelayan ummat yang kebaikannya senantiasa diharapkan.Diantara mereka terdapat pemimpin publik, guru, aleg, praktisi hukum, muballigh, relawan kemanusiaan dsb.Pandu qur’ani adalah penolong manusia setiap saat seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan sahabatnya ketika di keheningan malam di Madinah terdengar suara meminta pertolongan.Para sahabat yang mendengarnya bergegas menuju sumber suara namun ditengah jalan bertemu Rasulullah yang telah kembali dan mengatakan bahwa masalahnya sudah teratasi.Atau seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab yang berlomba membereskan rumah seorang nenek tua yang hidup sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandu Qur’ani pemburu cinta Allah yang terinsfirasi berita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam;”sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.Kesalihan Pandu Qur’ani membuahkan karya dan perbuatan (al-‘amal) dengan manfaat sosial yang sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C.Jihad Pandu Qur’ani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah jalla wa ‘alaa mengutus RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam membawa risalah agung agar dimenangkannya atas segala agama dan isme-isme buatan manusia.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Dialah (Allah) yang telah mengutus RasulnNya dengan petunjuk dan Din yang haq agar dimenangkannya atas din-din (agama-agama) yang lain, dan cukuplah Allah yang menjadi saksinya”.Qs:48:28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah proyek sangat besar yang diserukan Allah atas orang-orang beriman, Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman jadilah penonlong-penolong (agama)Allah, sebagaimana Isa bin Maryam berkata:”Siapakah penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?”Pengikut-pengikut yang setia itu berkata:”Kamilah penolong-penolong (agama) Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan lain kafir;maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”.Qs:61:14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mega proyek ini telah dirintis dan diletakkan pondasi bangunannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat beliau radliallahu ‘anhum sebagai pola bagi penerus-penerus sampai ke akhir zaman.Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Muhammad Rasulullah, dan orang-orang yang bersamamnya bersikap keras terhadap oang-orang kafir dan penuh kasih sayang antar sesama mereka.Engkau melihat mereka rukuk dan sujud dengan mengharap keutamaan dan keridlaan dari Allah.Ciri mereka terdapat tanda sujud di wajah.Itulah perumpamaan mereka di dalam Taurat dan Injil, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunas dan menyanggahnya, maka ia (tunas itu) menguat, lantas (tanaman itu) berdiri kokoh diatas cabang-cabangnya yang membuat kagum para petani, agar orang-orang kafir murka terhadap mereka.Allah menjanjikan ampunan dan ganjaran yang agung bagi orang-orang beriman dan beramal saleh dari mereka”.Qs:48:29.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegakan agama Allah berbanding lurus dengan kebencian orang-orang musyrik.Allah berfirman:&lt;br /&gt;”Dialah (Allah) yang telah mengutus RasulNya dengan petunjuk dan Din yang haq agar dimenangkannya atas din-din yang lain walau orang-orang musyrik membencinya”.Qs:9:33,Qs:61:9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandu qur’ani berjuang menegakkan bangunan Islam dan sendi-sendi ajarannya dalam kehidupan nyata, dan menempatkan diri sebagai pembela dari serangan-serangan yang bermaksud meruntuhkannya.Sepanjang masa Allah senantiasa menghadirkan para pembela agamaNya dari ekspresi kebencian orang-orang musyrik.Allah berfirman:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang beriman, barang siapa diantara kalian berpaling dari agamanya maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah cintai, dan merekapun mencintai Allah, bersikap tinggi di hadapan orang-oraang kafir dan merendahkan diri terhadap orang-orang beriman.Mereka berjihad di jalan Allah tanpa takut dicela.Itulah keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakiNya.Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”.Qs:5:54.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandu qur’ani hidup dalam tiga kesalehan yaitu: kesalehan ta’abbudi, kesalehan sosial, dan kesalehan prajurit sejati.Ali bin Abi Thalib mengungkapkan kesalehan ini dengan kalimat pendek;”rahib di malam hari penunggang kuda disiang hari (ruhbaanun billail fursaanun binnahar)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-2437736499443642559?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/2437736499443642559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/12/pandu-qurani-bagian-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2437736499443642559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2437736499443642559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/12/pandu-qurani-bagian-2.html' title='Pandu Qurani (bagian 2)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-3210840846966835212</id><published>2009-12-05T09:18:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T14:23:45.771-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Amal Dakwah Yang Profesional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SxqWxQTIvvI/AAAAAAAAAKk/TFWt0sNZbKc/s1600-h/dakwah-sekolah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SxqWxQTIvvI/AAAAAAAAAKk/TFWt0sNZbKc/s320/dakwah-sekolah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411803675172060914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ(3)ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ(الملك4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” Al Mulk:3-4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata profesional (itqaan) artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan sempurna. Tidak ada di dalamnya main-main. Semua perbuatan Allah mutqin. Maka ciptaan-Nya sangat sempurna. Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari kesempurnaan ciptaan Allah. Imam Ash Shuyuthi menulis sebuah buku berjudul ”Al Itqaan fii uluumil Qur’an”. Dan siapapun yang membaca buku ini, benar-benar tahu bahwa buku tersebut mencerminkan judulnya. Apa saja yang berkenaan dengan ilmu-ilmu Al Qur’an dibahasa oleh Imam Ash shuyuthi secara mendalam. Tidak hanya itu, buku ini sangat lengkap, mencakup berbagai pembahasan yang berkenaan dengan Ulumul Qur’an –ilmu-ilmu tentang Al Qur’an-. Para ulama mengatakan bahwa buku inilah yang paling pertama dan sempurna membahas tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al Qur’an. Siapapun yang ingin memahami seluk-beluk Al Qur’an, sangat di anjurkan –kalau tidak mau dikatakan diwajibkan- membaca buku ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Allah Tidak Pernah Main-main&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menggambarkan betapa Alah swt. dalam menciptakan langit benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat sedikitpun. Perhatikan Allah menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat sekali lagi. Lihatlah dengan kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata tehnologi yang paling canggih. Itu semua akan membuktikan bahwa penciptaan langit benar-benar sempurna. Dari ayat ini nampak beberapa makna yang penting untuk kita garis bawahi dalam pembahasan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam segala ciptaan-Nya. Setiap ciptaan Allah di alam semesta ini adalah mengagumkan. Maka sungguh tidak masuk akal jika kamudian manusia main-main. Tidak bersungguh-sungguh mentaati Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba renungkan, alasan apa untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang mengatakan bahwa semua ciptaan yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk tertawa-tawa, makan-minum-tidur? Sebegitu serius Allah menciptakan langit, lalu kemudian manusia yang diam di bawahnya tidak pernah memperhatikannya. Kalaupun memperhatikannya dan melakukan penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu tidak untuk mengenal Pencipta-Nya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi dokumentasi pengetahuan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih celaka lagi, adalah justru setelah menyaksikan keagungan angkasa raya, malah mengatakan semua itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakan-Nya? Benarkan kerapian sistem yang demikian luar biasa ini terjadi dengan sendirinya? Akal sehat yang mana yang mau menerima pernyataan bahwa itu terjadi dengan sendirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur’an Allah swt. selalu mengingatkan tentang bukti-bukti keagungan ciptaan-Nya, supaya manusia tahu bahwa tidak mungkin itu terjadi tanpa ada yang menciptakannya. Dalam surat Ar Rahman Allah swt. secara khusus mengulang-ulang pertanyaan untuk menggugah akal manusia. Menggugah agar melihat bahwa semua itu karena Allah swt. yang mengaturnya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan itu diulang sampai 31 kali. Dan di antara yang Allah sebutkan adalah penciptaan langit, Allah berfirman:&lt;br /&gt;”Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” Ar Rahman 7-9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa keseimbangan yang Allah tegakkan. Karena itu Allah berpesan dalam ayat ini: Janganlah sekali-kali kamu melanggar keseimbangan ini. Sebab sedikit kita melanggar, pasti akan membawa malapetakan, tidak saja kepada lingkungan di mana kita hidup, tetapi kapada diri kita sendiri. Akibat lebih jauh, Allah sangat murka kepada orang-orang yang asal-asalan berbuat di muka bumi. Asal-asalan maksudnya tidak mau ikut aturan yang telah Allah letakkan. Kemurukaan Allah –kalau tidak segera dibalas dengan taubat- tentu pada gilirannya dilanjutkan dengan adzab-Nya. Itulah yang pernah Allah tunjukkan kepada kaum Aad, Tsamud dan kaum Fir’aun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan betapa setiap perbuatan yang didasarkan atas main-main pasti akan membawa malapetaka terhadap kemanusiaan. Karena itu tidak ada pilihan dalam mejalani ketaatan kepada Allah kecuali bersungguh-sungguh dengan penuh keseriusan tanpa sedikitpun main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bahwa Allah menantang ”challange” siapapun untuk benar-benar mengecek kerapian ciptaan-Nya. Mengapa? Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas dibalas dengan main-main. Tapi sayangnya, masih banyak, bahkan mayoritas manusia yang main-main. Karena itu seorang mu’min dalam menegakkan ibadah kepada Allah jangan asal-asalan. Dalam pembukaan surah Al Mu’minun ketika Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa shalat harus khusyu’ (alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’un) bukan asal shalat. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam buknya ”Majmu’ Fatawa”, bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt. dalam surat Al Mu’minun tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai kebahagiaan. Artinya seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika shalatnya tidak khusyu’.&lt;br /&gt;Dalam banyak ayat mengenai shalat, Allah swt. selalu menggunakan kata aqaama – yuqiimu yang artinya menegakkan. Dalam pembukaan surat Al Baqarah misalnya Allah berfirman: wayuqiimuunash shalaata. Mengapa Allah tidak berfirman: wayushalluuna? Imam Al Jashshash dalam tafsirnya ”Ahkamul Qur’an” membahas rahasia ungkapan ini secara mendalam dan panjang lebar. Kesimpulannya bahwa di dalam kata aqaama-yuqiimu terkandung maknan keharusan menegakkan dengan serius dan sungguh-sungguh. Maksudnya bahwa seseorang dalam menegakkan shalat harus benar-benar memenuhi hak shalat, rukun dan khusyu’nya, ketepatan waktunya, dikerjakan secara berjamaah di masjid, wudhu’nya pun sebagai syarat sahnya shalat harus juga benar. Tempat dan pakaian harus bersih dan suci. Semua itu adalah gambaran dari kesungguhan seseorang dalam menegakkan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharusan Profesionalisme Dalam Berdakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dalam ayat di atas Allah swt. menunjukkan bahwa segala ciptaan-Nya sangat rapi, itu menunjukkan bahwa tidak benar seseorang dalam menyembah Allah asala-asalan. Apalagi dalam berdakwah kepada-Nya, yang segala gerak dan arahnya sangat berkaitan dengan selamat tidaknya orang banyak. Maksudnya bila seseorang berdakwah ke jalan yang salah, berapa banyak manusia yang tersesat karenanya. Sebaliknya bila seseorang berdakwah ke jalan yang benar, maka sungguh begitu banyak manusia yang akan menikmati buah keselamatan karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama terdahulu terkenal dengan keitqaanannya (baca: jiwa profesional) dalam mencari ilmu, mendokumentasikan dan mengamalkannya. Berbagai buku yang mereka tulis dalam berbagai bidang: tafsir, hadits, kedokteran, sejarah dan sebagainya semua mencerminkan bahwa itu semua merupakan buah kerja keras yang sangat serius. Bukan kerja main-main dan asal-asalan. Bahwa itu lahir dari spirit kesadaran amanah yang kelak di hari Kiamat pasti akan mereka pertanggungjawabkan. Mereka takut kalau ternyata ilmu yang mereka berikan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu banyak kisah-kisah yang sangat mengesankan tentang perjuangan mereka dalam berdakwah dan mencari Ilmu. Disebutkan bahwa Imam Al Ahmad bin Hanbal pernah berjalan kaki sejauh 30 ribu mil untuk mencari hadits. Disebutkan bahwa Iman Ibnu Hibban berlajar hadits dari 2000 syaikh.&lt;br /&gt;Di lapangan dakwah kita tidak bisa melukiskan dengan kata-kata bagaimana agungnya pengorbanan para sahabat, para tabiin dan para ulama untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran Allah di muka bumi. Tidak terhitung dari mereka yang mati syahid dalam berbagai pertempuran karena membela agama Allah. Tidak sedikit dari para ulama yang meninggalkan tanah air mereka untuk mengajarkan hukum-hukum Allah. Bahkan banyak dari mereka yang meniggal dunia di tempat yang jauh dari negeri kelahiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita teliti dari perjuangan Rasulullah saw. para sahabat dan para salafush shaleh dalam berdakwah, ada beberapa ciri yang menunjukkan keitqaanan yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mereka benar-benar serius mencari ilmu dan mengajarkannya. Mereka tahu bahwa agama ini tidak mungkin tegak tanpa pemahaman yang benar. Karenanya masalah ilmu bagi para ulama adalah fondasi utama yang harus dicapai sebelum langkah-langkah lainnya.&lt;br /&gt;2. Mereka benar-benar paham Islam secara komprehensif, karenanya mereka mengajarkan agama Islam secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal.&lt;br /&gt;3. Mereka benar-benar berkorban waktu, pikiran, tenaga dan bahkan jiwa raga dalam berusaha dalam menyebarkan ajaran Allah.&lt;br /&gt;4. Mereka benar-benar jujur dalam berdakwah. Artinya mereka tidak hanya mengajak orang lain mentaati Allah, melainkan mereka sendiri bersunggu-sungguh mengamalkannya.&lt;br /&gt;5. Mereka benar-benar paham bahwa dakwah bukan hanya bicara dan pidato, melainkan kesungguhan bergerak secara kolektif dan kerjasama, dalam bentuk organisasai yang rapi.&lt;br /&gt;6. Mereka benar-benar berusaha menyatukan umat Islam, bukan memecah belah di antara mereka. Sebab mereka tahu bahwa keberkahan dan pertolongan Allah akan turun ketika umat ini bersatu. Pun mereka tahu bahwa dakwah yang benar adalah ajakan istiqamah mengamalkan Islam, bukan ajakan fanatik kepada golongan.&lt;br /&gt;7. Lebih dari itu, mereka benar-benar ikhlash dalam beramal menyebarkan Islam. Sebab mereka tahu bahwa kunci sukses dalam mendapatkan kemenangan adalah ikhlas. Pun mereka tahu bahwa Allah tidak akan menurunkan bantuan-Nya tanpa keikhlasan. Lebih jauh bahwa syetan tidak akan mampun menghalang-halangi langkah-langkah dakwah selama para pelaku dakwan berjiwa ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa ciri itqaan dalam berdakwah, dari sini nampak bahwa keharusan membangun spirit itqaan dalam beramal di lapangan dakwah adalah prinsip yang tidak bisa disepelekan. Wallahu a’lam bishshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-3210840846966835212?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/3210840846966835212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/12/3-4-yang-telah-menciptakan-tujuh-langit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3210840846966835212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3210840846966835212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/12/3-4-yang-telah-menciptakan-tujuh-langit.html' title='Amal Dakwah Yang Profesional'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SxqWxQTIvvI/AAAAAAAAAKk/TFWt0sNZbKc/s72-c/dakwah-sekolah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-933223213580353797</id><published>2009-12-05T09:15:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T09:18:15.750-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Agar Futur tidak Menghantui</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SxqVv2dNbDI/AAAAAAAAAKc/CJhtpxezREY/s1600-h/juice1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SxqVv2dNbDI/AAAAAAAAAKc/CJhtpxezREY/s320/juice1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411802551543491634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada fenomena kelesuan atau futur dalam dimensi aqidah dan umumnya terjadi karena pergeseran orientasi hidup, lebih berorientasi pada materi duniawi an sich. Dan ada juga dalam dimensi ibadah dengan lemahnya disiplin -indhibath- terhadap amaliyah ubudiyah yaumiyah (harian). Adapun dalam dimensi fikriyah terlihat dengan lemahnya semangat meningkatkan ilmu. Di sisi lain pergeseran adab islami menyelimuti akhlaq mereka, belum lagi rasa jenuh dalam mengikuti aktivitas tarbawiyah atau pembinaan keislaman dan hubungan yang terlalu longgar antar lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dalam hidup akan banyak ditemui bermacam jalan. Kadang datar, kadang menurun, kadang pula meninggi. Begitu pula dalam perjalanan dakwah. Ada saatnya para muharrik (orang yang bergerak) menemui jalan yang lurus dan mudah. Namun tidak jarang menjumpai onak dan duri. Hal demikian juga terjadi pada muharrik. Suatu saat ia memiliki kondisi iman yang tinggi. Di saat lain, iapun dapat mengalami degradasi iman. Tabiat manusia memang menggariskan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi iman yang turun ini, para muharrik kadang terkena satu penyakit yang membahayakan kelangsungan gerang langkah dakwah. Yaitu penyakit futur atau kelesuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak atau diam setelah bergerak, atau malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya futur bagi muharrik, sebenarnya merupakan hal yang wajar. Asal saja tidak mengakibatkan terlepasnya muharrik dari roda dakwah. Hanya malaikat yang mampu kontinyu mengabdi kepada Allah dengan kualitas terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah, “dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Rasulallah sering berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku akhirnya. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku keridhaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku saat bertemu dengan-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab Futur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun futur merupakan hal yang mungkin terjadi bagi muharrik, ada beberapa penyebab yang dapat menyegerakan timbulnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebihan pada suatu jenis amal akan berdampak kepada terabaikannya kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sikap yang dituntut pada kita dalam beramal adalah washathiyyah atau sedang dan tengah-tengah agar tidak terperangkap dalam ifrath dan tafrith (mengabaikan kewajiban yang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain Rasul bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun para sahabat sangat menjaganya. Mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari hal yang mubah karena takut terjatuh pada yang haram. Berlebihan dalam makanan menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Kegemukan akan memberatkan badan. Sehingga orang menjadi malas. Malas membuat seseorang menjadi santai. Dan santai mengakibatkan kemunduran. Karena itu secara keseluruhan hal ini bisa menghalangi dalam amal dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan. Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (H.R. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setan telah memasuki hatinya, maka tak sungkan hatinya akan melahirkan zhan (prasangka) yang tidak pada tempatnya kepada organisasi atau jamaah. Jika berlanjut, hal ini menyebabkan hilangnya sikap tsiqah (kepercayaan) kepada organisasi atau jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjamaah, seseorang akan selalu mendapatkan adanya kegiatan yang selalu baru. Ini terjadi karena jamaah merupakan kumpulan pribadi, yang masing-masing memiliki gagasan dan ide baru. Sedang tanpa jamaah seseorang dapat terperosok kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu imam Ali berkata: “Sekeruh-keruh hidup berjamaah, lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingat akan adanya hisab atas setiap amalnya. Kebalikannya, sedikit mengingat kehidupan akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemacu amal berupa keinginan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah pada hari yaumul hisab nanti. Karena itu Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan ibadah secara tekun, membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Selalu terjaga komunikasi sambung rasa antara ia dengan Allah swt. Ini membuatnya mempersiapkan kondisi ruhiyah atau spiritual yang baik sebagai dasar untuk bergerak dakwah. Namun sebaliknya, kelalaian untuk melaksanakan amalan, berupa rangkaian ibadah baik yang wajib maupun sunnah, dapat membuat seseorang terjerumus untuk sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Allah. jika ini terjadi, maka sulit baginya menjaga kondisi ruhiyah dalam keadaan taat kepada Allah. kadang hal ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk berbicara kepada hati. Dakwah yang benar, selalu memulainya dengan memanggil hati manusia, sementara sedikitnya pelaksanaan ibadah membuatnya sedikit memiliki cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman: “Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perjuangan selalu menghadapi tantangan. Haq dan bathil selalu berusaha untuk memperbesar pengaruhnya masing-masing. Akan selalu ada orang-orang Pendukung Islam. Di lain pihak akan selalu tumbuh orang-orang pendukung hawa nafsu. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki akan bertemu dalam suatu “fitnah”. Dalam bahasa Arab, kata “fitnah” berasal dari kata yang digunakan untuk menggambarkan proses penyaringan emas dari batu-batu lainnya. Karena itu “fitnah” merupakan sunnatullah yang akan mengenai para pelaku dakwah. Dengan “fitnah” Allah juga menyaring siapa hamba yang masuk golongan shadiqin dan siapa yang kadzib (dusta). Dan jika fitnah itu datang, sementara ia tidak siap menerimanya, besar kemungkinan akan terjadi pengubahan orientasi dalam perjuangannya. Dan itu membuat futur. Allah Berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al-Ahqaf: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi lingkungan (biah) dapat menentukan kualitas seseorang. Teman yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Akan tumbuh suasana ta’awun atau tolong-menolong dan saling menasihatkan. Sementara teman yang buruk dapat melunturkan hamasah (kemauan) yang semula telah menjadi tekad. Karena itu Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang atas diri sahabatnya, hendaklah melihat salah seorang di antara kalian siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, spontanitas dalam beramal (Tidak ada perencanaan yang baik dalam beramal, baik dalam skala individu atau fardi maupun komunitas atau jama’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal yang tidak terencana, yang tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Hanya akan timbul kepenatan dalam berdakwah, sementara hasil yang ditunggu tak kunjung datang. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Bahkan untuk menjaga diri sendiri pun sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Mengobati Kelesuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jauhi kemaksiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.” (Thaha: 81)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (Al-A’raf: 96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah swt. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan: 63-64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hadits Rasulullah saw. banyak menginformasikan adanya waktu-waktu tertentu dimana Allah swt. lebih memperhatikan doa hamba-Nya. Sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, antara dua khutbah, ba’da Ashar hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, rajab dll. Waktu-waktu itu memiliki keistimewaan yang dapat mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan. (Al-Baqarah: 143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, melazimi Jamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jamaah seorang muharrik akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuatnya selalu terikat dengan komitmennya semula. Juga jamaah dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan rutinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan pelaku dakwah dan pejuang akan tabiat jalan yang hendak dilalui serta rambu-rambu yang ada, akan membuatnya siap, minimal tidak gentar, untuk menjalani rintangan yang akan datang. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan beberapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perencanaan yang baik, Pembagian tugas yang jelas, serta kesadaran akan tanggung jawab yang diemban, dapat membuat harakah menjadi harakatul muntijah (harakah yang berhasil). Perencanaan akan menyadarkan pejuang, bahwa jalan yang ditempuh amat panjang. Tujuan yang akan dicapai amat besar. Karena itu juga dibutuhkan waktu, amal dan percobaan yang besar. Jika ini semua telah dimengerti, insya Allah akan tercapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, memilih teman yang shalih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang tergantung pada sahabatnya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, menghibur diri dengan hal yang mubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercengkerama dengan keluarga, mengambil secukupnya kegiatan rekreatif serta memberikan hak badan secara cukup mampu membuat diri menjadi segar kembali untuk melanjutkan amal yang sedang dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa futur menyebabkan jalan dakwah yang harus di tempuh menjadi lebih panjang, sebab tidak mendapatkan ma’iyatullah (kebersamaan dan pembelaan Allah) dan daya intilaq (lompatan) kita menjadi lebih berat, baik karena borosnya biaya dan rontoknya para pejuang dan penyeru dakwah. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita, Amin. Wallahu a’lam bis shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-933223213580353797?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/933223213580353797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/12/agar-futur-tidak-menghantui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/933223213580353797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/933223213580353797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/12/agar-futur-tidak-menghantui.html' title='Agar Futur tidak Menghantui'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SxqVv2dNbDI/AAAAAAAAAKc/CJhtpxezREY/s72-c/juice1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-3826578480767897021</id><published>2009-11-23T03:42:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T03:44:32.220-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Karakteristik Kader Pilihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Swp1gXiNMNI/AAAAAAAAAKU/5clRosvjg5o/s1600/Karakter+Kader+Pilihan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Swp1gXiNMNI/AAAAAAAAAKU/5clRosvjg5o/s320/Karakter+Kader+Pilihan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407263501545451730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah rahimakumullah,&lt;br /&gt;Dakwah yang efektif, semakin lama ia dikumandangkan semakin luas pula pengaruhnya. Gerakan dakwah yang efektif –dengan demikian- semakin tua usianya, semakin dewasa dalam menyikapi tantangan-tantangan yang dihadapinya sekaligus semakin banyak pendukungnya. Ini bisa diibaratkan dengan pohon kebaikan yang memiliki akar yang kokoh, pohonnya tinggi menjulang, dan buah-buahnya bisa dinikmati oleh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 24-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi gerakan dakwah yang efektif, dibutuhkan prasyarat yang tidak ringan. Di samping manhaj yang jelas dan pemimpin yang handal, ia juga membutuhkan kader-kader pilihan. Kader-kader pilihan yang menjadi prasyarat ketiga ini setidaknya memiliki lima karakter (خصائص الرجال الخيارية) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Membangun Ruh Kegairahan (بناء روح القيرة)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwatal iman,&lt;br /&gt;Kader-kader pilihan adalah mereka yang senantiasa membangun ruh kegairahan; sehingga tertanam ghirah (semangat, gairah) dalam setiap aktifitasnya. Maka, setiap kali mengemban suatu amanah dakwah, kader itu dengan rasa ikhlas dan penuh antusias melakukannya. Dalam setiap aktifitas tarbawi ia selalu 'menikmati' bukan terbebani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca perhelatan siyasi 2009, ruh kegairahan ini mutlak diperlukan. Tahun pertama dalam siklus perjuangan dakwah berarti tahun pembinaan; hari-hari di mana kita konsentrasi dalam aktifitas tarbawi, menguatkan kembali halaqah, tatsqif, daurah, dan sebagainya. Di samping untuk kader-kader yang telah bergabung sejak lama, waktu kita sekarang juga harus dimanfaatkan untuk melayani konstituen dengan memberikan hak tarbiyah pada mereka. Ini semua membutuhkan ruh kegairahan kader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih penting lagi, di penghujung mihwar muassasi ini kader-kader dakwah harus lebih bersemangat dan bergairah dalam beribadah kepada Allah SWT. Untuk apakah dakwah kita selama ini jika bukan untuk menggapai ridho-Nya? Apakah kebaikan yang akan kita dapatkan jika kita sendiri telah kehilangan ruh semangat dan kegairahan bertaqarrub kepada Allah Azza wa Jalla?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (139) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (140) [آل عمران/139، 140]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran : 139-140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangkitkan Semangat Inisiatif (تشجيع المبادرة)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah hafidzakumullah,&lt;br /&gt;Tidak semua rencana kita bisa berjalan 100%. Tidak semua yang terjadi dan dilalui dakwah sesuai dengan langkah-langkah yang telah diprediksi sebelumnya. Tidak semua antisipasi jamaah mampu meng-cover segala yang datang di masa mendatang. Karenanya, semangat inisiatif mutlak diperlukan. Dan ini perlu dilatih untuk bisa dimiliki oleh kader-kader dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih saat dakwah kita telah bersentuhan langsung dengan ranah politik. Dinamika perpolitikan yang tidak terduga kerap terjadi. Tidak mungkin semuanya bisa diprediksi secara tepat dan disiapkan langkah menghadapinya step by step. Tanpa kemampuan inisiasi, kader-kader dakwah kita akan gagap setiap menghadapi masalah baru dan hal-hal di luar dugaan. Inilah mengapa setiap kader dakwah, juga harus menyediakan ruang ketidakterdugaan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiatif ini tidak hanya diperlukan dalam konteks amal siyasi. Dalam setiap amanah dakwah yang diemban kader, sering kali ada tuntutan untuk melakukan inisiasi. Misalnya ketika seorang kader dimanahi sebagai panitia daurah sementara muwajjih yang sudah tiba jadwalnya belum juga datang. Jika tidak memiliki inisiatif, peserta bisa bosan karena dibiarkan tanpa kegiatan. Itu memerlukan inisiatif kader untuk memanfaatkan waktu tersebut atau mengganti muwajjih jika memang berhalangan tetap. Demikian pula dalam aktifitas halaqah; jika murabbi tidak juga datang sementara hp-nya tidak bisa dihubungi, perlu inisiatif para mutarabbi untuk memulai halaqah dengan barnamaij yang telah disepakati bersama. Demikian juga jika dalam sebuah struktur ketua bidang tidak juga mau mengaktifkan syura dan programnya, staf-nya perlu mengambil inisiatif untuk mendorongnya agar syura dan program-program diaktifkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah,&lt;br /&gt;Inisiatif ini harus dimiliki oleh kader dakwah. Sudah bukan saatnya lagi kader dakwah diam menunggu ta'limat lalu waktunya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat bagi umat. Inisiatif harus dikembangkan; selama tidak bertentangan dengan syariat dan tsawabit dalam jamaah serta berbasis maslahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah betapa dakwah menuai banyak manfaat dari inisiatif kader-kadernya. Saat Perang Badar, Habab bin Al-Mundzir mengambil inisiatif dan menyampaikannya kepada Rasulullah agar pasukan Islam mengambil posisi di dekat mata air badar. Inisiatif ini membawa kontribusi bagi kemenangan perang badar! Pun saat Perang Ahzab, Salman Al Farisi mengambil inisiatif dan mengusulkannya kepada Rasulullah agar membuat khandaq (parit). Perang ini pun dimenangkan oleh umat Islam dan ia dikenal dengan Perang Khandaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiatif merupakan satu langkah maju dalam rangka i'daadul quwwah; menyiapkan dan membangun kekuatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ [الأنفال/60]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (QS. Al-Anfal : 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Jiwa Tanggung Jawab (بناء روح المسؤولية)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fiddin yahdiikumullah,&lt;br /&gt;Kader-kader pilihan adalah mereka yang juga membangun jiwa tanggung jawab dalam dirinya. Kader sejati bukanlah mereka yang selalu menghindari amanah; dan pada saat yang sama juga tidak berambisi mengemban amanah! Sikap pertengahan yang harus diambil; siap menjalankan segala amanah, siap melaksanakan setiap tanggungjawab yang dipercayakan jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mihwar daulah yang sebentar lagi kita masuki membutuhkan banyak kader-kader dakwah yang teruji kepemimpinan dan tanggungjawabnya di segala ranah kehidupan. Dakwah membutuhkan kader-kader yang siap mengemban tanggungjawab di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun dakwah juga tidak boleh kekurangan kader yang berperan memikul tanggung jawab pada amal thulabi, amal niqabi, dan amal mihani. Semua kader, tidak boleh tidak, harus mau dan mampu mengambil tanggung jawab sesuai kapasitasnya. Tapi semuanya harus terlibat dalam tanggungjawab menolong agama Allah, sebagaimana para hawariyyin telah mengambil tanggungjawab itu dan mendeklarasikannya di hadapan Nabi dan qiyadah mereka; Isa Al-Masih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ [آل عمران/52]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (QS. Ali Imran : 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Semangat Pengorbanan (بناء روح البذل والتضحية)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah,&lt;br /&gt;Karakter lain yang harus ada pada kader-kader pilihan adalah semangat berkorban (At-Tadhiyyah). Perjuangan dakwah pasti membutuhkan pengorbanan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Pengorbanan itu bisa berupa pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa. Sementara perjuangan tertinggi –jihad fii sabiilillah- mengharuskan kombinasi pengorbanan semua hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam mengarungi dakwah ini kita belum berkurban, maka peran kita dalam dakwah perlu dipertanyakan. Bahkan, pengorbanan (at-tadhiyah) merupakan salah satu rukun baiat (arkanul baiat) yang disyaratkan Hasan Al-Banna bagi kader-kader dakwah. Tentu saja, pengorbanan yang diterima Allah SWT adalah pengorbanan yang ikhlas, dari hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [المائدة/27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Maidah : 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan di jalan dakwah merupakan konsekuensi perjuangan Islam. Dan jika dengan keikhlasan kader dakwah mengorbankan diri dan hartanya, inilah transaksi yang akan dibeli Allah dengan surga-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [التوبة/111]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah : 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan Potensi Diri (ترقية الطاقة الذاتية)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter kelima bagi kader-kader pilihan adalah meningkatkan potensi diri (Tarqiyyah Ath-Thaqah Adz-Dzaatiyah). Setiap ikhwah –sebagaimana manusia umumnya- adalah pribadi yang unik. Masing-masing memiliki potensi yang tidak seragam. Ada yang potensinya pada seni. Ada yang potensinya terletak pada bidang komunikasi. Ada yang potensinya pada bidang teknik, ekonomi, dan sebagainya. Potensi-potensi ini harus dikembangkan. Kalaupun saat ini baru disadari potensinya tidak sesuai dengan profesi yang digeluti, ia bukan halangan untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya dalam trabiyah sering terjadi perputaran amanah, restrukturisasi, dan sebagainya. Sebenarnya, selain menyegarkan semangat dan menguatkan ketaatan pada jamaah dan qiyadah, proses itu juga dibutuhkan untuk mengetahui potensi ikhwah. Jangan-jangan ada potensi tersembunyi yang selama ini tidak pernah tersentuh. Karenanya kita dapatkan, seseorang yang kurang berhasil sebagai bendahara, berkembang sangat cepat justru setelah ia ditunjuk sebagai ketua. Ternyata potensinya adalah memimpin orang; bukan mengatur uang! Demikian pula banyak orator handal yang kita temukan dalam jamaah dakwah ini saat mereka ditunjuk secara tiba-tiba menggantikan orator yang berhalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai kita mengulangi kesalahan penduduk Madyan yang memiliki potensi kebaikan, namun ia terpendam dan tidak pernah dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ [هود/84]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS. Huud : 84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita mampu menumbuhkan lima karakter kader pilihan dalam diri kita sehingga langkah kita semakin mantap dalam menyambut mihwar daulah, dan hanya kepada Allah kita mengharapkan rahmat, taufiq, dan hidayah. Wallaahu a'lam bish shawab. [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-3826578480767897021?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/3826578480767897021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/karakteristik-kader-pilihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3826578480767897021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3826578480767897021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/karakteristik-kader-pilihan.html' title='Karakteristik Kader Pilihan'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Swp1gXiNMNI/AAAAAAAAAKU/5clRosvjg5o/s72-c/Karakter+Kader+Pilihan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-669382258214932517</id><published>2009-11-23T03:28:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T03:38:35.619-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Persatuan Islam Suatu Kemestian</title><content type='html'>Ada ciri khas yang menonjol dari umat Islam. Mereka adalah umat tauhid dan satu kesatuan. Sejarah telah memperlihatkan dengan jelas bahwa umat Islam tidak akan dapat bersatu kecuali saat mereka berpegang teguh pada akidah tauhid yang benar. Sebesar penyimpangan mereka terhadap ajaran tauhid yang benar, sebesar itu pula yang membuat umat ini berpecah-belah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an telah menggambarkan ikatan tauhid dengan kesatuan pada beberapa ayat: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’: 92). “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an selalu mengingatkan umat Islam tentang hakikat mereka sebagai umat yang satu. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Al-Qur’an melarang dengan keras perpecahan dan perbedaan. “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengingatkan orang-orang yang beriman tentang orang-orang kafir yang berpecah belah, dan anjuran agar tidak mengikuti mereka. “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’aam: 159) “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengingatkan dan menegaskan tentang jalan orang-orang yang keluar dari agama Allah. “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maaidah: 91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang-orang — dari luar maupun dari dalam– yang menghalangi umat Islam untuk bersatu baik. Dari dalam, orang-orang munafik berusaha sekuat tenaga untuk memecah belah orang beriman dengan memunculkan permusuhan dan perpecahan. “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang. orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (At-Taubah: 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah syiar orang-orang kafir sejak dulu. Mereka dengan cara dan media yang dimiliki berusaha mengacaukan dan memecah belah umat Islam sebelum mencapai tujuan akhir mereka: menguasai orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui syariat, akhlaq, dan muamalah, Islam mengokohkan ikatan ukhuwah pemeluknya. Sehingga lima rukun Islam semuanya memiliki nuansa persatuan Islam dan ukhuwah imaniyah. Kaum muslimin di manapun ia berada pasti akan tunduk sepenuhnya kepada syariat dan ajaran Tuhan Yang Satu. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam juga tunduk kepada ajaran kesatuan politik dan ketaatan kepada Tuhan Yang Satu, Rasul teladan yang satu, dan pemimpin mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisaa’: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan semua umatnya untuk bangkit melawan musuh-musuhnya, sehingga jihad menjadi fardu ‘ain bila negeri Islam diserang musuh. “Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36). “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 193)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolong orang-orang yang tertindas adalah kewajiban umat Islam yang mampu bertindak dan menolong mereka. “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.” (An-Nisaa’: 75). “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.’ Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munaafiquun: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Islam meletakkan kaidah-kaidah akhlak dan iman untuk menjaga kemurnian dan keutuhan ukhuwah Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, serta meninggalkan kerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kelembutan mereka seperti tubuh yang satu. Apabila bagian tubuh yang satu mengeluh kesakitan, maka seluruh tubuhnya merasakan demam dan tidak bisa tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memerintahkan orang beriman untuk mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang sengketa. “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga menetapkan beberapa kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Janganlah seorang muslim menzhalimi saudaranya dan janganlah seorang muslim membiarkan, tidak menolong saudaranya. Barangsiapa yang membantu menuntaskan keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya. Barang siapa yang melapangkan kesempitan saudaranya, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya nanti hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah juga bersabda, “Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang bersin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan ukhuwah Islam, Islam melarang segala yang dapat merusak ukhuwah. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling hasad dan jangan pula saling mencari-cari kesalahan serta janganlah kalian saling membenci dan saling menjauhi. Janganlah seorang muslim membeli barang yang telah ditawar saudaranya. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk hanya lantaran ia mengejek saudaranya sesama muslim. Seorang muslim atas muslim lainnya itu terpelihara nyawanya, hartanya, dan kehormatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terlihat di antara dua orang muslim saling berbuat zhalim, maka umat Islam dituntut untuk mengembalikan haknya dan mencegahnya sesuai dengan syariat Islam yang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar merupakan rahasia keutamaan umat ini. “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik..” (Ali ‘Imran: 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah Syarat Mendapat Kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya merealisasikan ukhuwah merupakan syarat tercapainya kemenangan Islam. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaaff: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ukhuwah sudah tidak ada dan iman sudah lemah, maka akan datang kekalahan. “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan seizin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Dari Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dahulu umat Islam adalah umat yang satu, Islam memimpin dunia dengan keadilan selama sekian abad. Jika kita teliti masa-masa kemenangan Islam, maka akan kita temukan bahwa semuanya itu tergantung kepada terealisirnya kesatuan umat. Kemenangan dalam peperangan di masa Rasulullah saw, maupun masa-masa penaklukan pasukan Islam ke hampir penjuru dunia, adalah buah dari kuatnya persatuan umat. Namun ketika ukhuwah melemah, kita dapat lihat reaksi pasukan Islam menghadapi serangan musuh-musuh Islam. Misalnya ketika Palestina dan Mesjid Al-Aqsha jatuh ke tangan pasukan Salib atau saat Baghdad dikuasai pasukan Tartar. Ketika kesatuan dan persatuan Islam lemah, lemah pula kekuatan umat Islam di hadapan musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh Islam telah cermat mengamati sumber kekuatan umat Islam Karena itu fokus sasaran serangan mereka kepada umat Islam adalah melemahkan ikatan ukhuwah pada diri umat Islam dengan berbagai sarana yang mereka miliki. Dan kesatuan politik umat Islam telah tercerabut bersamaan dengan jatuhnya Kekhalifahan Utsmani di Turki. Sejak itu negara-negara Barat menjajah dan menjarah negeri-negeri Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, persatuan Islam bukanlah teori. Ini adalah dasar wawasan pemahaman Islam. Pandangan kita tentang Islam tidaklah benar jika tidak memahami konsep ukhuwah dalam Islam. Jika kita ingin kondisi umat Islam berubah menjadi baik, merealisasikan ukhuwah adalah tuntutan yang tidak bisa tidak mesti diaplikasikan oleh seluruh elemen umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada senjata yang ampuh untuk menghadapi kepungan kekuatan musuh, kecuali kesolidan umat Islam. Persatuan umat adalah sebuah jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-669382258214932517?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/669382258214932517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/persatuan-islam-suatu-kemestian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/669382258214932517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/669382258214932517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/persatuan-islam-suatu-kemestian.html' title='Persatuan Islam Suatu Kemestian'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5896697292303606504</id><published>2009-11-11T20:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T20:06:43.252-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepanduan'/><title type='text'>Pandu Qurani (bagian 1)</title><content type='html'>Pandu adalah kata yang digunakan sebagai istilah bagi orang yang memiliki karakter yang berporos pada kebaikan.Di negeri ini pandu disimbolkan dengan cikal kelapa yang bermakna proses pertumbuhan yang berkelanjutan di satu sisi,dimana ia dapat tumbuh dengan mudah sehingga bisa mempertahankan eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain bermakna manfaat yang dihasilkan oleh setiap aspek yang dimiliki, dari akar sampai ke buah.Di kebanyakan negeri-negeri lain, sebagaimana Pandu Keadilan, ia disimbolkan dengan bunga leli yang memiliki multi manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita akan membicarakan pandu yang berorientasi kepada kitabullah Al-Qur’an yang dalam bahasa da’wah disebut orang yang ‘shaalihun fii nafsihii naafi’un li ghairihii mujaahidun fillaah’.Pandu yang satu ini kita sebut sebagai ‘Pandu Qur’ani’.Pandu Qur’ani adalah imam bagi orang-orang bertaqwa dalam ketauladanan, pelayanan serta dakwah dan jihad.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;A.Ketauladanan Pandu Qur’ani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an menggambarkan pandu sebagai orang saleh yang patut ditauladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;“Sungguh terdapat suri tauladan bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika berkata kepada kaum mereka,‘sungguh kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkar terhadap kalian, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya hingga kalian beriman kepada (mengilahkan) Allah semata’, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya,’akan saya mintakan ampunan untukmu, dan saya tidak memiliki apa-apa untuk (menyelamatkannmu) dari (adzab) Allah.Tuhan kami, kepadamu kami berserah diri, kepadamu kami bertobat, dan kepadamu kami akan kembali’.Tuhan kami jangan engkau biarkan kami dicelakai oleh orang-orang kafir, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Sungguh terdapat pada mereka suri tauladan bagi orang-orang yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat”.Qs:60:4-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi kalian yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat”.Qs:33:21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tauladan utama dalam segala hal dari segala sisi kehidupan, baik  dalam hal ilmu, iman maupun amal, dan baik beliau sebagai pribadi, kepala keluarga, anggota dan tokoh masyarakat, maupun sebagai pemimpin ummat dan negara.Beliau kuat dalam ruhiyah, aqliyah dan jasadiah sekaligus.Beliau adalah sebaik-baik mukmin yang dicintai oleh Allah karena dengan iman dan kekuatannya lahirlah amal-amal ibadah baik mahdlah maupun sosial yang mengagumkan.Dengan iman dan kekuatannya pula beliau berjuang menunaikan risalah Allah yang diembannya, menegakkan dinullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tekun dalam mengejar pahala yang terbaik dari Allah meskipun ia sudah dijamin masuk sorga. Ketika berangkat menuju perang Uhud, beliau bersama Ali dan seorang sahabat lainnya radliallahu ‘anhuma mempunyai jatah seekor onta untuk dikendarai secara bergantian.Ali dan temannya sepakat menyerahkan jatah tunggangan mereka kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah tersinggung dan berkata,”kalian tidak lebih kuat daripada saya ( untuk berjalan), dan kalian tidak lebih membutuhkan pahala daripada saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengajari ummatnya untuk tekun mengejar pahala dari Allah.Sabda beliau:“Shalat (berjama’ah) yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh.Seandainya mereka mengetahui pahala yang didapatkan pada keduanya maka mereka pasti menghadirinya meskipun harus datang dengan merangkak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beramal jama’i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang pemimpin yang pintar menyuruh belaka melainkan memberi contoh kerja yang optimal, seperti ketika beliau bersama para sahabat membangun masjid Qubaa’.Badan beliau penuh tanah karena bolak balik memanggul tanah.Sikap beliau memberi semangat bagi para sahabat sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau suritauladan dalam mengamalkan Al-Qur’an, dan seperti itulah ummatnya seharusnya.Bukankah para hamba Allah selalau memanjatkan do’a;”Wahai Tuhan kami karuniailah kami dari istri-istri dan keturunan-keturunan kami penyejuk mata bagi kami dan jadikanlah kami imam (pemimpin/tauladan) bagi bagi orang-orang yang bertaqwa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-5896697292303606504?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/5896697292303606504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/pandu-qurani-bagian-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5896697292303606504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/5896697292303606504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/pandu-qurani-bagian-1.html' title='Pandu Qurani (bagian 1)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-3121180854989739904</id><published>2009-11-11T20:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T20:13:41.933-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Loyalitas dalam Islam (Al-Wala')</title><content type='html'>Bukti keimanan seseorang adalah adanya amal nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh karena iman bukan sekadar pengakuan kosong dan “lip service” belaka, tanpa mampu memberikan pengaruh dalam kehidupan seorang Mukmin. Selain merespon seluruh amal islami dan menyerapnya ke dalam ruang kehidupannya. Seorang Mukmin juga harus selalu loyal dan memberikan wala’-nya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia harus mencintai dan mengikuti apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh perbuatan yang dilarang. Perhatikan firman Allah berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-Maa`idah: 54-55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya,’ jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 31-32)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di sisi lain, seorang Mukmin tidak boleh loyal dan cinta terhadap musuh-musuh Islam. Oleh karenanya, dalam beberapa firman-Nya, Allah mengingatkan orang-orang beriman tentang hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka, janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (an-Nisaa`: 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maa`idah: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setiap Muslim harus memahami dengan baik tentang konsep al-wala’ dalam perspektif Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologi, al-wala’ memiliki beberapa makna, antara lain ‘mencintai’, ‘menolong’, ‘mengikuti’ dan ‘mendekat kepada sesuatu’. Ibnu al-A’rabi berkata, “Ada dua orang yang bertengkar, kemudian pihak ketiga datang untuk meng-ishlah (memberbaiki hubungan). Kemungkinan ia memiliki kecenderungan atau wala’ kepada salah satu di antara keduanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun maula memiliki banyak makna, sebagaimana berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ar-Rabb, Pemilik, Sayyid (Tuan), Yang Memberikan kenikmatan, Yang Memerdekakan, Yang Menolong, Yang Mencintai tetangga, anak paman, mitra, atau sekutu, Yang Menikahkan mertua, hamba sahaya, dan yang diberi nikmat. Semua arti ini menunjukkan arti pertolongan dan percintaan.” (Lihat Lisanul-Arab, Ibnu Mandzur, 3/985-986)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kata muwaalah adalah anonim dari kata mu’aadah ‘permusuhan’ dan kata al-wali adalah anonim dari kata al-aduw ‘musuh’. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (Muhammad: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam terminologi syariat, al-wala’ bermakna penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhai Allah, berupa perkataan, perbuatan, keyakinan, dan orang (pelaku). Jadi, ciri utama orang Mukmin yang ber-wala’ kepada Allah SWT adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Ia mengimplementasikan semua itu dengan penuh komitmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Aqidah Wala’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akidah al-wala’ ini memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam keseluruhan muatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ia merupakan bagian penting dari makna syahadat. Maka, menetapkan “hanya Allah” dalam syahadat tauhid berarti seorang Muslim harus berserah diri hanya kepada Allah, membenci dan mencintai hanya karena Allah, lembut dan marah hanya kepada Allah, dan ia harus memberikan dedikasi maupun loyalitasnya hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’aam: 162)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (an-Nahl: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia merupakan bagian dari ikatan iman yang kuat. Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR Ahmad dalam Musnadnya dari al-Bara’ bin ‘Azib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, ia merupakan sebab utama yang menjadikan hati bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga hal yang apabila seseorang mendapatkan dalam dirinya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasulnya lebih ia cintai daripada dirinya sendiri; hendaklah ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah; hendaklah ia benci kepada kekufuran seperti bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka setelah Allah menyelamatkannya daripadanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, ia merupakan tali hubungan di mana masyarakat Islam dibangun di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR Ahmad dalam Musnadnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, pahala yang sangat besar bagi orang yang mencintai karena Allah. Rasulullah saw. bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku (Allah) akan berada di atas mimbar dari cahaya pada hari kiamat di mana para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, di mana pada hari itu tiada naungan kecuali naungan-Nya. (Di antara mereka) adalah dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, perintah syariat untuk mendahulukan akidah al-wala’ ini daripada hubungan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, mendapatkan walayatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, akidah ini merupakan tali penghubung yang kekal di antara manusia hingga hari kiamat. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” Al-Baqarah:166. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-3121180854989739904?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/3121180854989739904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/loyalitas-dalam-islam-al-wala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3121180854989739904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3121180854989739904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/loyalitas-dalam-islam-al-wala.html' title='Loyalitas dalam Islam (Al-Wala&apos;)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-8527598916808458669</id><published>2009-11-11T20:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T20:03:18.832-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Intima Pada Gerakan Da'wah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SvuI9ioXcbI/AAAAAAAAAKM/gG27DJFVpS4/s1600-h/berbaris.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SvuI9ioXcbI/AAAAAAAAAKM/gG27DJFVpS4/s320/berbaris.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403062768810553778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memperhatikan perjalanan hidup kita, kita akan menemukan bahwa Allah telah memberikan kita nikmat dan karunia yang tidak terhingga kepada kita. Dimulai ketika kita terlahir dalam keluarga muslim dan hingga sekarang, Allah masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Berapa banyak manusia yang terlahir dalam lingkungan keluarga non-muslim hingga dewasa, bahkan sampai ajal menjemput. Mereka tetap tidak mendapatkan atau menjaga fitrah penciptaannya, yaitu Islam seperti disebutkan dalam hadits “kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah” (tiap bayi dilahirkan atas fitrah Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini karunia besar yang patut kita syukuri? Allah mencela dan mengancam orang yang tidak mensyukuri nikmat dengan siksa yang pedih nanti di akhirat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kelimpahan nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepada manusia disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Mulk:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an mengungkapkan keberlimpahan kebaikan Allah dengan ungkapan “tabarak” yang arti sebenarnya adalah Maha Pemberi kebaikan yang berlimpah dan tak terhingga. Pengertian ini dapat kita lihat di ayat lain yang menyebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya.” (Ibrahim:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas cukup untuk menjadi alasan pribadi bagi seorang muslim untuk bersyukur dan membela Islam. Dalam tinjauan yang lebih luas lagi, Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi. Untuk tujuan ini, maka intima (berafiliasi) kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah Taala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah ideologi dan risalah Allah yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta. Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam. Pembelaan dan keberpihakan kita kepada Islam merupakan wujud intima kita kepada Islam dan gerakan dakwah. Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intima kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima yang dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu syairnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحُرُّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لحَظَةٍ أَو انْتَمَى لمِنَ أَفَادَهُ لَفْظَة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita. Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah. Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi kita, dari qiyadah kita dan saudara sejawat kita. Jadi kita telah banyak berutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah Taala, sumber segala kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul (penanggung jawab) kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan hanya lahzhah(beberapa menit), tetapi bertahun-tahun kita merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat yang kita dapatkan dari perkataan murabbi kita bukan hanya lafzhah(sepatah dua patah), tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi yang mereka dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita kepada Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia. Kepada merekalah kita menunjukkan intima Islam kita. Kepada murabbi, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima kita kepada gerakan dakwah, karena Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala’ (memberikan loyalitas) kepada Allah, kepada Rasul dan kepada pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah, insya Allah. Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-8527598916808458669?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/8527598916808458669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/intima-pada-gerakan-dawah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8527598916808458669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8527598916808458669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/intima-pada-gerakan-dawah.html' title='Intima Pada Gerakan Da&apos;wah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SvuI9ioXcbI/AAAAAAAAAKM/gG27DJFVpS4/s72-c/berbaris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-760967736051869679</id><published>2009-11-07T20:59:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T18:10:39.267-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Sa'id Hawwa</title><content type='html'>Dia adalah Syaikh Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa. Dilahirkan di kota Hamat, Suriyah pada tahun 1935 M. Ibunya meninggal dunia ketika usianya baru 2 tahun, lalu diasuh oleh neneknya. Di bawah bimbingan bapaknya yang termasuk salah seorang mujahidin pemberani melawan penjajah Perancis, Sa’id Hawwa muda berinteraksi dengan pemikiran kaum sosialis, nasionalis, Ba’tsi dan Ikhwanul Muslimin. Tetapi akhirnya Alloh memilihkan kebaikan untuknya untuk bergabung dengan ke dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1952 M, ketika masih dudul di kelas satu SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan studinya di universitas pada tahun 1961 M, lalu mengikuti khidmah ‘askariyah (pendidikan militer) pada tahun 1963 M hingga menjadi perwira cadangan. Menikah pada tahun 1964 M, dan dikaruniai empat orang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberikan ceramah, khutbah, dan mengajar di Syuriah,Saudia, Kuwait, Emirat, Iraq, Yordania, Mesir,Qathar, Pakistan , Amerika, dan Jerman . Juga terlibat dalam peristiwa ‘Dustur’ di Suriyah tahun 1973 M. hingga dipenjara selama lima tahun sejak 5/3/1973-29/1/1981. Selama di penjara, ia menulis kitab al-Asas fi at-Tafsir (11 jilid) dan beberapa buku dakwah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah diamanahi jabatan pimpinan dalam organisasi Ikhwanul Muslimin di tingkat regional dan internasional. Aktif terlibat dalam berbagai aktifitas dakwah, politik dan jihad. Pada tahun 1987 M terserang sejenis penyakit parkinson disamping penyakit-penyakit lainnya, hingga terpaksa harus melakukan uzlah. Pada hari Kamis tanggal 9/3/1989 M, ia meninggal dunia di rumah sakit Islam di Amman. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Uztadz Zuhair asy-Syawisy di dalam harian al-Liwa’ yang terbit di Yordania, edisi 15/3/`989 M, berkata tentang Sa’id Hawwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Alloh telah mentaqdirkan dan tidak ada yang dapat menolak ketentuan-Nya. Berakhirlah kehidupan Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa di rumah sakit Islam Amman siang hari Kamis, awal Sya’ban yang agung 1409 H bertepatan 9/3/1989 M. Dishalatkan setelah shalat Jumat oleh ribuan jamaah di masjid al-Faiha’ di asy-Syaibani. Dikuburkan di kuburan Sahab selatan Amman. Penguburan jenazahnya dihadiri oleh banyak orang. Ikut memberikan kata sambutan dalam penguburan jenazah, diantaranya ustadz Yusuf al-Adzam,Syaikh Ali al-Faqir, penyair Abul Hasan, Syaikh Abdul Jalil Razuq, ustadz Faruq al – Masyuh, dan sastrawan ustadz Abdullah Thanthawi. Sungguh simpati penduduk Yordania yang kedermawanan mereka kepada orang-orang hidup yang tinggal di negeri mereka…Kedermawanan dengan tangan dan kebaikan dalam ucapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Sa’id Hawwa termasuk da’I paling sukses yang pernah saya kenal atau pernah saya baca tentang mereka, karena ia mampu menyampikan pandangan dan pengetahuan yang dimilikinya kepada banyak orabg. Ia meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, belum melewati usia 53 tahun. Tetapi ia telah meninggalkan karya tulis yang cukup banyak, sehingga oleh banyak orang dimasukkan ke dalam kategori para penulis kontemporer yang produktif. Adanya perbedaan penilaian tentang buku-bukunya tidak akan mengubah hakikat ini sama sekali. Saya pernah mengkaji pandangan-pandangannya yang tertuang dalam berbagai bukunya. Sekalipun pandangan saya demikian ‘membantai’ dan bahasa saya sangat melukai, tetapi ia selalu menerimanya dengan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengunjunginya di al-Ahsa’ ketika ia menjadi pengajar di al-Ma’had al-‘Ilmi. Saya tidak menemukan perabot di rumahnya kecuali sesuatu yang dapat memenuhi keperluan seorang yang hidup sederhana. Juga tidak saya temukan pakaian yang layak dipakai oleh ulama’ dan pengajar di negeri yang panas itu. Baju jubah yang dipakainya dari buatan Hamat yang kasar. Saya terus mendesaknya hingga ia mau memakai beberapa pakaian putih dan ‘aba’ah (baju luaran) yang layak bagi orang seperti dirinya, tetapi ia mensyaratkan agar tidak terlalu longgar. Sedangkan makanannya, tidak lebih baik dari pakaian dan perabot rumahnya. Termasuk dalam kategori ini adalah sikapnya yang ‘mudah’ kepada orang-orang yang menerbitkan buku-bukunya baik yang telah mendapatkan izinnya atau tidak. Buku-bukunya telah dicetak berulang-ulang—dengan cara halal dan haram –, tetapi saya tidak pernah mendengar ia mempersoalkan hal tersebut. Ini termasuk bagian dari zuhudnya. Sesungguhnya akhlaq dan toleransi Sa’id Hawwa ini merupakan kebanggan dan teladan bagi orang lain. Inilah kesaksian yang dapat saya sampaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’id Hawwa adalah seorang yang berpotensi besar, dinamis, dan pendobrak. Ia tidak pernah kenal menyerah dan bosan. Punya pengalaman dan kepiawian dalam penulisan. Bisa menyelesaikan satu buku dalam beberapa hari. Punya kecenderungan ruhiyah yang kental, bahkan terkadang sangat mendominasi. Rasa malu, kelembutan, dan kebaikan hatinya terkadang membuatnya lebih mengutamakan sikap diam dalam sebagian persoalan yang menuntut musharahah (keterusterangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami merasa gembira dapat mengunjunginya berkali-kali di Kuwait. Ia menghadiri nadwah (seminar) pekanan yang kami selenggarakan setiap Jumat sore. Ia ikut berbicara dalam seminar itu dengan pembicaraan yang sangat memikat hati. Tema utama pembicaraannya berkisar tentang manhaj Imam Hasan Al- Banna dalam memanfaatkan potensi kebaikan yang ada pada diri manusia. Para da’I harus bisa meningkatkan potensi kebaikan pada jiwa manusia. Mereka harus berbicara kepada hati yang merupakan kunci hidayah. Jiwa semua manusia mengandung potensi kebaikan dan potensi kejahatan, tetapi dengan tingkatan berlainan. Apabila Alloh telah memberi taufiq kepada kita untuk meningkatkan potensi kebaikan pada jiwa manusia maka hal ini berarti kita telah mengurangi potensi keburukan yang ada padanya, karena tazkiyatun nafs merupakan kunci untuk meluruskan suluk (perilaku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanNya), maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. “ (asy-Syams:7-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diambil dari buku Mensucikan Jiwa – Said Hawwa- terbitan Robbani Press) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-760967736051869679?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/760967736051869679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/biografi-said-hawwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/760967736051869679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/760967736051869679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/11/biografi-said-hawwa.html' title='Sa&apos;id Hawwa'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-2986661971043341974</id><published>2009-10-25T21:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T21:53:01.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Ukhuwah dalam Berjama'ah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SuUrG9gnSpI/AAAAAAAAAKE/UmumuO8t9gw/s1600-h/Ukhuwah+dalam+Berjamaah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 148px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SuUrG9gnSpI/AAAAAAAAAKE/UmumuO8t9gw/s320/Ukhuwah+dalam+Berjamaah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396767127063972498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah,&lt;br /&gt;Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah ia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sebagian potret ukhuwah dalam bangunan jama’ah dakwah yang ideal. Sa’ad benar-benar memahami keterbatasan Abdurrahman bin Auf. Meskipun di Makkah Abdurrahman bin Auf adalah sudagar yang kaya raya, toh ia datang ke Madinah tidak membawa apapun. Hijrah lebih ia cintai walaupun resikonya adalah meninggalkan seluruh harta kekayannya. Namun, Abdurrahman bin Auf juga seorang sahabat yang tahu betul bahwa ia sanggup melakukan hal yang lebih baik, tanpa bermaksud menolak kebaikan Sa’ad. Ia tetap memberi kesempatan Sa’ad untuk berbuat baik padanya sebagai konsekuensi sebuah ukhuwah; menunjukkan pasar Madinah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ukhuwah seperti itu tidak hanya terjadi antara Sa’ad bin Ar-Rabi’ dengan Abdurrahman bin Auf. Ukhuwah seperti itu terjadi pada semua sahabat muhajirin dan ansar. Gambaran mereka seperti firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الحشر/9]&lt;br /&gt;Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr : 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bangunan kemasyarakatan mereka seperti penjelasan Sayyid Qutb saat mengomentari QS. Al-Hujurat ayat 11: “Implikasi dari ukhuwah ini adalah hendaknya rasa cinta, perdamaian, kerja sama, dan persatuan menjadi landasan utama masyarakat muslim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. jamaah dakwah yang telah bermetamorfosis menjadi negara di atas tanah Madinah itu menjadi solid dan kuat. Kekuatan utamanya bertumpu pada keimanan. Lalu kekuatan ukhuwah. Ukhuwah yang senantiasa terjaga inilah yang menjamin berlangsungnya fase konsolidasi negara. Bersama-sama, mereka siap mempertahankan Madinah dari segala ancaman yang datang. Ukhuwah yang selalu terpelihara inilah yang menjamin kokohnya eksistensi Madinah. Bersama-sama, mereka siap melindungi dakwah dengan apapun yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah,&lt;br /&gt;Ukhuwah merupakan hal yang sangat penting setelah akidah, bagi jamaah dakwah. Karenanya Hasan Al-Banna menempatkan ukhuwah sebagai salah satu dari rukun baiat. Beliau mengatakan :&lt;br /&gt;وأريد بالأخوة أن ترتبط القلوب والأرواح برباط العقيدة ، والعقيدة أوثق الروابط وأغلاها ، والأخوة أخت الإيمان ، والتفرق أخو الكفر ، وأول القوة : قوة الوحدة ، ولا وحدة بغير حب , وأقل الحب: سلامة الصدر , وأعلاه : مرتبة الإيثار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya maksud dengan al-ukhuwah adalah hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan mahal. Ukhuwah merupakan saudara keimanan, sedang perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih, sedangkan cinta kasih yang paling lemah adalah lapang dada dan puncaknya adalah itsar (mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah yang tulus, yang mendekati itsar atau bahkan mencapainya, akan menjadi faktor penyebab keteguhan serta kekokohan jamaah dakwah dalam menghadapi segala medan amal dan mihwar apapun. Sebaliknya, saat ukhuwah itu mulai pudar, bahkan salaamatush shadri pun tidak, akan membuat jamaah segera hancur, betapapun hebat slogannya dan betapapun tinggi cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di mihwar tandzimi dan mihwar sya’bi, di mana jumlah kader dakwah tidak sebanyak sekarang, ukhuwah itu begitu terasa. Saat ada satu ikhwah sakit, semua ikhwah dalam satu daerah menjenguknya. Saat ada ikhwah yang tidak hadir sekali saja dalam halaqah, semua ikhwah dalam grup yang sama segera silaturahim padanya. Khawatir ada apa-apa dengannya atau keluarganya. Saat seorang ikhwah mendapatkan kebahagiaan, semuanya pun memberi selamat. Alat komunikasi masih sangat terbatas, tapi seakan-akan setiap kabar bisa begitu cepat sampai ke ikhwah yang lain. Apalagi saat ada yang menikah, subhaanallah. Luar biasa rasa ukhuwah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mihwar kita berbeda. Kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan dakwah kita. Kita mengembangkan pengaruh dakwah yang lebih luas. Jumlah kader dakwah semakin banyak. Setiap waktu bertambah. Mihwar muassasi ini ditandai juga dengan penetrasi dakwah ke parlemen dan pemerintahan. Sebagian kader dakwah tersedot ke sana, dengan berbagai konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah justru menjadi lebih penting pada mihwar ini. Ia sekaligus akan menjadi barometer kesiapan jamaah untuk memasuki fase berikutnya; mihwar daulah. Banyaknya kader dakwah dengan berbagai kesibukannya, seharusnya tidak menggerus nilai-nilai ukhuwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah dibangun di atas cinta dan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah,&lt;br /&gt;Ukhuwah dalam berjamaah ini harus dibangun di atas cinta, di atas kasih sayang. Dalam bahasa Al-Qur’an disebut “ruhamaa’u bainahum” saling berkasih sayang dengan sesama mereka. Dengan ukhuwah yang dilandasi cinta inilah, orang mukmin dicemburui oleh nabi dan syuhada’; meskipun mereka bukan nabi dan buka syuhada’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن من عباد الله عبادا ليسوا بأنبياء يغبطهم الأنبياء والشهداء قيل : من هم لعلنا نحبهم ؟ قال : هم قوم تحابوا بنور الله من غير أرحام ولا انتساب وجوههم نور على منابر من نور لا يخافون إذا خاف الناس ولا يحزنون إذا حزن الناس ثم قرأ : { ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, di kalangan hamba-hamba Allah ada beberapa orang yang bukan para nabi dan bukan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada menginginkan kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan kekerabatan diantara mereka. Juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah (seperti) cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa takut tatkala manusia ketakutan dan tidak bersedih hati tatkala manusia bersedih hati.” Kemudian Rasulullah SAW membaca (ayat), “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus : 62) (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah yang dibangun di atas cinta kepada Allah ini juga mendatangkan cinta-Nya. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ meriwayatkan sebuah hadits qudsi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, “Kecintaan-Ku akan didapat oleh orang-orang yang saling mencintai dan saling (menemani) duduk karena Aku, saling berkunjung karena Aku, serta saling memberi karena Aku.” (Al-Muwatha’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ&lt;br /&gt;Ada seseorang berkunjung kepada saudaranya di kampung lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk menghadang perjalanannya. Malaikat bertanya saat bertemu dengan orang tersebut, “Hendak ke manakah kamu?” Orang itu menjawab, “Aku mau ke (tempat) seorang saudaraku di kampung ini.” Malaikat bertanya, “Apakah ada kenikmatan yang ingin kamu dapatkan darinya?” Ia menjawab, “Tidak, (aku berkunjung kepadanya karena) aku mencintainya karena Allah SWT.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya, aku ini utusan Allah kepadamu (untuk mengabarkan), bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu karena kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan mendorong kaki kita melangkah silaturahim ke saudara kita. Terlebih ketika ia ada masalah atau terlihat mulai kendor tarbiyahnya. Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan menggerakkan lisan kita untuk mengingatkannya saat ia melakukan kekeliruan. Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan membawa diri kita untuk selalu mendoakan saudara-saudara kita; agar ikatan dakwah ini kekal dan agar segala problemnya mendapatkan solusi dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaamatus shadr; tingkatan ukhuwah paling rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah Salaamatus shadr; selamatnya hati dari berbagai prasangka buruk dan perasaan tidak enak terhadap sesama ikhwah. Ini adalah batas minimal ukhuwah, jika diterjang, maka ukhuwah itu terkoyak dan timbullah pertentangan dan perpecahan. “Kedua hal ini” kata Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid, “dapat mengantarkan jamaah pada kekalahan dan kehancuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor dalam mihwar muassasi ini yang bisa menjadi stimulus munculnya su’udzan. Saat ada beberapa kader yang mulai berkantor di parlemen, misalnya. Lalu kelihatan ia pakai mobil baru, kader yang belum matang tarbiyahnya bisa kena penyakit ini. Namun bagi mereka yang tertarbiyah dengan baik, dengan mengedepankan ukhuwah ia akan melakukan tabayyun kepada qiyadahnya. “Oo.. itu dibelikan sama ayahnya karena kasihan kalo menantunya kepanasan. Menantunya kan sedang hamil, akhi” ternyata saat tabayyun, jawaban yang didapat benar-benar menenteramkan hati. Jadi jangan su’udzan dulu: “Baru ngantor beberapa hari sudah dapat mobil”. Astaghfirullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah itu juga perlu diterapkan saat saudara kita tidak datang liqa’ tanpa keterangan. Kalau ini bukan kebiasaannya, atau pertama kalinya, ikhwah yang lain perlu mencari 1000 alasan agar su’udzan-nya tidak muncul. Jangan buru-buru memvonis “HP-nya dimatikan, mungkin ia sengaja mengistirahatkan diri.” Tidak tahunya kalau ikhwah tadi kecelakaan, dan HP-nya terlindas truk. Na’udzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari su’uzhan itu sebagaimana kita berlindung dari kecelakaan yang menimpa ikhwah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ [الحجرات/12]&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS. Al-Hujurat : 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berupaya mencapai itsar, tingkatan tertinggi ukhuwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad bin Ar-rabi’ telah mengajarkan kita tentang itsar. Demikian pula seluruh kaum Anshar telah mempraktikkan itsar ini kepada muhajirin. Maka semakin kokohlah ukhuwah mereka, semakin solid gerakan mereka, semakin gencar dakwah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kisah mujahid yang menjadi contoh itsar. Dalam sebuah jihad, ada seorang mujahid yang terluka. Ia kesakitan, lapar, dan haus. Datanglah bantuan padanya, segelas air. Namun ia mendengar ada mujahid lain di sampingnya. Ia berpikir, ini lebih parah. “Berikan saja air itu padanya, ia kelihatan lebih parah dari pada saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat air itu diberikan kepada orang kedua, orang itu melihat mujahid di sampingnya lagi tampak lebih membutuhkan air dari pada dirinya. “Berikan padanya.” Mujahid yang ketiga ini juga melihat sampingnya. Mengutamakan orang lain dari pada dirinya. Akhirnya, mereka semua syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tercapainya itsar, tidak mungkin jamaah dakwah tergoyahkan hanya karena jabatan publik. Dengan itsar, tidak mungkin jamaah dakwah terganggu hanya karena persoalan siapa yang ditunjuk menjadi caleg, siapa yang ditunjuk menjadi calon kepala daerah, atau calon menteri seperti pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, marilah kita renungkan nasehat Hasan Al-Banna ini:&lt;br /&gt;تحابوا فيما بينكم ، واحرصوا كل الحرص علي رابطتكم فهي سر قوتكم وعماد نجاحكم ، واثبتوا حتى يفتح الله بينكم وبين قومكم بالحق وهو خير الفاتحين&lt;br /&gt;Hendaklah kalian saling mencintai dengan sesama. Hendaklah kalian sangat peduli pada ikatan kalian, karena itulah rahasia kekuatan dan keberhasilanmu. Dan tetaplah tegar sehingga Allah memberikan keputusan dengan hak antara kalian dan kaummu. Dia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan. (Risalah Bainal Amsi wal Yaum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’alam bis shawab. [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-2986661971043341974?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/2986661971043341974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/ukhuwah-dalam-berjamaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2986661971043341974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2986661971043341974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/ukhuwah-dalam-berjamaah.html' title='Ukhuwah dalam Berjama&apos;ah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SuUrG9gnSpI/AAAAAAAAAKE/UmumuO8t9gw/s72-c/Ukhuwah+dalam+Berjamaah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6622606431406238201</id><published>2009-10-17T05:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T05:24:10.245-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Menjaga Orisinalitas Da'wah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Stm2zun6E_I/AAAAAAAAAJ8/Qm-WAAj9NsE/s1600-h/tangan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Stm2zun6E_I/AAAAAAAAAJ8/Qm-WAAj9NsE/s320/tangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393543028557878258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat da’wah mulai memasuki marhalah selanjutnya dari marhalah-marhalah sebelumnya, terkadang di tuntut untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan dan situasi serta kondisi yang bergerak cepat. Kita masih ingat benar ketika marhalah da’wah kita masih berada pada fase tandzimi maka da’wah ini terasa sangat kental, dan ketika sekarang telah berada di fase siyasi da’wah ternayata telah cair atau bahkan sangat cair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah pada setiap perubahan marhalah ( fase ) inilah akan terlihat apakah da’wah ini akan tetap dapat menjaga ta’shil atau orisinalitasnya atau tidak. Atau apakah orisinalitas da’wah pun harus mengikuti situasi dan kondisi perkembangan yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran, maka ia harus menjaga dan memelihara orisinalitasnya. Sebab sekecil apapun penyimpangan atau berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semakin besar sejalan dengan kesinambungan, pertumbuhan, dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Ini dapat menyeret harakah semakin jauh dari jalannya yang benar dan semakin menjauhkan tercapainya sasaran harakah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika da’wah yang di bawa ikhwan adalah hanya da’wah Islam, sebagaimana di nyatakan pendirinya berarti orisinalitas dan kesinambungannya dapat terwujud hanya dengan Islam. Menjaga orisinalitas berarti berpegang teguh kepada Islam dan tidak menyalahinya baik dalam teori ataupun prakteknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Imam syahid Hasan al Bana selalu menekankan agar jama’ah beriltizam dengan Islam, kitab dan sunnah serta melangkah sesuai dengan sirah Rasulullah saw, ketika beliau menegakkan Daulah Islamiyah pertama. Untuk itulah Hasan Al Bana menekankan kepada ikhwan untuk senantiasa memberikan perhatian penuh kepada hal-hal berikut dalam rangka menjaga orisinalitas da’wah ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Perhatian terhadap aspek Pemahaman ( Al-Fahmu ). Pemahaman yang dimaksud di sini adalah pemahaman yang menyeluruh terhadap sebuah harokah itu sendiri, baik tentang manhajnya, tujuan dan sasarannya, serta tahapan-tahapannya maupun problematika dan tantangan-tantangan yang akan di hadapi di dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melindungi pemahaman ini Imam Hasan Al Bana meletakkan Pemahaman ( Al-Fahmu ) sebagai 1 dari 20 prinsip sebagai kerangka yang dapat membentengi pemahaman dari kesalahan dan penyimpangan. Asy Syahid menjadikan pemahaman ( Al-Fahmu ) yang shahih terhadap Islam sebagai salah satu rukun baiat , ialah agar setiap al akh dapat menjadi mubayyi’ yang teguh dan terpercaya serta terbentengi dari penyimpangan atau perubahan. Menepati baiat pada hakekatnya adalah menepati baiat kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. bahwasanya orang-ora ng yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah[1396]. tangan Allah di atas tangan mereka[1397], Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar. ( QS Al-Fath : 10 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pentingnya keshahihah akan pemahaman ( al-fahmu ) ini yang membuat Hasan Al Bana mengingatkan kepada seluruh ikhwan yang menempuh dan berada di jalan da’wah ini dengan nasehatnya yang sangat indah ;”Siapa yang menginginkan keuntungan duniawi, kedudukan dan pangkat, tempuhlah jalan selain jalan da’wah. Jalan da’wah hanya menghendaki orang yang berani menempuh perjalanan, bersedia mengerahkan tenaga, bersiap mengorbankan jiwa, harta dan segala yang dimilikinya berupa waktu, tenaga, kesehatan, ilmu, dan lain-lainnya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah swt. Konsekwensinya setiap da’i harus terus menerus mengikhlaskan niat dan memberantas penyakit-penyakit hati yang merusakkan dan menyia-nyiakan amal serta menjauhkannya dari barisan shiddiqun mukhlisun ( orang yang jujur dan ikhlas ) ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah nasehat yang sangat menyentuh kondisi kita saat ini, di mana da’wah di negri ini telah mulai banyak menampakkan ” buah manisnya” yang menawan hati. Ketika da’wah telah menampakkan buah manisnya berupa harta dan jabatan maupun kekuasaan, masihkan pemahaman yang shahih akan da’wah ini masih terus terjaga atau justru tergadaikan demi meraih ” buah manis” duniawi tersebut?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saat para kader da’wah harus ” bersaing antar sesama ikhwan ” dalam memperebutkan kursi legislatif pada pemilu lalu kiranya dapat menjadi lembaran muhasabah ( evaluasi ) bagi para ikhwan dan jama’ah ini sendiri tentang keikhlasan dalam beramal siyasi. Gesekan yang sempat terjadi antar ikhwan yang maju menjadi caleg-caleg maupun tarik menarik dukungan dari para a’dho dalam satu halaqoh karena sang murabbi dan mad’u sama-sama maju sebagai caleg, maupun saling klaim akan keberhasilan dan jasa dalam da’wah menjadi cerita tersendiri dalam mengevaluasi keikhlasan kader dalam berda’wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Tidak mengabaikan Aspek Tarbiyah dan Ruhiyah. Mengabaikan aspek tarbiyah dan ruhiyah adalah salah satu sebab paling penting untuk dipahami , karena kelalaian ini bisa muncul karena terlalu berkonsentrasi dalam masalah politik dan administrasi. Hal ini akan banyak dialami oleh harokah da’wah yang telah bersentuhan atau bahkan telah bermetamorfosa menjadi sebuah partai politik. Tingginya konstelasi dan agenda politik yang ada sering menjadikan kita lengah dan lalai dalam memperhatikan aspek mendasar dari da’wah itu sendiri yakni tarbiyah dan ruhiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika da’wah dan harokah diibaratkan sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah ruhiyah adalah air dan pupuknya. Pohon akan dilanda kekeringan dan bahkan bisa mati jika kekurangan air dan pupuk. Sebaliknya akan tumbuh subur jika terus-menerus di disiram air dan diberi pupuk yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarbiyah adalah washilah memperkuat iman. Seluruh washilah tarbiyah harus memfokuskan kepada terciptanya pohon da’wah yang kokoh, rindang, dan berbuah ranum setiap saat dengan izin Allah swt. Seorang afrad yang tertarbiyah dalam berbagai aspek memiliki peran individual bersama dirinya dan berperan sosial bersama saudara-saudaranya. Oleh karena itu, aktifitas tarbiyah untuk semua peringkat harus benar-benar di jaga kesinambungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarbiyah bagi seseorang atau jamaah ibarat ruh di dalam jasad. Imam Hasan Al-Bana menegaskan, individu muslim yang multazim dengan sifat-sifat mukmin adalah unsur asasi di dalam harokah serta di dalam mewujudkan sasaran. Dialah yang akan menegakkan baitul muslim, mujtama’ul muslim,hukumah islamiyah, dan daulah islamiyah. Jika unsur ini tegak dan kokoh, maka bangunan dan segala tahapannya akan tegak dan kokoh pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memelihara orisinalitas da’wah berarti memperhatikan penuh aspek tarbiyah dan ruhiyah. Karena itu perhatian terhadap aspek tarbiyah dan ruhiyah ini tidak boleh tergusur oleh kegiatan-kegiatan seperti politik, publikasi, atau jihad sekalipun. Dan tarbiyah harus mencakup seluruh peringkat dan harus dilakukan sepanjang hayatnya, tidak boleh terbatas hanya pada pemula tetapi juga para mas’ul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan aspek tarbiyah akan membantu para ikhwan ke peringkat mas’ul. Mereka akan turut serta menjadi orang yang memikul berbagai tanggungjawab yang semakin bertambah di lapangan. Mereka akan berta’awun dan bertafahum dengan baik tanpa harus menimbulkan perbedaan dan musykilah besar. Sebaliknya tidak adanya perhatian terhadap aspek tarbiyah akan melahirkan unsur-unsur yang tidak punya kelaikan naik ke peringkat mas’ul , selain terancam berbagai perpecahan, perselisihan, dan persoalan yang menghambat jalannya amal dan lahirnya produktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat agenda dan kerja da’wah ini hanyut oleh derasnya arus tsunami politik sehingga agenda-agenda tarbiyah dan halaqoh berubah menjadi agenda politik maka saat itulah substansi tarbiyah mulai mengalami abrasi ( pengikisan ) sehingga sampai pada puncaknya dimana para ikhwan merasa kosong dan kering ruhiyahnya, karena pertemuan dalam majlis tarbiyah yang diharapkan akan dapat memenuhi rasa hausnya akan siraman ruhiyah tidak di dapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kondisi ruhiyah seseorang berada dalam titik nadirnya maka resiko akan jatuh dalam kefuturan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Dan bila hal ini tidak segera di sadari oleh para qiyadah maka akan di khawatirkan barisan jama’ah da’wah ini akan terserang epidemi futur massal. Bukankah fenomena hilangnya kader-kader dari halaqoh namun terlihat muncul di ”perahu ” lain serta menurunnya tingkat partisipasi ikhwan dalam jama’ah menunjukkan lemahnya tarbiyah dan ruhiyah jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu menjaga orisinalitas da’wah berarti memberikan perhatian penuh kepada masalah tarbiyah dan ruhiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Mengedepankan Syura ( Musyawarah ). Syura adalah sebuah prinsip dalam da’wah. Di Dalam syura yang diambil adalah pendapat yang paling kuat bagi kepentingan da’wah . Setelah ada keputusan yang disepakati bersama , maka tidak diperkenankan orang memiliki pendapat berbeda, berbicara, dan bergerak menurut pendapatnya sendiri. Jika terjadi semacam itu tentu akan mengguncang kepercayaan kepada pimpinan dan keputusan-keputusannya. Bisa jadi perselisihan ini bersumber dari urusan pribadi diantara afrad jama’ah akibat dijerumuskan oleh syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini tidak diatasi sesegera mungkin, tidak mustahil akan berakibat serius dan melahirkan poros pertentangan selain medan perselisihannya semakin tajam dan meluas menjadi antar kelompok, padahal sebelumnya hanya antar pribadi.Perselisihan semacam ini biasanya lebih banyak menyerang di kalangan qiyadah ( pimpinan ) yang jika dibiarkan berlarut-larut tidak mustahil akan dapat menimbulkan kemandegan dan bahkan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas adalah bahwa setiap al akh itu wajib menjaga diri dengan rasa kecintaan dan persaudaraan, agar tidak menimbulkan sesuatu yang menyakitkan pada diri saudaranya. Kewajiban orang yang menyakiti saudaranya adalah mengontrol dirinya, meminta maaf dan bersalaman. Sedangkan orang atau pihak yang tidak terlibat berkewajiban mendamaikan mereka. Inilah cara tepat mengantisipasi fenomena perselisihan yang terjadi dengan berdasarkan ajaran Islam dan adab-adabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga orisinalitas berarti harus menjaga dan menata wujudnya prinsip syura., sehingga dapat memutuskan hasil yang diharapkan. Syura harus di tegakkan dengan benar-benar tidak boleh hanya bersifat formalitas. Karena itu jika proses syura telah menghasilkan sebuah keputusan maka berarti telah mengikat semuanya. Tidak boleh persoalan-persoalan di biarkan berserakan kepada pribadi-pribadi anggota sehingga dapat menimbulkan blok-blok dan faksi-faksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tiga rangkaian penjelasan yang singkat dan sederhana namun sarat makna bagi kesinambungan sebuah harokah da’wah agar tetap hidup dan eksis. Semoga Allah swt menyatukan kita semua dalam barisan para mujahidinNya. Amin ( HAM )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6622606431406238201?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6622606431406238201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/saat-dawah-mulai-memasuki-marhalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6622606431406238201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6622606431406238201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/saat-dawah-mulai-memasuki-marhalah.html' title='Menjaga Orisinalitas Da&apos;wah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Stm2zun6E_I/AAAAAAAAAJ8/Qm-WAAj9NsE/s72-c/tangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-1758651146626824132</id><published>2009-10-05T03:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T03:11:29.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Syarat kemenangan dalam dakwah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsnGLn43uQI/AAAAAAAAAJ0/JwG0cq8HSGI/s1600-h/Syarat+Kemenangan+Dakwah.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsnGLn43uQI/AAAAAAAAAJ0/JwG0cq8HSGI/s320/Syarat+Kemenangan+Dakwah.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389056332113885442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Coba simak firman Allah SWT ini :&lt;br /&gt;وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (41) [الحج/40، 41]&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj : 40-41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini adalah janji Allah kepada kita. Dan janji itu diungkapkan berulang kali dalam Al-Qur’an. Mari kita simak surat Muhammad ayat 7 berikut ini.&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) [محمد/7]&lt;br /&gt;" Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Siapapun yang konsekuen membela agama ini, Allah memberi jaminan kemenangan. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160) [النساء/160]&lt;br /&gt;"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal." (QS. Ali Imran : 160)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ayat di atas adalah janji Allah yang pasti terjadi. Hati yang beriman dan jiwa yang penuh dengan cahaya basirah akan menangkap firman Allah ini sebagai jaminan yang pasti dipenuhi. Tidak tersisa sedikitpun keraguan bahwa pembela agama Allah pasti akan mendapatkan kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti yang dicintai Allah…&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan kemenangan itu, Allah memberikan kriteria yang cukup spesifik, sederhana, dan jelas. Kreterianya ada empat, yaitu mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang makruf, dan melarang dari yang mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat ini cukup mudah dan simpel. Tetapi kalau kita teliti, ternyata ayat tersebut berbicara tentang integrityas yang diindikasikan dengan empat kriteria utama di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendirikan Shalat&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Mereka yang berhak mendapatkan pertolongan Allah bukan sekadar mampu mengerjakan kewajiban-kewajiban tersebut dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Yang Allah katakan adalah orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka, mereka melakukan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita membahas tentang empat hal itu, mari kita perhatikan prasyaratnya. Melakukan shalat, zakat, dan tetap memperjuangkan kebenaran dalam kondisi berkuasa dan memiliki posisi, ternyata tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Betapa banyak orang-orang yang apabila disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaannya, mereka menawar kedisiplinan dalam shalat. Dengan mudah meninggalkan shalat jamaah dengan berbagai alasan. Bahkan, untuk alasan yang sepele: tanggung, rapatnya tinggal satu poin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Mari kita renungkan hadits berikut ini. Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”&lt;br /&gt;سووا صفوفكم فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة&lt;br /&gt;“Luruskanlah saf-saf kalian, karena lurusnya saf adalah bagian dari pendirian shalat” (HR. Bukhari, Juz 1 hlm. 254)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengatakan bahwa meluruskan saf adalah bagian dari mendirikan shalat. Kita telah mengetahui bahwa mengerjakan shalat tidak sama dengan mendirikan shalat. Yang dituntut dari kita adalah mendirikan shalat. Kalau meluruskan barisan shalat saja merupakan bagian dari mendirikan shalat, tentu saja tidak mungkin kita mendirikan shalat jika tidak ada safnya. Artinya, shalat yang tegak adalah shalat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke ayat 41 surat Al-Hajj tadi bahwa syarat pertama otg-orang yang Allah tolong adalah mereka tetap disiplin shalat berjamaah bagaimanapun sibuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Kalau berkaca pada sejarah Islam, kita temukan bahwa mereka yang berhasil mengangkat panji-panji Islam di berbagai peperangan adalah orang-orang yang disiplin dalam shalat berjamaah. Misalnya, Muhammad Al-fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel, ibu kota Bizantium. Diriwayatkan bahwa setelah beliau memasuki Kota Konstantinopel (sekarang Istanbul), mereka shalat berjamaah. Sebelumnya Muhammad Al-fatih bertanya, “Siapa diantara pasukan Islam ini yang sejak baligh sampai sekarang belum pernah tertinggal shalat Subuh berjamaah, supaya dia maju menjadi imam.” Tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya beliau sendiri berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sejak baligh sampai sekarang belum pernah meninggalkan Shalat Subuh berjamaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kini, kita juga mendapat contoh yang sama. Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah yang terpilih dalam jajak pendapat Islam online sebagai pemimpin Islam terbaik, juga bukan hanya disiplin shalat berjamaah, bahkan beliau adalah imam masjid yang mengimami shalat tarawih sepanjang Ramadhan tahun lalu. Dan bacaan beliau dikenal begitu menyentuh sehingga jamaah khusyuk dan banyak yang menangis tersentuh bacaan Al-Qur’an beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Kita juga menemukan bahwa fenomena futur dalam shalat adalah indikator utama degradasi dalam peralihan generasi. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) [مريم/59]&lt;br /&gt;"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan," (QS. Maryam : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini bercerita tentang generasi yang melanjutkan generasi pilihan yang Allah ceritakan pada ayat 58 sebelumnya; generasi para nabi dan pengikut-pengikutnya yang setia. Masalah yang dihadapi oleh generasi-generasi teladan adalah mereka tidak dilanjutkan oleh generasi selanjutnya dengan kualitas keimanan yang sama. Allah menyebutkan masalah yang pertama dalam generasi tersebut adalah mereka menyia-nyiakan shalat. Di sini kita bisa lihat bahwa shalat adalah kriteria pertama yang Allah sebut dalam syarat kemenangan. Dan juga shalat adalah indikator terpenting yang muncul dalam kemunduran sebuah umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menunaikan Zakat&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Syarat kedua adalah menunaikan zakat. Ini adalah syarat penting dan bukti utama kebenaran iman. Dalam terminologi Al-Qur’an dan Sunnah, kata az-zakat sering diwakili dengan istilah sedekah, seperti pada surat At-taubah ayat 58 dan ayat 103. Karena itu, Rasulullah SAW menyatakan:&lt;br /&gt;والصدقة برهان&lt;br /&gt;“Sedekah adalah bukti” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Juz 2 hlm.406) menyebutkan bahwa sedekah adalah bukti pembenaran orang beriman dan dalil kebenaran imannya secara lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan adalah klaim yang perlu dibuktikan kebenarannya. Zakat adalah bentuk kerelaan untuk memberi dan untuk sedikit berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat juga sebuah mekanisme paten untuk sebuah keberpihakan yang konkret kepada orang lemah dan miskin. Oleh karena itu, yang pertama disebut dalam masharif az-zakat (distribusi zakat) adalah fakir dan miskin. Karena itulah, Rasulullah SAW bersabda tentang pelaksanaan zakat:&lt;br /&gt;صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم&lt;br /&gt;“Sedekah dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa kita tangkap bahwa orang-orang yang Allah tolong adalah mereka yang menunaikan zakat sebagai bukti konkret keimanan, berkorban dan memberikan pelayanan kepada orang-orang fakir dan lemah. Dan dapat kita pahami bahwa orang-orang yang Allah beri kedudukan di muka bumi layaknya adalah orang-orang yang sangat jelas kapabilitasnya dalam memberikan servis kepada orang-orang lemah secara khusus dan kepada seluruh rakyat secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 dan 4. Memerintah Kebaikan dan Melarang Kemungkaran&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Syarat berikutnya adalah memerintahkan kepada al-ma’ruf. Dan ini bisa dikatakan sebagai the prime mission umat Islam (QS. Ali Imran : 110). Artinya, kalau kekuasaan tidak dapat berdampak positif langsung kepada penyebaran kebaikan dan mengeliminasi kemungkaran, maka itu adalah kecelakaan sejarah bagi sebuah bangsa. Artinya, komitmen untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan serta perlawanan terhadap kemungkaran adalah prasyarat mutlak yang harus dipenuhi untuk layak tampil sebagai pemimpin umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi dalam perjalanan umat ada segolongan orang yang berjuang merebut kekuasaan. Mereka meminta dukungan masyarakat dengan janji mereka akan menegakkan agama Allah. Akan tetapi, ketika kesempatan u. menyeru dan membela agama Allah sdh ada di tangan, mereka disibukkan oleh kepentingan masing-masing. Kondisi tersebut mirip dengan kondisi yang disebut dalam surat At-taubah ayat 75-77:&lt;br /&gt;وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77) [التوبة/75-77]&lt;br /&gt;"Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta." (QS. At-Taubah : 75-77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjanji, “Kalau saya berkuasa, saya akan menegakkan kebenaran,” lebih berat dari pada orang yang berjanji, “Kalau saya kaya, saya akan bersedekah.” Sehingga ancaman hukuman sebagai orang munafik layak bagi mereka jika tidak memenuhi janji-janjinya setelah berkuasa, dan lebih berat dari pada ancaman orang yang berjanji bersedekah setalah kaya, tapi tidak memenuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi dan ukhti fillah…&lt;br /&gt;Akibat ingkar janji seperti itu bukan main-main: tumbuh kemunafikan di dalam hati kita. Betapa celakanya orang yang mendapatkan hukuman ini. Karena, tempat orang munafik adalah kerak terendah di dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-1758651146626824132?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/1758651146626824132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/syarat-kemenangan-dalam-dakwah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1758651146626824132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1758651146626824132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/syarat-kemenangan-dalam-dakwah.html' title='Syarat kemenangan dalam dakwah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsnGLn43uQI/AAAAAAAAAJ0/JwG0cq8HSGI/s72-c/Syarat+Kemenangan+Dakwah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-1421712930881411938</id><published>2009-10-05T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T03:06:20.160-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Mukmin yang tangguh dalam barisan dakwah</title><content type='html'>Allah tujuan kami&lt;br /&gt;Rasulullah teladan kami&lt;br /&gt;Al Qur'an pedoman hidup kami&lt;br /&gt;Jihad jalan juang kami&lt;br /&gt;Mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami memperkenalkan dakwah ini kepada umat manusia sebagai risalah Islam yang suci, kami selalu yakin bahwa ini adalah jalan dakwah generasi pertama. Di atas jalan ini, kita akan mendapatkan berbagai macam rintangan, cobaan, dan penderitaan sebagaimana yang didapatkan oleh para mujahidin, sahabat-sahabat Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kami tak akan merasa lemah ketika muncul di tengah masyarakat dengan tampilan seperti ini, di mana hakikat dan amal-amal Islam tidak menemukan kehidupan di dalam hati mereka. Tak ada yang tersisa di dalam hati mereka selain perasaan lemah dan tidak berdaya serta pengaruh keberagamaan yang tidak membuat mereka puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga tak akan merasa lemah ketika kami datang di tengah masyarakat untuk menggusung dakwah ini. Kami juga tidak datang menemui mereka hanya untuk memperkenalkan diri agar kami memperoleh jabatan, popularitas, dan status sosial yang terpandang di tengah masyarakat. Karena sesungguhnya, sejak dahulu hingga sekarang, kami masih tetap menyandang predikat pekerja dakwah, dan kami tidak melakukan pekerjaan ini untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Kami akan tetap melakukan dakwah ini, walaupun orang-orang yang tidak berbuat itu berkata, Ini adalah pangkal kesuksesan setiap pekerjaan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kami juga tidak membawa dakwah ini ke tengah mereka untuk meraih popularitas dan berbagai gelar yang disematkan di pundak kami untuk dipertontonkan pada setiap acara dan pesta-pesta besar, sehingga setiap orang dapat menyaksikan wajah kami terpampang di media massa. Sebab, semua itu adalah bagian dari kelompok manusia yang hatinya mati, walaupun mereka menyandang nama besar di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak menggusung dakwah ini ke tengah masyarakat agar kami dapat memenangkan pertarungan atas lawan-lawan kami, sehingga kami dapat melampaui mereka merebut nikmatnya kehidupan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak pernah membayangkan hal-hal tersebut akan terjadi atau kami melakukan hal-hal seperti itu. Akan tetapi, kami mempersembahkan dakwah ini dengan kerelaan membawa beban beratnya, lalu menggaungkannya di tengah-tengah masyarakat karena adanya keyakinan kuat dalam diri kami terhadap persoalan-pesoalan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sesungguhnya, kami berada di tengah masyarakat yang tidak sadar bahwa musuh-musuh mereka yang cerdas itu telah berhasil menjauhkan mereka dari Al Qur'an dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Musuh-musuh itu pun berhasil mempengaruhi jiwa, semangat dan gaya hidup mereka dengan tampilan yang jauh dari nilai-nilai Islam, sehingga mereka menjadi asing terhadap agamanya sendiri. Oleh karena itu, kami menyerukan Islam kepada mereka. Kami serukan bahwa agama ini adalah akidah, ibadah, tanah air, pemerintahan, Al Qur'an dan pedang (kekuatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya sekelompok manusia yang mengatakan bahwa mereka adalah orang besar dan terkemuka. Mereka itu adalah para penguasa negeri yang menjadikan hukum sebagai negara di tengah-tengah mereka. Kelompok manusia seperti ini akan menjadi musuh bebuyutan bagi dakwah, karena dakwah ini akan berdiri tegak melawan hawa nafsunya, sebagai benteng yang kokoh di hadapan ketamakannya pada dunia, sekaligus akan membuka kedok mereka sebagai politisi busuk di mata rakyat. Sementara itu, mereka akan mengerahkan segala kemampuannya untuk menaklukkan dakwah ini, dan melemparkan berbagai tuduhan keji terhadapnya. Begitulah seterusnya. Dakwah yang menggusung kebaikan dan kebenaran ini akan selalu berhadapan dengan seruan yang mengandung kebatilan dan penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu pula, kami akan mengerahkan segala daya dan kemampuan kami. Kami rela mengorbankan apa saja dan mengharamkan diri kami membantu pemerintahan dengan model seperti itu atau berlemah lembut kepada penguasa yang busuk. Semua itu menyebabkan kami selalu diawasi karena aktivitas kami yang mengancam kedudukan mereka. Gerak-gerik kami pun semakin dibatasi. Kehidupan keluarga kami diputus. Kemudian, kami meninggalkan keluarga menuju penjara atau diasingkan di pulau tak bertuan, dan akhirnya kami temukan kematian di atas jalan Allah. Semua gambaran seperti ini, sesungguhnya, teramat sedikit sebagai risiko perjuangan. Dan, dakwah hanya akan menemui kegagalan tanpa pengorbanan jiwa, darah dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memahami dengan sangat baik hakikat ini sejak langkah kaki kami yang pertama. Meskipun demikian, kami tidak gegabah untuk mengerahkan tenaga dan kemampuan kami pada sesuatu yang tidak kami butuhkan atau mengorbankan tenaga dan diri kami tanpa keuntungan. Atau, melangkahkan kaki kami tanpa tujuan terencana, sehingga kami terluka tanpa ada kebaikan yang kami peroleh. Kami berjalan di atas jalan ini untuk meraih hasil dan kebaikan sebelum yang lainnya merebut apa yang kami cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dakwah ini menuntut haknya kepada kami dalam bentuk kesiapan mengorbankan segala yang kami miliki, murah atau mahal, berisiko atau tidak demi kemenangan dakwah ini kami akan senantiasa siap melakukannya, walaupun itu harus ditebus dengan nyawa. Sebagaimana yang dikatakan seorang Mujahid, Kembali kepada Allah tanpa bekal sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas prinsip ini, kami berjalan bersama dakwah Ikhwan. Dan sesungguhnya, kalian, wahai Ikhwan, akan semakin mendekat kepada hari-hari yang sarat dengan ujian, yang tidak berasal dari hasil karya tangan kalian, tetapi terkait dengan situasi dakwah kalian, kebodohan orang-orang yang menjadi lawan dan musuh kalian. Namun, kalian akan senantiasa ikhlas di jalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Ikhwan, kita ingin melekatkan dalam diri kita ciri keistimewaan tersendiri, sehingga takkan ada manusia yang mengikuti langkah kaki kita, kecuali ia seorang mukmin dan mujahid yang siap mengorbankan segala yang ia miliki di atas jalan dakwah Muhammad saw., seruan Allah, dan Al Qur'an. Barangsiapa yang bersedia memikul beban tersebut, ia boleh ikut dan maju terus bersama kami. Tapi, bila ia seorang penakut dan pengecut, sesungguhnya, ia hanya menginginkan gelar atau kekuasaan. Oleh karena itu, hendaknya ia segera menyingkir dari barisan ini. Bila tidak, ia sendiri yang akan membayar harga yang ia berikan, dan tak ada kebaikan apa pun untuknya di dunia dan akhirat. ( Sumber : Hudzaifah )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-1421712930881411938?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/1421712930881411938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/allah-tujuan-kami-rasulullah-teladan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1421712930881411938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/1421712930881411938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/allah-tujuan-kami-rasulullah-teladan.html' title='Mukmin yang tangguh dalam barisan dakwah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-8657649692118115391</id><published>2009-10-04T02:21:00.000-07:00</published><updated>2010-01-02T18:02:08.186-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi tokoh islam'/><title type='text'>Zaid bin Tsabit Al-Anshari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Sshp9UCLmQI/AAAAAAAAAJA/-E-cUOY8cDo/s1600-h/Zaid+bin+Tsabit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Sshp9UCLmQI/AAAAAAAAAJA/-E-cUOY8cDo/s320/Zaid+bin+Tsabit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388673456219592962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ke tahun kedua hijriyah. Ketika itu Madinah sedang sibuk menyiapkan suatu angkatan perang untuk menghadapi perang Badar. Rasulullah melakukan pemeriksaan terakhir terhadap tentara muslimin yang pertama-tama dibentuk, dan segera akan diberangkatkan ke medan jihad di bawah komando beliau, untuk melestarikan kalimat Allah di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang laki-laki berusia kurang dari tiga belas tahun datang menghadap beliau. Anak itu kelihatan cerdas, terampil, hemat, cermat, dan teliti. Di tangannya tergenggam sebilah pedang, yang panjangnya melebihi badan anak itu. Dia berjalan tanpa ragu-ragu dan tanpa takut melewati barisan demi barisan menuju Rasulullah SAW. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda, wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panji Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menengok kepada anak itu dengan pandangan gembira dan takjub. Beliau menepuk-nepuk pundak anak itu tanda kasih dan simpati. Tetapi beliau menolak permintaan anak itu, karena usianya masih sangat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu pulang kembali membawa pedangnya tergesek-gesek menyentuh tanah. Dia sedih dan kecewa permintaannya untuk menyertai Rasulullah dalam peperangan pertama yang akan dihadapi beliau, ternyata ditolaknya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;bu anak itu, Nuwar binti Malik, yang sejak tadi mengikutinya dari belakang tidak kurang pula sedihnya. Dia ingin melihat anaknya berjuang di bawah panji-panji Rasulullah, supaya anak itu dapat kesempatan berdekatan dengan beliau seperti diharapkannya. Dalam angan-angannya terbayang, alangkah bahagianya ayah anak itu sekiranya dia masih hidup, melihat anaknya dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anak Anshar yang cerdas dan pintar ini tidak lekas putus asa. Walaupun dia tidak berhasil mendekatkan diri kepada Rasulullah sebagai prajurit karena usianya masih sangat muda, dia berpikir mencari jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya yang tajam membukakan jalan baginya untuk selalu berdekatan dengan Nabi yang dicintainya. Jalan itu ialah bidang ilmu dan hafalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu menyampaikan buah pikirannya kepada ibu. Sang ibu menyambut gembira buah pikiran anaknya, dan segera merintis jalan untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuwar memberi tahu beberapa orang famili tentang keinginan dan bidang yang akan ditempuh anaknya. Mereka setuju lalu pergi menemui Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka, “Wahai Rasulullah! Ini anak kami, Zaid bin Tsabit. Dia hafal tujuh belas surat dari kitab Al-Qur’an. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di samping itu dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mendengarkan Zaid bin Tsabit membaca sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang teah dihafalnya. Bacannya ternyata memang bagus, betul, dan fasih. Kalimat-kalimat Al-Qur’an bagaikan berkelap-kelip di bibirnya seperti bintang-gemintang di permukaan langit. Bacaannya menimbulkan pengaruh dan berkesan. Waqaf-waqaf dilaluinya dengan tepat, menunjukkan dia paham dan mengerti dengan baik apa yang dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah gembira karena apa yang dilihat dan didengarnya mengenai Zaib bin Tsabit, ternyata melebihi apa yang dikatakan orang yang mengantarnya. Terlebih lagi, Zait bin Tsabit pandai menuli dan membaca. Rasulullah menoleh kepada Zaid seraya berkata, “Hai Zaid! Pelajarilah baca tulis bahasa Yahudi (Ibrani). Saya sangat tidak percaya kepada mereka (Yahudi), bila saya diktekan sebagai sekretaris saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Zaid, “Saya siap, ya Rasulullah!” Zaid belajar baca tulis bahasa Ibrani dengan tekun. Berkat otaknya yang cemerlang, maka dalam tempo singkat dia telah menguasai bahasa tersebut dengan baik, berbicara, membaca, dan menulis. Apabila Rasulullah hendak menulis surat kepada orang-orang Yahudi, Zaid bin Tsabit dipanggil beliau menjadi sekretaris. Bila beliau menerima surat dari Yahudi, Zaid pula yang disuruh membacakan surat itu kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Zaid disuruh pula belajar baca tulis bahasa Suryani. Zaid berhasil menguasai bahasa itu dalam tempo singkat, berbicara, membaca, dan menulis, seperti penguasaannya terhadap bahasa Yahudi. Dan sejak saat itu, Zaid yang masih muda remaja itu dijadikan beliau sebagai penerjemah bagi beliau untuk kedua bahasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah sungguh-sungguh yakin dengan ketrampilan Zaid, kesetiaan, ketelitian, dan pemahamannya, barulah beliau menugaskannya menulis risalah langit (al-Qur’an). Maka jadilah dia penulis wahyu. Bila ayat-ayat/wahyu turun, Rasulullah memanggil Zaid, lalu dibacakannya kepada Zaid dan disuruh tulis. Karena itu Zaid bin Tsabit menulis Al-Qur’an didiktekan langsung oleh Rasulullah secara bertahap sesuai dengan turunnya ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid menuliskannya langsung dari mulut Rasulullah SAW, segera setelah ayat turun. Dengan petunjuk beliau, Zaid menyambungkan kepada ayat-ayat sebelumnya yang berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah lagi kalau pribadi Zaid cemerlang oleh sinar petunjuk Al-Qur’an, dan pikirannya gemerlapan dengan rahasia-rahasiasyariat Islam, sementara dia mengkhususkan diri dengan Al-Qur’an. Dia menjadi orang pertama tempat umat Islam bertanya tentang Al-Qur’an sesudah Rasulullah wafat. Dia menjadi ketua tim yang ditugaskan menghimpun Al-Qur’an pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq. Kemudian dia pula yang menjadi ketua tim penyusun mushaf di zaman pemerintahan Utsman bin Affan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan apakah lagi yang lebih tinggi dari itu? Masih adakah kemuliaan yang lebih tinggi dari kemuliaan seperti itu yang hendak dicapai seseorang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara keutamaan yang dilimpahkan Al-Qur’an terhadap Zaid bin Tsabit, dia pernah memberikan jalan keluar dari jalan buntu yang membingungkan orang-orang pandai pada hari Saqifah. Kaum muslimin berbeda pendapat tentang pengganti (khalifah) Rasulullah sesudah beliau wafat. Kaum muhajirin berkata, “Pihak kamilah yang lebih pantas.” Kata sebagian yang lain “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya.” Karena perbedaan pendapat, hampir saja terjadi bencana di kalangan kaum muslimin ketika itu. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring, belum dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kalimat-kalimat mutiara yang gemerlapan dengan sinar Al-Qur’an yang sanggup mengubur bencana itu, dan menyinari jalan keluar dari jalan buntu. Kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Dia berucap di hadapan kaumnya orang-orang Anshar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, “Wahai kaum Anshar! Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu sepantasnyalah penggantinya or Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnya pulalah kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)nya, sesudah beliau wafat dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah berucap begitu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash-Shidiq seraya berkata, “Inilah Khalifah kalian! Baiatlah kalian kepadanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dan kedalaman pengertian Zaid bin Tsabit mengenai Al-Qur’an telah mengangkatnya menjadi penasihat kaum muslimin. Para Khalifah senantiasa bermusyawarah dengan Zaid dalam perkara-perkara sulit, dan masyarakat umum selalu minta fatwa beliau tentang hal-hal yang musykil. Terutama tentang hukum warisan; karena belum ada diantara kaum muslimin ketika itu yang lebih mahir membagi warisan selain dari pada Zaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khatab pernah berpidato pada hari Jabriyah, katanya: “Hai, manusia! Siapa yang ingin bertanya tentang Al-Qur’an, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak bertanya tentang fiqih tanyalah kepada Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya tentang harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pencari ilmu (mahasiswa) yang terdiri dari para sahabat dan tabiin, mengerti benar ketinggian ilmu Zaid bin Tsabit. Karena itu mereka sangat hormat dan memuliakannya, mengingat ilmu yang bersarang di dadanya ialah ilmu Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat lautan ilmu pula, yaitu Abdullah bin Abbas, pernah melihat Zaid bin Tsabit direpotkan hewan yang sedang dekendarainya. Lalu Abdullah berdiri di hadapan kendaraan itu dan memegang talinya supaya tenang. Kata Zaid bin Tsabit kepada Abdullah bin Abbas, “Biarkan saja hewan itu, wahai anak paman Rasulullah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Ibnu Abbas, “Beginilah kami diperintahkan Rasulullah menghormati ulama kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Zaid, “Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas mengulurkan tangannya kepada Zaid. Zaid bin Tsabit memegang tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya. Kata Zaid, “Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah SAW menghormati keluarga Nabi kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Zaid bin Tsabit berpulang ke rahmatullah, kaum muslimin menangis karena pelita ilmu yang menyala telah padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abu Hurairah, “Telah meninggal samudra ilmu umat ini. Semoga Allah menggantinya dengan Ibnu Abbas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Rasulullah, Hasan bin Tsabit, menangisi Zaid bin Tsabit dan dirinya sendiri dengan seuntai sajak yang indah:&lt;br /&gt;Siapakah lagi merangkai sajak sesudah Hasan dan anaknya&lt;br /&gt;Manakah lagi menara ilmu sesudah Zaid bin Tsabit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-8657649692118115391?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/8657649692118115391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/zaid-bin-tsabit-al-anshari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8657649692118115391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8657649692118115391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/zaid-bin-tsabit-al-anshari.html' title='Zaid bin Tsabit Al-Anshari'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/Sshp9UCLmQI/AAAAAAAAAJA/-E-cUOY8cDo/s72-c/Zaid+bin+Tsabit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-7102753960870041291</id><published>2009-10-01T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T08:09:44.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='annis mata'/><title type='text'>Generasi pemikir strategi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTGGjwUozI/AAAAAAAAAIY/osNflx-MOT8/s1600-h/Anis+Matta.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTGGjwUozI/AAAAAAAAAIY/osNflx-MOT8/s320/Anis+Matta.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387648870221390642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Snouck Hourgronje mungkin orang paling berjasa bagi pemerintah Hindia Belanda. Jasanya terbesar adalah usulan kebijakan tentang bagaimana seharusnya pemerintah Hindia Belanda “menghadapi” umat Islam di Indonesia, yang kemudian terbukti efektif dan berhasil memperpanjang usia “penjajahan” di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik diantara sekian banyak rekomendasi kebijakannya adalah peringatannya kepada pemerintah Hindia Belanda untuk tidak mengganggu tiga hal dalam kehidupan umat Islam. Pertama, jangan ganggu umat Islam melaksanakan semua jenis ibadahnya, bahkan fasilitasi mereka untuk itu. Kedua, jangan ganggu kaum perempuan. Ketiga, jangan ganggu para ulama. Kebijakan ini benar-benar tepat untuk sebuah komunitas muslim dengan pola keberagamaan yang simbolik dan harfiah sehingga selama simbol-simbol yang disakralkan agama tidak terganggu, mereka merasa agama ini masih baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdirinya Israel tahun 1948, para pemikir strategi Israel memunculkan sebuah gagasan tentang “perang periodik”. Gagasan ini mengatakan bahwa karena secara finansial Israel sangat tergantung dari bantuan internasional, khususnya dari Amerika Serikat dan Inggris, maka bantuan-bantuan itu selalu perlu dirasionalisasi dari waktu ke waktu kepada publik dunia. Jadi, Israel perlu melakukan usaha-usaha yang sistematis untuk “mengekspor” persoalan-persoalannya kepada dunia, ancaman-ancaman terhadap eksistensi dan kelangsungan hidupnya. Sesuatu yang membuatnya tampak perlu dikasihani dan ditolong serta diselamatkan. Dengan cara itu mereka mendapatkan simpati dunia. Salah satu bentuknya adalah bantuan finansial.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Strategi yang paling tepat untuk itu adalah perang. Dan, dirancanglah sebuah perang periodik dengan negara-negara Arab, Mesir, Syria, dan Lebanon. Perang itu berlangsung itu antara setiap lima sampai sepuluh tahun. Perang 1948 disusul Perang 1956, lalu perang 1967, kemudian Perang 1973, selanjutnya Perang 1982. perang periodik itu perlu dilakukan untuk me-maintaincongressman di Washinton, saya mendapatkan informasi dari mereka bahwa 80% bantuan luar negeri Amerika memang diberikan kepada Israel dan “Mesir”. memori publik terhadap Israel yang perlu diselamatkan. Ketika saya berkunjung ke Amerika Serikat, Juli 2000 lalu, dan sempat bertemu dengan beberapa senator dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi perang periodik itu ternyata berhasil melaksanakan beberapa fungsi. Pertama, mempertahankan semangat perang prajurit Israel. Kedua, merealisasi prinsip ekspansionisme yang merupakan bagian inheren dalam falsafah Zionisme internasional. Ketiga, mendapatkan uang. Sekarang kita melihat betapa efektifnya strategi itu, baik dalam menciptakan soliditas internal dalam struktur masyarakat Israel yang baru berdiri maupun dalam menciptakan image Israel sebagai raja yang paling berkuasa di kawasan Timu Tengah. Istilah Timur Tengah ini sendiri merupakan bagian dari strategi Israel untuk mengisolasi Dunia Arab dari Dunia Islam, untuk kemudian mengisolasi Palestina dari Dunia Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya dua contoh tentang bagaimana pemikiran strategis telah membantu memperpanjang usia sebuah penjajahan dalam kasus pertama dan memeperkokoh posisi politik-militer penjajah baru dalam kasus kedua. Kehadiran kelompok pemikir strategi telah menjadi sebuah keniscayaan, bukan saja bagi negara, tapi juga bagi semua kelompok yang mempunyai misi besar. Para konsultan memainkan peran sebagai pemikir strategi dalam dunia bisnis, sementara lembaga-lembaga pengkajian strategi memeainkan peran yang sama untuk komunitas sosial, politik, dan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Pemikir Strategi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dakwah ini merupakan sebuah proyek peradaban, sesungguhnya dakwahlah yang lebih membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategi. Saat ini di hampir seluruh negara Islam, dakwah sedang dalam proses “menegara”. Mark Juergensmeyer bahkan menyebut fenomena ini sebagai gejala kebangkitan global dari “nasionalisme religius”. Di kalangan para pengamat politik internasional, seperti Kinechi Ohmae, Naisbit, dan Huntington, ada anggapan kuat bahwa era konsep negara-bangsa (nation state) –dipelopori oleh Perancis dan Amerika pada abad ke-18 sebagai model negara pasca negara-dinasti yang bertumpu pada feodalisme- yang menjadikan nasionalisme sebagai ruhnya kini telah berakhir. Sebagai gantinya muncul konsep negara-etnis dan konsep negara-agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sedang ingin membahas masalah itu. Yang ingin saya katakan adalah dakwah kita saat ini sangat membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategi. Karena itu saya merasa bahwa generasi para “ideolog” telah melakukan tugas mereka dengan baik. Sayyid Quthub, Muhammad Quthub, Muhammad Al-Ghazali, dan Yusuf Al-Qardhawi di Mesir, Al-Maududi di Pakistan, dan Al-Nadawi di India. Mereka telah membangun sebuah basis pemikiran yang kokoh bagi kebangkitan Islam di seluruh dunia. Kini tiba saatnya peran mereka dilanjutkan oleh generasi baru, generasi pemikir strategi yang bertugas menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai cita-cita dakwah. Saya tidak mengatakan generasi itu belum ada. Tapi, saya ingin mengatakan bahwa pustaka dunia Islam masih dipenuhi oleh tulisan para ideolog tersebut, dibanding generasi baru yang kita harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita perlukan adalah kehadiran sejumlah pemikir strategi dengan kualifikasi yang baik dan terinstitusikan serta bekerja dengan metodologi yang handal. Para pemikir strategi adalah orang-orang yang berpikir dalam kerangka kesisteman, menggabungkan banyak disiplin ilmu, dan meramunya menjadi sebuah struktur pemikiran yang utuh, menjelaskan bagaimana tujuan, cara dan sarana terintegrasi menjadi satu kesatuan. Strategi bukanlah sebuah disiplin ilmu. Ia adalah seni tentang bagaimana memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai tujuan tertentu. Itulah yang menjelaskan mengapa metode merupakan salah satu bagian inti dari strategi. Tapi, para pemikir strategi itu, beserta pemikiran-pemikiran mereka, perlu diinstitusikan. Karena, ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri oleh seorang pemikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kita saat ini, ada setidak-tidak dua bidang garap yang harus dilakukan oleh kleompok pemikir strategi. Pertama, strategi gerakan, yaitu merumuskan strategi untuk mengembangkan dakwah dari partai menuju negara, termasuk di dalamnya merumuskan strategi pengembangan institusi, kader kepemimpinan, basis massa, pola penetrasi sosial, tahapan ekspansi, tema dan agenda politik partai pada setiap tahapannya. Kedua, merumuskan berbagai kebijakan publik yang sebagiannya untuk dijadikan landasan bagi penyusunan berbagai perundang-undangan dan sebagiannya lagi untuk diusulkan sebagai kebijaksanaan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir strategi harus mempunyai basis yang kuat pada dua lingkaran pengetahuan. Pertama, basis ilmu-ilmu keislaman. Kedua, basis ilmu-ilmu sosial humaniora. Selama ini ada kesan bahwa para aktivis dakwah justru menghindarti ilmu-ilmu sosial dengan alasan muatannya yang sangat sekuler. Saya tidak menafikan hal itu. Tapi, itu bukan alasan untuk tidak menggelutinya. Karena, basis ilmu-ilmu keislaman dan pengalaman tarbiyah bukan saja akan memberikan imunitas kultural dan pemikiran, tapi juga kemampuan memilah dan mencipta sesuatu yang baru. Sebagaimana cerita Al-Qur’an tentang susu: datangnya dari kotoran dan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-7102753960870041291?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/7102753960870041291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/generasi-pemikir-strategi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7102753960870041291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7102753960870041291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/generasi-pemikir-strategi.html' title='Generasi pemikir strategi'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTGGjwUozI/AAAAAAAAAIY/osNflx-MOT8/s72-c/Anis+Matta.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6164006142042705247</id><published>2009-10-01T07:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T08:02:43.903-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='annis mata'/><title type='text'>Mari kita berhenti sejenak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTEaFup4UI/AAAAAAAAAIQ/KFE8Cs4sGbA/s1600-h/am.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTEaFup4UI/AAAAAAAAAIQ/KFE8Cs4sGbA/s320/am.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387647006735458626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berhenti sejenak di sini! Kita sudah relatif jauh berjalan bersama dalam kereta dakwah. Banyak sudah yang kita lihat dan yang kita raih. Tapi, banyak juga yang masih kita keluhkan; rintangan yang menghambat laju kereta, goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa, suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu di gerbong kereta ini, dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret, juga banyak kursi kosong dalam kereta dakwah ini yang semestinya bisa ditempati oleh penumpang-penumpang baru tapi tidak sempat kita muat. Dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, marilah kita berhenti sejenak di sini! Kita memerlukan saat-saat itu; saat di mana kita membebaskan diri kita dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual, saat di mana kita melepaskan sejenak beban dakwah selama ini kita pikul yang mungkin menguras stamina kita. Kita memerlukan saat-saat seperti itu karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan dakwah kita, melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita raih; meneliti rintangan yang mungkin akan menghambat laju pertumbuhan dakwah kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, bukan hanya kita, para dai, yang perlu berhenti. Para pelaku bisnis pun punya kebiasaan itu. Orang-orang yang mengurus dunia itu memerlukannya untuk menata ulang bisnis mereka. Mereka menyebutnya penghentian. Tapi, para sahabat-sahabat Rasulullah SAW –generasi pertama yang telah mengukir kemenangan-kemenangan dakwah dan karenanya berhak meletakkan kaidah-kaidah dakwah- menyebutnya majlis iman. Maka, Ibnu Mas’ud berkata, “Duduklah bersama kami, biar kita beriman sejenak.”&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majlis iman kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin kita capai dari upaya ini adalah memperbaharui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap teguh memegang janji itu; bahwa kita akan tetap setia memikul amanat dakwah ini; bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridhaNya. Hari-hari panjang yang kita lalui bersama dakwah ini menguras energi jiwa yang kita miliki, maka majils iman adalah tempat kita berhenti sejenak untuk mengisi hati dengan energi yang tercipta dan kesadaran baru, semangat baru, tekad baru, harapan baru, dan keberanian baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, majlis iman harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan dakwah sudah semakin jauh. Pertama, karena tahap demi tahap dari keseluruhan marhalah yang kita tetapkan dalam grand strategy dakwah perlahan-lahan kita lalui. Mulai dari perekrutan dan pengaderan qiyadah dan junud dakwah yang kita siapkan untuk memimpin umat meraih kejayannya kembali, kemudian melakukan mobilisasi sosial untuk menyiapkan dan mengkondisikan umat untuk bangkit, sampai akhirnya kita membentuk partai sebagai wadah untuk merepresentasikan dakwah di tingkat institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena kita hidup di sebuah masa dengan karakter tidak stabil. Perubahan-perubahan besar di lingkungan strategis berlangsung dalam durasi dan tempo yang sangat cepat. Dan perubahan-perubahan itu selalu menyediakan peluang dan tantangan yang sama besarnya. Dan, apa yang dituntut dari kita, kaum dai, adalah melakukan pengadaptasian, penyelarasan, penyeimbangan, dan –pada waktu yang sama- meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan momentum. Ketiga, karena kita mengalami seleksi dari Allah SWT secara kontinu sehingga banyak duat yang berguguran, juga banyak yang berjalan bertatih-tatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu membutuhkan perenungan yang dalam. Maka, dalam majlis iman ini, kita mengukuhkan sebuah wacana bagi proses pencerahan pikiran, penguatan kesadaran, penjernihan jiwa, pembaruan niat dan semangat jihad. Dan inilah yang dibutuhkan oleh dakwah kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi penghentian atau majlis iman semacam ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenung, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah memperbaharui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad. Hasil-hasil inilah yang kemudian kita bawa ke dalam majlis iman untuk kita bagi kepada yang lain sehingga akal individu melebur dalam akal kolektif, semangat individu menyatu dalam semangat kolektif, dan kreatifitas individu menjelma menjadi kreatifitas kolektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kehusyuan yang disebutkan Al-Qur’an, maka inilah salah satunya. Pengehentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dak keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam. Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang yang beriman untuk mengkhusyukkan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab sebelumnya (di mana) ketika jarak antara mereka (dengan sang Rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka menjadi keras, dan banyak dari mereka yang menjadi fasik.” (QS. Al-Hadid : 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah akhirnya kita memahami mengapa Rasulullah SAW menyunahkan umatnya melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan; atau mengapa Allah SWT menanamkan kegemaran berkhalwat pada diri Rasulullah SAW tiga tahun sebelum diangkat menjadi Rasul; atau bahkan mengapa Umar bin Khattab mempunyai kebiasaan i’tikaf di Masjid Haram sekali sepekan di masa jahiliyah. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis –majelis kecil para shahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana yang melahirkan gagasan-gagasan besar atau tempat merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi inilah yang hilang di antara sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan; pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6164006142042705247?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6164006142042705247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/mari-kita-berhenti-sejenak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6164006142042705247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6164006142042705247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/mari-kita-berhenti-sejenak.html' title='Mari kita berhenti sejenak'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTEaFup4UI/AAAAAAAAAIQ/KFE8Cs4sGbA/s72-c/am.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-4883368144927078996</id><published>2009-10-01T07:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T07:47:40.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='annis mata'/><title type='text'>Dari gerakan ke negara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTA5-evNpI/AAAAAAAAAII/Gc8ZV8qlEKQ/s1600-h/Anis+Matta+Krkt.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 271px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTA5-evNpI/AAAAAAAAAII/Gc8ZV8qlEKQ/s320/Anis+Matta+Krkt.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387643156498953874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rencana itu terlalu halus untuk dideteksi secara dini oleh para pemimpin musyrik Quraisy.Tiba-tiba saja Makkah terasa lengang dan sunyi. Ada banyak wajah yang terasa perlahan-lahan enghilang dari lingkungan pergaulan. Tapi tidak ada berita. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang sedang terjadi dalam komunitas Muslim di bawah pimpinan Rasulullah SAW. Ini memang bukan rencana yang bisa dirahasiakan dalam waktu lama. Orang-orang musyrik Makkah akhirya memang mengetahui bahwa kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah. Tapi setelah proses hijrah hampir selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka gemparlah penduduk Makkah. Tapi. Sebuah episode baru dalam sejarah telah dimulai: sebuah gerakan telah berkembang menjadi sebuah negara, dan sebuah negara telah bergerak menuju peradabannya; sebuah agama telah menemukan “orang-orangnya”, setelah itu mereka akan menancapkan “bangunan peradaban” mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah, dalam agama ini, adalah persoalan kedua. Sebab yang berpijak di atas tanah adalah manusia maka di sanalah Islam pertama kali menyemaikan dirinya; dalam ruang pikiran, ruang jiwa, dan ruang gerak manusia. Tanah hanya akan menjadi penting ketika komunitas “manusia baru” telah terbentuk dan mereka membutuhkan wilayah teritorial untuk bergerak secara kolektif, legal, dan diakui sebagai sebuah entitas politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tanah hanya merupakan persoalan kedua maka tidaklah heran bila pilihan daerah tempat hijrah diperluas oleh rasulullah SAW. Dua kali sebelumnya, kaum Musimin, dalam jumlah yang lebih kecil, berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), baru kemudian berhijrah keseluruhan ke Madinah. Tapi, ketika kaum Muslimin sudah berhijrah seluruhnya ke madinah, mereka yang sebelumnya telah berhijrah ke Habasyah tidak serta merta dipanggil oleh Rasulullah SAW. Mereka baru menyusul ke Madinah lima atau enam tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka tiba di Madinah, di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, kaum Muslimin baru saja memenangkan perang Khaibar, sebuah peperangan yang sebenarnya mirip dengan sebuah pengusiran, menyusul pengkhianatan kaum Yahudi dalam perang Khandaq. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak tahu dengan apa aku digembirakan oleh Allah; apakah dengan kemenangan dalam perang Khaibar atau dengan kedatangan Ja’far?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gerakan Ke Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah, dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan” menjadi negara. Tiga belas tahun sebelumnya, Rasulullah SAW melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis, di mana Islam menjadi jalan hidup individu; di mana Islam “memanusia” dan kemudian “memasyarakat”. Sekarang, melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu “menegara”, dan Madinah adalah wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau individu membutuhkan aqidah maka negara membutuhkan perangkat sistem. Setelah komunitas Muslim menegara, dan mereka memilih Madinah sebagai wilayahnya, Allah SWT menurunkan perangkat sistem yang mereka butuhkan. Turunlah ayat-ayat hukum dan berbagai kode etik sosial, ekonomi, politik, keamanan dan lain-lain. Lengkaplah sudah susunan kandungan sebuah negara: manusia, tanah, dan sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah SAW sebenarnya relatif mirip dengan semua yang mungkin dilakukan para pemimpin politik yang baru mendirikan negara. Pertama, membangun infrastruktut negara dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antarkomunitas darah yang berbeda tapi menyatu sebagai komunitas agama, antara sebagian komunitas “Quraisy” dan “Yatsrib” menjadi komunitas “Muhajirin” dan “Anshar”. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui piagam Madinah. Keempat, merancang sistem pertahanan negara melalui konsep Jihad fi Sabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun pertama setelah hijrah kehidupan dipenuhi oleh kerja keras Rasulullah SAW beserta para shahabat beliau untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup negara Madinah. Dalam kurun waktu itu, Rasulullah SAW telah melakukan lebih dari 40 kali peperangan dalam berbagai skala. Yang terbesar dari semua peperangan itu adalah perang Khandaq, di mana kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Setelah itu tidak ada lagi yang terjadi di sekitar Madinah karena semua peperangan sudah bersifat ekspansif. Negara Madinah membuktikan kekuatan dan kemandiriannya, eksistensinya, dan kelangsungannya. Di sini, kaum Muslimin telah membuktikan kekuatannya, setelah sebelumnya kaum Muslimin membuktikan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada tahapan ini adalah menegakkan negara. Sebagai sebuah bangunan, negara membutuhkan dua bahan dasar: manusia dan sistem. Manusialah yang akan mengisi suprastruktur. Sedangkan sistem adalah perangkat lunak, sesuatu dengan apa negara bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah sistem itu. Oleh karena itu Islam bersifat given. Tapi, manusia adalah sesuatu yang dikelola dan dibelajarkan sedemikian rupa hingga sistem terbangun dalam dirinya, sebelum kemudian mengoperasikan negara dalam sistem tersebut. Untuk itulah Rasulullah SAW memilih manusia-manusia terbaik yang akan mengoperasikan negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kedua bahan dasar negara itu, juga perlu ada bahan pendukung lainnya. Pertama, tanah. Tidak ada negara tanpa tanah. Tapi, dalam Islam, hal tersebut merupakan infrastruktur pendukung yang bersifat sekunder sebab tanah merupakan benda netral, yang akan mempunyai makna ketika benda tersebut dihuni oleh manusia dengan cara hidup tertentu. Selain berfungsi sebagai ruang hidup, tanah juga merupakan tempat Allah menitip sebagian kekayaan-Nya yang menjadi sumber daya kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jaringan sosial. Manusia sebagai individu hanya mempunyai efektifitas ketika ia terhubung dengan individu lainnya secara fungsional dalam suatu arah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perangkat utama yang diberikan untuk menegakkan negara; sistem, manusia, tanah, dan jaringan sosial. Apabila ke dalam unsur-unsur utama itu kita masukkan unsur ilmu pengetahuan dan unsur kepemimpinan maka keempat unsur utama tersebut akan bersinergi dan tumbuh secara lebih cepat. Walaupun, secara implisit, sebenarnya unsur ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam sistem dan unsur kepemimpinan sudah masuk ke dalam unsur manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah semua yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selama tiga belas tahun berdakwah dan membina sahabat-sahabatnya di Makkah; menyiapkan semua perangkat yang diperlukan dalam mendirikan sebuah negara yang kuat. Hasil dakwah dan pembinaan itulah yang kemudian tumpah ruah di Madinah dan mengkristal secara sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah transformasi itu terjadi. Ketika gerakan dakwah menemui kematangannya, ia menjelma jadi negara; ketika semua persyaratan dari sebuah negara kuat telah terpenuhi, negara itu tegak di atas bumi, tidak peduli di belahan bumu manapun ia tegak. Proses transformasi ini memang terjadi sangat cepat dan dalam skala yang sangat besar. Tapi, proses ini sekaligus mengajari kita dua hakikat besar: pertama, tentang hakikat dan tujuan dakwah serta strategi perubahan sosial. Kedua, tentang hakikat negara dan fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dakwah adalah mengejawantahkan kehendak-kehendak Allah SWT –yang kemudian kita sebut agama, tau syariah- dalam kehidupan manusia. Syariah itu sesungguhnya merupakan sistem kehidupan yang integral, sempurna, dan universal. Karena manusia yang akan melaksanakan dan mengoperasikan sistem tersebut maka manusia harus disiapkan untuk peran itu. Secara struktural, unit terkecil yang ada dalam masyarakat manusia adalah individu. Itulah sebabnya, perubahan sosial harus dimulai dari sana; membangun ulang susunan keribadian individu, mulai dari cara berpikir hingga cara berperilaku. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu sama lain dalam suatu jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, sistem distribusi sosial ekonomi politik yang juga baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Rasulullah SAW memulai pekerjaannya. Beliau melakukan penetrasi ke dalam masyarakat Quraisy dan merekrut orang-orang terbaik di antara mereka. Menjelang hijrah ke Madinah, beliau juga merekrut orang-orang terbaik dari penduduk Yatsrib. Maka terbentuklah sebuah komunitas baru di mana Islam menjadi basis identitas mereka, aqidah menjadi dasar ikatan kebersamaan mereka, ukhuwah menjadi sistem jaringan mereka, dan keadilan menjadi prinsip dstribusi sosial-ekonomi-politik mereka. Tapi, perubahan itu bermula dari sana; dari dalam individu, dari dalam pikiran, jiwa dan raganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model perubahan sosial seperti itu mempunyai landasan pada sifat natural manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Perubahan mendasar akan terjadi dalam diri individu jika ada perubahan mendasar pada pola pikirnya karena pikiran adalah akar perilaku. Masyarakat juga begitu. Ia akan berubah secara mendasar jika individu-individu dalam masyarakat itu berubah dalam jumlah yang relatif memadai. Tapi, model perubahan ini selalu gradual dan bertahap. Prosesnya lebih cenderung evolusioner, tapi dampaknya selalu bersifat revolusioner. Inilah makna firman Allah SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep politik Islam, syariat atau kemudian kita sebut sistem atau hukum, adalah sesuatu yang sudah ada, given. Negara adalah institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem tersebut. Inilah perbedaan mendasar dengan negara sekuler, di mana sistem atau hukum mereka adalah hasil dari produk kesepakatan bersama karena hal tersebut sebelumnya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai institusi, bentuk negara selalu berubah mengikuti perubahan-perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat manusia. Dari bentuk negara kerajaan, parlementer, hingga presidensiil. Skala negara juga berubah mengikuti perubahan struktur kekuatan antarnegara, dari imperium besar ke negara bangsa, dan barangkali, yang sekarang jadi mimpi pemerintahan George W. Bush junior di Amerika: negara dunia atau global state. Struktur etnis dan agama dalam sebuah negara juga bisa tunggal dan majemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu semua merupakan variabel yang terus berubah, dinamis, dan tidak statis, maka Islam tidak membuat batasan tertentu tentang negara. Bentuk boleh berubah, tapi fungsinya tetap sama; institusi yang mewadahi penerapan syariat Allah SWT. Itulah sebabnya bentuk negara dan pemerintahan dalam sejarah Islam telah mengalami berbagai perubahan; dari sistem khilafah ke kerajaan dan sekarang berbentuk negara bangsa dengan sistem yang beragam dari monarki, presidensiil, dan parlementer. Walaupun tentu saja ada bentuk yang lebih efektif menjalankan peran dan fungsi tersebut, yaitu sistem khilafah yang sebenarnya lebih mirip dengan konsep global state. Tapi, efektifitasnya tidaklah ditentukan semata oleh bentuk dan sistem pemerintahannya, tapi terutama oleh suprastrukturnya, yaitu manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kita akan melakukan kesalahan besar kalau kita menyederhanakan makna negara Islam dengan membatasinya hanya dengan pelaksanaan hukum, pidana dan perdata, serta etika sosial politik lainnya. Persepsi ini yang membuat negara Islam lebih berciri moral ketimbang ciri lainnya. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa syariat Allah itu bertujuan memberikan kebahagiaan kepada manusia secara sepurna; tujuan hidup yang jelas, yaitu ibadah untuk mendapatkan ridha Allah SWT serta rasa aman dan kesejahteraan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum-hukum Islam dalam bidang pidana dan perdata sebenarnya merupakan sub-sistem. Tapi, dampak penerapan syariah tersebut pada penciptaan keamanan dan kesejahteraan hanya dapat muncul di bawah sebuah pemerintahan yang kuat. Hal itu bertumpu pada manusia. Hanya “orang kuat yang baik” yang bisa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan, bukan orang yang baik. Bagaimanapun, hanya orang kuat dan baik yang dapat menerapkan sistem Allah secara sempurna. Inilah makna hadits Rasulullah SAW “laki-laki mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada laki-laki mukmin yang lemah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah dalamnya penghayatan Umar bin Khattab tentang masalah ini ketika berdoa, “Ya Allah lindungilah kami dari orang yang bertaqwa yang lemah dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.” Inilah sesungguhnya misi gerakan Islam: melahirkan orang-orang baik yang kuat atau orang-orang kuat yang baik. [Anis Matta]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-4883368144927078996?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/4883368144927078996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/dari-gerakan-ke-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/4883368144927078996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/4883368144927078996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/dari-gerakan-ke-negara.html' title='Dari gerakan ke negara'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsTA5-evNpI/AAAAAAAAAII/Gc8ZV8qlEKQ/s72-c/Anis+Matta+Krkt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-2321886858670674342</id><published>2009-10-01T06:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T06:47:47.582-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Misi dakwah kita :perubahan dan perbaikan (At-taghyir wal ishlah)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsSyqG3J62I/AAAAAAAAAH4/qs6Jr5LrqAk/s1600-h/capt.photo_1233505194560-1-0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsSyqG3J62I/AAAAAAAAAH4/qs6Jr5LrqAk/s320/capt.photo_1233505194560-1-0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387627490708155234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan wa akhawat fiddin rahimakumullah…&lt;br /&gt;Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari penaklukan kota dan negeri di era dakwah Rasulullah SAW? Mungkin banyak sekali. Di situ ada pelajaran tentang keberanian, ketaatan, pengorbanan, konsistensi, dan masih banyak hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada satu hal menarik untuk kita simak. Yaitu, di hampir setiap penaklukan kota dan negeri, cara kekerasan selalu pada pilihan terakhir. Tidak ada politik bumi hangus, asal hukum, dan sebagainya. Setidaknya, hal itu terlihat pada penaklukan terbesar pada sejarah dakwah rasulullah SAW, yaitu Fathu Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang masuk ke Masjidil Haram, ia selamat. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, ia juga selamat.” Begitulah kira-kira hawa perdamaian dan keselamatan yang ditebarkan Rasulullah SAW pada penduduk Makkah. Sebuah komunitas yang pernah begitu besar melakukan permusuhan terhadap diri dan misi Nabi SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pola baru dalam penaklukan yang dikenal masyarakat waktu itu. Karena umumnya, penaklukan selalu berujung pada penghancuran, balas dendam, dan sejenisnya. Logika ini pula yang pernah disampaikan Ratu Bailqis ketika mengomentari strategi apa untuk menghadapi dakwah Nabi Sulaiman.&lt;br /&gt;قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ [النمل/34]&lt;br /&gt;“Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang muia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (QS. An-Naml : 34)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW soal strategi jitu menaklukkan Khaibar. Saat itu, ia memang dapat amanah memimpin Perang Khaibar.&lt;br /&gt;يا رسول الله أقاتلهم حتى يكونوا مثلنا ؟ فقال ( انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله فيه فوالله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم&lt;br /&gt;“Ya Rasulullah, apakah mereka langsung kita perangi sampai mau (masuk Islam) seperti kami? Rasulullah SAW bersabda, “Berlaku tenanglah sampai di kawasan mereka, lalu dakwahilah mereka kepada Islam. Kabarkanlah kepada mereka hal-hal yang wajib mereka lakukan atas hak-hak Allah. Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewat dakwahmu, maka yang demikian itu lebih baik bagimu, melebihi ghanimah besar yang terdiri dari hewan ternak terbaik.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang dirahmati Allah…&lt;br /&gt;Pelajaran itu adalah: dakwah Islam tidak sekadar melakukan perubahan, tapi juga perbaikan. Hal itulah yang pernah diungkapkan Nabi Syu’aib AS soal dakwahnya. Firman Allah SWT:&lt;br /&gt;إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ [هود/88]&lt;br /&gt;“…Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.” (QS. Hud : 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dan perbaikan itu seolah-olah dua muka pada sebuah koin. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Perubahan tanpa perbaikan seperti orang yang berjalan tanpa arah, dan perbaikan tanpa perubahan seperti menuangkan air ke dalam ember yang bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah perubahan tanpa perbaikan, dan tak ada perbaikan tanpa diiringi perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal ikhwah…&lt;br /&gt;Dengan kata lain, perubahan yang kita inginkan bukan perubahan artifisial. Bukan sekadar ganti kulit, sementara isinya masih tetap ular. Karena itulah, syumuliyatud da’wah harus terus kita jaga. Baik dari segi objek, bentuk, sarana, maupun pengembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita mengarahkan objek dakwah kepada orang lain, terlebih dahulu diri sendiri, istri, dan anak harus menjadi objek utama. Jangan seperti calo bus di sebuah terminal, berteriak-teriak supaya orang lain naik bus, tapi ketika bus berangkat, ia tetap saja diam di terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak seperti orang Yahudi yang kehilangan konsistensi terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [البقرة/44]&lt;br /&gt;“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Padahal kamu membaca Alkitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (QS. Al-Baqarah : 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang dicintai Allah…&lt;br /&gt;Allah SWT memberikan kita begitu banyak pengalaman soal bentuk dakwah yang cocok di lahan Indonesia ini. Mulai dari gerilnya yang memunculkan begitu banyak pengalaman kewaspadaan, era kelembagaan yang mengajarkan kita cara efektif bersosialisasi, dan era politik yang membuka begitu banyak pintu peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT begitu memudahkan kita melalui bentuk-bentuk dakwah itu, memberikan kepada kita khazanah pengalaman yang begitu mahal. Bahkan, teramat mahal, yang mungkin tidak dialami negeri-negeri lain yang juga mengusung dakwah ini. Dari situ, kita bisa menimbang dan menakar seperti apa mestinya dakwah yang produktif untuk negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwati fillah…&lt;br /&gt;Kita semua yakin bahwa tak seorang pun dari kita yang ingin mengecilkan partai dakwah ini. Tak seorangpun dari kita yang ingin mengecilkan peran dakwah ini. Tak seorang pun dari kita yang antipolitik seraya ingin tetap dalam bentuk dakwah gerilya. Sebagaimana tak seorang pun dari kita yang ingin melupakan bentuk dakwah di masa awal dulu dengan asyik duduk menikmati kemewahan panggung politik. Namun, parsialisasi dakwah kadang muncul bersamaan dengan dominasi subjektivitas dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kebersamaan tergilas oleh obsesi individu, ketika amal jama’i terpinggirkan oleh superioritas orang per orang, ketika keputusan atau ijtihad pribadi bisa mengalahkan hasil syura yang penuh berkah; saat itulah dakwah menjadi begitu kerdil, parsial, dan artifisial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mungkin, na’udzubillah, sesama satu gerakan dakwah bisa saling meniadakan antara sati pelaksana dengan pelaksana yang lain. Antara satu program dengan program yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan fiddin rahimakumullah…&lt;br /&gt;Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah memberi nasihat kepada kita “Dakwah ini tidak menerima persekutuan. Sebab, tabiatnya adalah keterpaduan. Maka, siapa yang siap, ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun hidup bersamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaliknya, siapa yang tidak sanggup memikul beban ini, ia akan terhalang dari pahala para mujahidin, tertinggal bersama orang-orang yang tertinggal, duduk bersama orang-orang yang hanya duduk-duduk. Dan, Allah SWT akan mengganti dengan generasi lain yang sanggup memikul beban dakwah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang dicintai Allah…&lt;br /&gt;Fathu Makkah adalah diantara buah dakwah Nabi SAW yang didahului dengan keringat, darah, dan air mata. Namun beratnya perjalanan itu tidak menjadikan dakwah kehilangan kebijaksanaan dan kasih sayang. Justru melahirkan dakwah begitu matang dan dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hala apa pun: kepemimpinan, keterpaduan, kesolidan, program perubahan dan perbaikan, serta keteladanan adalah untuk generasi dakwah yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-2321886858670674342?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/2321886858670674342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/misi-dakwah-kita-perubahan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2321886858670674342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/2321886858670674342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/misi-dakwah-kita-perubahan-dan.html' title='Misi dakwah kita :perubahan dan perbaikan (At-taghyir wal ishlah)'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsSyqG3J62I/AAAAAAAAAH4/qs6Jr5LrqAk/s72-c/capt.photo_1233505194560-1-0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-8033888652204695462</id><published>2009-10-01T06:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T06:49:49.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Murabi saleh, halaqah muntijah</title><content type='html'>Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembaku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya, dan (tidak wajar pulan baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah(menganut agama) Islam?” (QS. Ali Imran : 79-80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal ikwah wal akhawat rahimakumullah…&lt;br /&gt;“Kader adalah rahasia kehidupan dan kebangkitan. Sejarah umat adalah sejarah para kader militan dan memiliki kekuatan jiwa dan kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana umat tersebut mampu menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat ksatria…” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal ikwah wal akhawat rahimakumullah…&lt;br /&gt;“Kader adalah rahasia kehidupan dan kebangkitan. Sejarah umat adalah sejarah para kader militan dan memiliki kekuatan jiwa dan kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana umat tersebut mampu menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat ksatria…” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju, atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini, dakwah membutuhkan mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul dakwah. Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Junud ad-dakwah yang cerdas, penuh semangat dan bertanggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini. Kehadiran kader seperti inilah yang menjadi obsesi Khalifah Umar r.a.:&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Umar r.a berkata kepada para sahabatnya, “Berobsesilah!” Mulailah mereka menyampaikan obsesinya. Umar berkata, “Aku ingin ada sebuah rumah yang penuh kader sejati seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kader dengan karakter tersebut hanya bisa diwujudkan melalui pembinaan diri yang intensif dan berkesinambungan. Artinya, kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pada era politik dakwah sekrang inilah jamaah sangat membutuhkan kejelasan komitmen yang tinggi dari para kadernya. Yang mengharuskan kita membelanya sampai titik darah penghabisan. Jamaah ini harus sampai kepada ahdaf-nya yang telah dirancang untuk ‘Izzul Islam wal muslimin. Kita beriltizam pada jalan dakwah, bukan dengan figur, melainkan dengan dakwah itu sendiri. Karena persoalan pribadi tidak semestinya mengeliminasi kecintaan dan pembelaan kita kepada jalan dakwah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang yang saleh dan mushlih adalah buah yang kita harapkan dari proses tarbiyah yang kita jalani selama ini. Saleh secara pribadi dan mengupayakan tumbuh kembangnya kesalehan pada orang lain merupakan teladan dari Rasulullah SAW dan para salafussaleh yang sepatutnya kita ikuti. Alhamdulillah, saat ini sangat banyak diantara kita yang mendapatkan kesempatan menjadi dai atau murabbi, baik di lingkungan tempat kita tinggal, kampus, sekolah, maupun perkantoran. Sesungguhnya yang kita inginkan bukanlah semata banyaknya jumlah mad’u atau murabbi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana agar kuantitas dan kualitas selalu merupkaan fungsi yang bergradien positif. Atau menurut slogan seorang ikhwah, “Daripada berjuang bersama 20 orang tapi tidak berkualitas, lebih baik berjuang bersama 2000 orang yang berkualitas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci utama peningkatan kualitas umat ini terletak di tangan para penyeru Islam. Atau dalam konteks ini, penentu pemeliharaan dan peningkatan kualitas kesalehan para mad’u atau mutarabbi menjadi tanggung jawab para dai atau murabbi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal ikhwah wal akhawat rahimakumullah…&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberaoa karakteristik yang harus kita usahakan agar melakat pada diri para dai atau murabbi sehingga terbentuk halaqah muntijah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-fahm asy-syaamil al-kaamil&lt;br /&gt;Yaitu pemahaman yang sempurna dan menyeluruh terhadap dasar-dasar keislaman dan rambu-rambu petunjuknya, juga terhadap apa yang didakwahkannya, karena seorang murabbi akan mentarbiyah seseorang yang memiliki akal, perasaan dan pemahaman, dan orang tersebut akan merefleksikan apa yang didengar dan diperhatikan dari sang dai atau murabbi. Maka, apabila seorang dai dan murabbi tidak memiliki level pengetahuan yang memadai dan wawasan pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar keislaman, hal itu akan memindahkan sebuah kebodohan kepada mutarabbinya, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah dalam pembentukan kepribadian Muslim seorang mutarabbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Waqi’ ‘Amaly&lt;br /&gt;Yaitu keteladanan sang murabbi dengan amal perbuatannya yang secara riil tampak jelas pada perilakunya. Seperti geraknya, diamnya, bicaranya, atributnya, pandangannya, dan ibrah-nya. Seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keimanan dan pemahaman dalam kehidupan seorang murabbi, dalam rangka memberikan pengaruh keteladanan yang baik (qudwah salehah) di tenga-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri jamaa Ikhwan, Hasan Al-Banna menyifati murabbi dengan sebutan dai mujahid. Lebih jelasnya beliau menyebutkan bahwa dai mujahid adalah, “Sosok dai yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, terus menerus berpikir, penuh perhatian dan siap siaga selalu.” Begitulah seharusnya seorang murabbi, iman dan keyakinannya tercermin pada perilaku dan amalnya. Berdasarkan penelitian pada perjalanan kehidupan seorang murabbi, bahwa pengaruh mereka terhadap banyak orang lebih banyak berasal dari perilaku dan akhlaknya yang istiqamah di setiap keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi pemaaman umum bahwa manthiqul af’al aqwa min manthiqil aqwal (logika amal/perbuatan lebih kuat dari logika kata-kata). Dikatakan pula oleh ulama salafusshalih, “Man lam tuhadzdzibka ru’yatuhu, fa’lam annahu ghairu /muhadzdzab.” (Barangsiapa yang tidak mendidikmu ketika engkau melihatnya maka ketahuilah bahwa orang itu juga tidak terdidik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Man wa’azha akhaahu bifi’lihi, kaana haadiyan.” (Barangsiapa yang menasihati saudaranya dengan amal perbuatannya maka berarti ia telah menunjukinya). Oleh karena itu, keteladanan adalah fokus yang sangat sensitif dan halus, karena apa yang tampak pada dirinya jauh lebih besar pengaruhnya dari apa yang diucapkannya (al-manzhar a’zhamu ta’tsiiran minal qaul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Khibrah binnufus&lt;br /&gt;Yaitu berpengalaman dalam memahami aspek kejiwaan, karena sesungguhnya lapangan kerja seorang murabbi tidak lain adalah jiwa, bergumul dengannya, dan menjadikannya sasaran yang pertama dan terakhir dalam proses tarbiyah; sedangkan jiwa tidak seperti gigi sisir, akan tetapi jiwa orang berbeda satu dengan yang lainnya, ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang peka dan oversensitif. Ada yang lembut, ada yang keras, bebal, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, seorang murabbi hendaknya menyikapi seseorang sesuai dengan kejiwaannya dan berhati-hati dalam berinteraksi dengannya, maka jangan bersikap terlalu tegas dan keras kepada orang yang jiwanya halus dan peka, melainkan harus dihadapi dengan lemah lembut. Sebaliknya, orang yang jiwanya keras harus dihadapi dengan ketegasan jika ia lalai dan menyimpang. Adala Rasulullah SAW sosok murabbi pertama yang berpengalaman dalam ilmu jiwa, beliau tidak memperlakukan para sahabatnya dengan sikap yang sama antara yang satu dan lainnya, karena beliau sangat tahu akan tabiat manusia dan kejiwaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata :&lt;br /&gt;Rasulullah SAW perna beberapa hari lamanya tidak memberikan nasihat kepada kami, karena beliau takut kami menjadi bosan. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengn al-khibrah binnufus, banyak contoh keteladanan dari murabbi zaman ini, diantara mereka adalah Hasan Al-Banna, di mana tela terjadi dialog antara beliau dengan salah seorang ikhwah. Ikhwah tersebut berkata, “Sesungguhnya saya lagi banyak masalah dan ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.” Maka kata Hasan Al-Banna, “Sudahlah, jangan bebani dirimu dengan masalah itu. Serahkan urusanmu kepada Allah.” “Tapi, saya ingin Anda tahu,” sergah akh tersebut. “Sesungguhnya saya sudah tahu,” kata Al-Banna seraya meyakinkan akh tersebut. “Jadi saya bahagia kalau Anda mau tahu,” balas akh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, belum sempat saya memulai curhat, beliau suda mendahuluiku dengan rentetan masalah dan keluhan yang dialaminya sendiri bahkan yang mengerankan apa yang diutarakannya sama dengan apa yang saya rasakan. Setelah beliau selesai berbicara, maka sayapun berkata kepadanya, “Ustadz, demi Allah, sungguh saya sangat bahagia, dan saya tidak akan mengeluh lagi.” Saya mengatakan semua itu sambil terisak dan bercucuran air mata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal ikhwah wal akhawat rahimakumullah…&lt;br /&gt;Agar sebuah halaqah dapat dikategorikan sebagai halaqah muntija (produktif) tentunya ada aturan-aturan yang arus ditaati oleh semua komponen halaqah, dalam hal ini adalah murabbi dan mutarabbi. Dr. Abdullah Qadiri dalam buku Adab Halaqah menyebutkan adab-adab pokok yang harus ada dalam sebuah halaqah, yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Serius dalam segala urusan dan menjauhi sendau gurau serta orang-orang yang banyak bergurau. Yang dimaksudkan serius dan tidak bersendau gurau tentu saja bukan berarti suasana halaqah menjadi kaku, tegang, dan gersang, melainkan tetap diwarnai keceriaan, kehangatan, kasih sayang, dan gurauan yang tidak melampuai batas atau berlebihan. Jadi, canda dan gurauan hanya menjadi unsur selingan yang menyegarkan suasana dan bukan merupakan porsi utama halaqah.&lt;br /&gt;2. Berkemauan keras untuk memahami aqidah salafussalih dari kitab-kitabnya, seperti kitab Al-‘Ubudiyah. Sehingga semua peserta halaqa akan terhindar dari segala bentuk penyimpangan aqidah.&lt;br /&gt;3. Istiqamah dalam berusaha memahami kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya dengan jalan banyak membaca, mentadabburi ayat-ayat-Nya, membaca buku tafsir dan ilmu tafsir, buku hadits dan ilmu hadits, dan lain-lain&lt;br /&gt;4. Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta) yang membuat orang-orang yang taqlid terhadap seseorang atau golongan telah terjerumus ke dalamnya karena tidak ada manusia yang ma’shum (bebas dari kesalahan) kecuali Rasulullah yang dijaga Allah. Sehingga jika ada perbedaan pendapat hendaknya dikembalikan kepada dalil-dalil yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Hanya kebenaranlah yang wajib diikuti, oleh karenanya tidak boleh menaati makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah.&lt;br /&gt;5. Menghindari ghibah. Majelis halaqah hendaknya dibersihkan dari kebusukan ghibah dan namimah terhadap seseorang atau jamaah tertentu. Adab-adab Islami haruslah diterapkan, antara lain dengan tidak memburuk-burukkan seseorang.&lt;br /&gt;6. Melakukan ishlah (koreksi) terhadap murabbi atau mutarabbi secara tepat dan bijak karena tujuannya untuk mengingatkan dan bukan mengadili.&lt;br /&gt;7. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menetapkan skala prioritas bagi pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan kadar urgensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain adab-adab pokok tersebut, secara lebih spesifik ada adab yang harus dipenuhi oleh peserta/anggota halaqah terhadap diri mereka sendiri, terhadap murabbi, dan sesama peserta halaqah. Mula-mula seorang peserta halaqah hendaknya memiliki kesiapan jasmani, rohani dan akal saat menghadiri liqo’ halaqah. Ia semestinya membersihkan hati dari aqidah dan akhlak yang kotor, kemudia memperbaiki dan membersihkan niat, bersahaja dalam hal cara berpakaian, makanan, dan tempat pertemuan. Selain itu, juga bersemangat menuntut ilmu dan senantiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya terhadap murabbi hendaknya ia tsiqah (percaya) dan taat selama sang murabbi tidak melakukan maksiat. Lalu berusaha konsultatif atau selalu mengomunikasikan dan meminta saran-saran tentang urusan-urusan dirinya kepada murabbi. Selain itu, ia juga berupaya memenuhi hak-hak murabbi dan tidak melupakan jasanya, sabar atas perlakuannya yang boleh jadi suatu saat tidak berkenan, meminta izin, serta bertutur kata yang sopan dan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya adab ikhwah sesama peserta halaqah dengan mendorong peserta lain untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti tarbiyah. Lalu tidak memotong pembicaraan teman tanpa izinnya, selalu hadir tidak terlambat dan dengan wajah berseri, memberi salam, bertegur sapa, dan tidak menyakiti perasaan. Selain itu, terhadap lingkungan di sekitar tempat halaqah berlangsung, hendaknya semua peserta halaqah selalu menunjukkan adab-adab kesantunan, mengucapkan salam, meminta izin ketika melewati mereka, dan pamit bila akan pulang serta melewati mereka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, ayyuhal ikhwah wal akhawat taujih singkat, semoga kita semua bisa melaksanakan adab-adab halaqah dengan baik, sehingga halaqah tidak sekedar rutinitas yang menjemukan. Namun kegiatan liqa’ halaqah atau usrah menjadi sangat dirindukan dan mampu menghasilkan kader-kader dakwah yang tangguh. Amiin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-8033888652204695462?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/8033888652204695462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/murabi-saleh-halaqah-muntijah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8033888652204695462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/8033888652204695462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/murabi-saleh-halaqah-muntijah.html' title='Murabi saleh, halaqah muntijah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-7871654246383945224</id><published>2009-10-01T06:27:00.001-07:00</published><updated>2009-10-01T07:27:49.291-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ust. rahmat abdullah'/><title type='text'>Dakwah adalah cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsS8JABLWjI/AAAAAAAAAIA/4RlGVoOpk7s/s1600-h/rahmat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsS8JABLWjI/AAAAAAAAAIA/4RlGVoOpk7s/s320/rahmat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387637917051738674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.&lt;br /&gt;Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya&lt;br /&gt;sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi&lt;br /&gt;orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.&lt;br /&gt;Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang&lt;br /&gt;segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah&lt;br /&gt;kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai&lt;br /&gt;jiwa yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga&lt;br /&gt;terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa&lt;br /&gt;pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya&lt;br /&gt;diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang&lt;br /&gt;sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang&lt;br /&gt;bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah&lt;br /&gt;bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah&lt;br /&gt;bukannya sepi dari godaan kefuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama&lt;br /&gt;mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan&lt;br /&gt;segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu&lt;br /&gt;menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana&lt;br /&gt;pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan&lt;br /&gt;rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus&lt;br /&gt;mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk&lt;br /&gt;mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.&lt;br /&gt;Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda&lt;br /&gt;dibandingkan jihad yang begitu cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar&lt;br /&gt;wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.&lt;br /&gt;Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi&lt;br /&gt;kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya&lt;br /&gt;adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan&lt;br /&gt;pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan&lt;br /&gt;Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya&lt;br /&gt;besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu&lt;br /&gt;mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru&lt;br /&gt;jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah&lt;br /&gt;dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya&lt;br /&gt;dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…&lt;br /&gt;Mengajak kita untuk terus berlari…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.&lt;br /&gt;Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.&lt;br /&gt;Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.&lt;br /&gt;Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.&lt;br /&gt;Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(alm. Ust Rahmat Abdullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya&lt;br /&gt;harus mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In memoriam Ust. Rahmat Abdullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-7871654246383945224?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/7871654246383945224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/dakwah-adalah-cinta_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7871654246383945224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/7871654246383945224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/dakwah-adalah-cinta_01.html' title='Dakwah adalah cinta'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SsS8JABLWjI/AAAAAAAAAIA/4RlGVoOpk7s/s72-c/rahmat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-3744546549773660567</id><published>2009-10-01T06:11:00.001-07:00</published><updated>2009-10-01T06:22:54.178-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Sifat-sifat Aktivis Dakwah</title><content type='html'>Wahai saudaraku aktivis da’wah, keberadaan antum dalam menyebarkan da’wah Islam bukanlah perbuatan bid’ah, namun seperti pohon rindang nan lebat daun dan buahnya, memiliki akar yang kokoh dan cabang yang tinggi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang akarnya kokoh sedang cabangnya menjulang tinggi kelangit”&lt;br /&gt;(QS. Ibrahim: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis dakwah adalah orang yang menyebarkan kebaikan dan cahaya kepada orang yang berada disekelilingnya melalui gerak dan perbuatan, melalui cahaya yang mengharap ridlo Allah dan petunjuknya, dan dengan itu kebaikan dan pahala akan menghampiri diantara mereka, dan bagi mereka yang mengikutinya, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa yang menyeru kepada hidayah maka baginya ganjaran seperti ganjaran orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun ganjaran mereka”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para aktivis da’wah, hendaknya kita selalu mengenang sabda Rasulullah saw seperti yang diriwayatkan oleh ka’ab bin Malik –semoga Allah meridloinya- yang mana beliau menceritakan bagaimana terjadinya baiat Aqabah kedua –baiat yang mampu menghalau syaitan, dan menggetarkan orang-orang Quraisy- dia berkata: “ … setelah sekelompok orang dari Aus dan Khajraz berkumpul bersama Rasulullah saw, dan mengecek setiap orang dari mereka keteguhan agama dan dirinya, Rasulullah saw bersabda kepada mereka: “Keluarlah kalian bersama saya 12 orang wakil ini untuk menjadi penyeru diartara kaumnya”. (HR. Ishaq dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tangga da’wah dan jalan pergerakan serta arah tarbiyah rabbaniyah terlaksana melalui pengambilan baiat para penda’wah yang memiliki kemampuan dalam diri mereka melakukan pembinaan dan meluruskannya atas apa yang dicintai Allah dan diridloi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggungjawab ini merupakan bagian dari perjanjian yang memiliki syarat-syarat dan ganjaran seperti yang telah Allah jelaskan tentang kisah Bani Israil dalam surat Al-Maidah, dimana Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari ) Bani Israil dan telah kami angkat diantara mereka 12 oran gpemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan sholat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu Bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan kumasukkan ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir diantaramu sesudah itu, sesungguhnya ia talah tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat tersebut Allah menjelaskan perjanjiannya bersama Bani Israil, perjanjian dalam dua sisi ; syarat dan ganjaran, adapun perjanjan bersama para pemimpin pilihan yang merupakan keturunan dari nabi Ya’kub yang berjumlah 12 orang, sedangkan perjanjian dengan para pemimpin dan orang-orang yang berada dibelakang mereka sebagai perjanjian atas setiap individu, dan perjanjian ini seperti yang dikenal dalam ilmu usul; ibrahnya bukan karena pengkhususan suatu sebab namun karena keuniversalitas lafadz, yaitu perjanjian atas seluruh manusia yang memiliki hubungan yang erat dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun syarat-syaratnya adalah: Mendirikan sholat dan mencakup seluruh substansinya, menunaikan zakat harta dan hati, zakat ilmu dan pengetahuan, kemudian beriman kepada para rasul dan mengakui mereka dan sesuatu yang dibawa oleh mereka dengan perintah untuk beribadah kepada Allah, menjauhi Thoghut, dan tidak cukup hanya beriman dalam ucapan saja namun harus diaplikasikan dalam menolong mereka, manhaj mereka, jejak mereka dan da’wah mereka yang mereka bawa yaitu dengan bentuk pinjaman dan pengorbanan harta dan jiwa, dan bahkan tidak hanya memberikan pinjaman namun juga mencakup pada melakukan ihsan dalam berinfak dan bersedekah, karena yang demikian merupakan pokok utama dalam setiap permasalahan sampai pada proses penyembelihan dan penumpahan darah dalam berkorban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah itu ganjaran sebagai manifestasi dari syarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena konsekwensi pinjaman adalah kembali kepada pemiliknya, maka bagaimana pinjaman ini akan kembali dan kapan terjadinya? tentunya pinjaman tersebut akan kembali di dalam dunia dan di Akhirat, karena ia merupakan sebab terhapusnya dosa dan masuknya surga-surga, hal ini merupakan ganjaran yang paling sempurna dengan perjanjian, adapau bagi yang mengkhianatinya maka hasilnya sangatlah jelas yaitu kerugian di dunia dan di Akhirat,d an yang demikian merupakan kerugian yang sangat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah pemaparan yang singkat ini wahai para aktivis da’wah, bersegeralah untuk selalu berbaik sangka kepada dirimu sendiri, karena sebaik-baik peninggalan adalah sebaik-baik warisan, yaitu melalui tarbiyah dengan pemahaman yang mendalam, iman yang kokoh, dan amal yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh para aktivis da’wah, yang mana telah kami klasifikasikan pada tiga bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sifat yang mesti dimiliki oleh setiap individu (sifat fardiyyah).&lt;br /&gt;2. Sifat yang mesti dimiliki dalam berinteraksi dengan masyarakat dan komitmen terhadapnya (sifat kolektif).&lt;br /&gt;3. Sifat yang mesti dimiliki dalam rangka meningkatkan kualitas da’wah dan jihad fi sabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA:&lt;br /&gt;SIFAT-SIFAT FARDIYYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sifat-sifat fardiyyah yang mesti dimiliki oleh seorang aktivis da’wah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setiap individu hendaknya mengetahui jati dirinya dan bersungguh-sungguh meningkatkan diri hingga mencapai tingkat ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, tunduk kepada segala sesuatu yang datang kepadanya, baik berupa perintah dan larangan. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya: “Yang disebut mujahid adalah orang yang bersungguh dalam taat kepada Allah”, maksudnya adalah sebelum kalian keluar ingin berhadapan dengan musuh dan memerangi mereka, hendaknya kalian menyiapkan diri semampu kalian dengan bersungguh-sungguh dan kontinyu memerangi musuh yang menguasai jiwa kalian yang selalu mengajak kalian berbuat ma’siat kepada Allah dan Rasul-Nya dan membangkang dari hukum yang telah di syari’atkan. Selama musuh ini masih melekat dalam diri kalian, sehingga menjatuhkan martabat kalian dan jauh dari ridla Allah SWT, maka kalian tidak akan mungkin mampu mengalahkan dan menguasai musuh Allah. Contoh yang lebih dekat adalah saat kalian memerangi manusia dari meminum khamar, namun dalam rumah kalian terdapat minuman tersebut, tentunya kenyataan seperti itu merupakan kontradiksi yang sangat gamblang antara perkataan dan perbuatan, dan akan menjadi penghancur wibawa kalian, penghalang aktivitas kalian, dan pembatas ruang lingkup kalian ditengah masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pertama kali yang harus kalian lakukan adalah menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah SWT dan melepasnya dari segala kebebasan yang bertentangan dengan syari’at Allah, baru setelah itu berda’wah kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setelah tingkatan jihad adalah tingkatan hijrah. Hijrah yang dimaksud disini bukanlah dalam arti dzahir; meninggalkan tempat tinggal dari kebisingan dan kesemrawutan, namun yang diinginkan adalah hijrah dari berbuat ma’siat kepada Allah menuju ketaatan dan ridla Allah SWT. Seorang muhajir hakiki adalah jika ia keluar dari tempat tinggalnya, karena dilingkungannya ia tidak menemui tempat yang layak untuk mempraktekkan secara leluasa hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. Namun jika seseorang keluar dari tempat tinggalnya bukan dalam rangka meningkatkan ketaatan kepada Allah tapi untuk berbuat ma’siat kepada-Nya; sungguh ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar dan tidak akan memberikan manfaat sama sekali akan hijrahnya dari ujian dan musibah. sabagaimana yang telah dijelaskan oleh Raslullah saw dalam sabdanya saat ditanya tentang ma’na hijrah yang paling utama: “Adakah hijrah yang paling utama wahai Rasulullah? Rasul bersabda: hijrah dari sesuatu yang tidak disukai oleh Tuhanmu”. Dari sini jelas bahwa seseorang yang selalu melakukan ma’siat kepada Allah, maka hijrahnya dari tempat tinggalnya ketempat lain tidak ada nilainya sama sekali disisi Allah SWT, maka dari itu, saya mengingatkan kepada para aktivis untuk segera memerangi kekuatan besar yang berada dalam tubuh kalian sebelum kalian melakukan da’wah di alam luar, meencermati kondisi hati dan selalu memobilisasinya dengan ketaatan kepada Allah, baik dalam kadaan susah atau senang, sebelum berhadapan dangan kaum kuffar yang memerangi Islam. Hendaknya kalian -dengan kalimat sederhana- seperti seekor kuda yang diikat kuat dengan tali yang ditambatkan dibumi, walaupun begitu kuatnya mampu malepaskan diri dari ikatan tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Perumpamaan seorang mumin dan iman seperti seekor kuda yang memiliki berbagai perbedaan dari kuda liar yang selalu berkeliling mengitari lapangan, dan masuk kesetiap kebun, dengan gagah berani masuk kesuatu tempat yang terdapat tumbuhan/rumput yang hijau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya sifat aktivis dakwah seperti seekor kuda liar dan melatihnya menjadi kuda peliharaan yang tertambat dengan tali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berusaha mendisiplinkan dan menertibkan aturan hidup, yaitu dengan lebih dahulu memerangi kebejatan lingkungan terdekat. Maksudnya disini adalah rumah tangga, hendaknya kalian memperbaiki rumah tangga kalian, kerabat, sahabat dekat dan lingkungan, bukan berarti dengan mencela, mencaci dan membantah mereka, namun dengan melakukan -secara individu dan interaksi sosial- sosialisasi akan keabsahan misi, prinsip dan ajaran Islam. Karena masyarakat yang terbiasa dengan melewati kehidupannya tanpa tujuan dan maksud yang jelas seperti halnya seekor binatang tidak mau mengikuti alur kehidupan kalian kecuali mereka telah melihat langsung gambarannya yaitu dengan memperlihatkan diri kalian kepada istri-istri, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, kerabat-kerabat dan sahabat kalian prilaku yang baik, walaupun pada awalnya kalian orang asing ditengah-tengah keluarga dan tempat tinggal kalian. Kursi jabatan yang selalu diimpikan kebanyakan orang dalam mimpi indahnya adalah tampuk kekuasaan dan jabatan yang enak, seakan seperti lampu yang penuh bara api yang panas bagi kalian. Ala kuli hal, kalian wajib melakuan perubahan kepada setiap orang yang kalian anggap paling dekat, dan katakanlah kapada saya: Demi Allah, adakah orang yang telah melakukan perbaikan dalam rumah tangganya, tidak mesti melakukan hal yang sama kepada orang lain? sungguh saya sangat gembira sekali dan tentram mendengar kabar adanya pergulatan dan perdebatan antara anggota jamaah dan kerabat mereka dalam rangka mempertahankan aqidah Islamiyah. Namun pada sisi lain saya merasa cemas sekali jika mendengar ada suatu tempat yang belum terjamah sama sekali oleh anggota jamaah sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan disini adalah seseorang jangan melakukan pertentangan atau jihad kecuali membekali diri dengan logika, seperti halnya dokter saat memeriksa pasiennya, karena pada hakikatnya seorang dokter tidak mengobati sipasien namun mengobati apa yang dalam dirinya, dengan segala daya dia memberikan nasehat dan motivasi, sehingga saat si dokter memberikan obat yang pahit sekalipun atau melakukan operasi pada bagian anggota badannya, maka pasien akan menerimanya dengan senang hati. Begitulah hendaknya para aktivis da’wah dalam mengarahkan saudaranya yang sedang terbuai kelalaian dan kesesatan menuju jalan yang lurus dan hidayah, mereka tidak merasa bahwa kalian menggurui mereka sehingga tidak timbul sikap permusuhan dari mereka. Sesungguhnya da’wah ini tidak akan tegak -sebagaimana yang telah saya utarakan dengan singkat dalam seminar sebelumnya- dengan perdebatan, baik lisan maupun tulisan, walaupun yang demikian merupakan hal mendasar dalam da’wah, namun jalan terbaik dan mulia adalah dengan menampakkan diri menjadi tauladan. Jika mereka memandang dan mengenal kalian dari kemuliaan perjalanan hidup, kesucian akhlak, dan memiliki semangat juang dijalan Allah, merekapun akan mudah menuruti perkataan dan ucapan kalian, tentunya hal tersebut merupakan cerminan dari sifat Rasulullah saw sebagaimana beliau pernah bersabda tentang karakteristik orang beriman: “Jika dipandang mereka selalu berdzikir kepada Allah “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyeru kalian untuk merubah diri kalian dengan serta merta, karena yang demikian tidak akan mudah kecuali dengan bertahap. Saat kalian ingin memerangi lingkungan dekat, berjuang dan berkorban demi mencapai tujuan, maka cara pengorbanan yang dilakukan secara tidak langsung akan membentuk pribadi baik, dan pada saatnya nanti akan menjadi suri tauladan yang baik dalam da’wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kalian mengiringinya dengan mempelajari al-Quran dan sunnah dalam da’wah dengan penuh keseriusan dan kejelian hingga dapat memahami cara yang tepat mencari jalan hidup yang diinginkan Islam dan tipe macam apa yang dicintai Allah SWT atau yang diidamkan oleh Rasulullah saw. Sifat, karakteristik dan akhlak apakah yang dituntut Islam kepada para aktivis gerakan Islam hingga mampu mengangkat bendera da’wah dan jihad setelahnya? tentunya diantara banyak proses dalam menyiapkan kelompok yang memiliki kecerdasan dan kesiapan menghadapi perang membutuhkan 15 tahun yang berkesinambungan dalam marhalah tatsqif dan tadrib (pelatihan). Maka hendaknya kalian mempelajari secara rinci periode persiapan ini dan memahami fase-fasenya, sehingga dapat mengetahui sifat yang bagaimana yang diutamakan oleh Rasullullah saw dalam membentuk para pengikutnya sebelum mempersiapkan yang lainnya, mana yang lebih dahulu diutamakan dan mana yang diakhirkan? dan batas amal apakah yang perlu dikembangbangkan? kapan pujian kepada mereka diberikan? Tauladan inilah yang mesti dijadikan sandaran dalam rangka membersihkan diri. Kalaulah bukan karena waktu yang terbatas, saya akan menjelaskan secara detail apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Barangsipa yang cintanya karena Allah, murka karena Allah, memberi karena Allah, dan mencela karena Allah maka telah sempurnalah keimanannya“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa manusia tidak akan sempurna keimanannya kecuali ia melandasi segala kecintaan, kemurkaan/kebencian, celaan dan pemberiannya karena Allah SWT semata, tidak ada sedikitpun motivasi dan dorongan serta ambisi pribadi apalagi duniawi yang melekat dalam dirinya. Dalam hadits lain Rsulullah saw bersabda: “Allah memerintahkan kepada saya 9 perkara: takut kepada Allah saat sunyi dan ramai, menegakkan keadilan saat marah dan suka, merasa puas saat miskin dan kaya, menyambung silaturrahim saat terputus, memberi kepada orang yang mengharamkannya kepadaku, memaafkan orang yang mendzalimiku, menjadikan diam sebagai bahan perenungan, lidah sebagai dzikir, dan pandangan sebagai ibrah (pelajaran)”. Setelah itu beliau melanjutkan: “Dan memerintahkan kapada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar”. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan “wasatan” adalah jika memfokuskan diri kepada melakukan amar am’ruf nahi mungkar, wajib bagi setiap individu memiliki sifat demikian, karenanya tidak akan mungkin terlaksana da’wah ini kecuali dengan merealisasikan tuntutan yang urgen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUA:&lt;br /&gt;SIFAT-SIFAT KOLEKTIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membahas sifat-sifat personal, kita membutuhkan bagian lain yaitu sifat-sifat kolektif sebagai penopang pembangunan kehidupan bersama dan melakukan konsolidasi sistem gerakan serta menambah kekokohan jamaah agar terjalin sesama anggota saling cinta, gotong royong dan tolong menolong, saling memberi nasehat dan wasiat pada kebaikan dan kesabaran serta bersama-sama melaju dalam jalan da’wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat ini juga dibutuhkan oleh jamaah lainnya dimuka bumi ini karena jika tidak, akan terjadi diantara mereka saling mengedepankan kepentingan pribadi sehingga tidak memiliki hubungan yang erat dan pada akhirnya mereka tidak mampu melawan kebatilan dan memberantasnya. Saya tidak memungkiri kebenaran yang ada dalam tubuh umat sifat yang mulia dan akhlak yang terpuji, namun yang sangat disayangkan adanya keinginan menonjolkan sifat individualnya karena jika yang demikian masih melekat dalam tubuh suatu jamaah maka akan sulit menolak tantangan yang lebih besar, kecuali hanya berkisar kepada perbaikan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi yang harus dilakukan setelah memperbaiki diri, perjalanan hidup setiap anggota adalah bertawakkal (menyerahkan segala urusannya) kepada Allah sehingga menghasilkan keharuman citra dan sejarah yang mulia dan diirngi dengan kesempurnaan amal jama’i (kolektif). Bahwa akrobat, sekalipun ia berani, kuat dan mampu mengangkat beban yang berat dan dapat melawan beberapa orang dalam satu pertandingan, namun ia tidak akan mampu menandingi sekelompok tentara yang tertata rapi. Demikianlah banyak diantara kita yang terpecah-pecah dalam mensosialisasikan kebajikan namun tidak memiliki ikatan hati dan ukhuwah, ibaratnya mereka seperti pemain akrobat yang tidak mau bekerja sama dengan kelompoknya secara teratur namun ia mau menghadapi musuh yang bersatu dalam barisan yang rapi. Kebaikan individu umat islam, kepribadian yang baik dan terpuji, baik ketinggian akhlak dan perjalanan hidup yang suci adalah merupakan keniscayaan, namun kami akan merasa tenang dan tentram jika hal tersebut diiringi dengan kebaikan kolektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran telah menjelaskan permasalahan ini dalam beberapa ayat-ayatnya, sebagaiman telah dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw secara gamblang pada sekian banyak sabdanya. Jika kita mau menelaah Al-Quran dan sirah Rasulullah saw dan sejarah para sahabat -semoga Allah melimpahkan ridla-Nya kepada mereka- akan kita dapati suri tauladan yang baik yang tidak terhitung jumlahnya tentang akhlak kolektif yang menakjubkan, karena itu kalian hendaknya menelaah kembali kitab-kitab yang berkenaan dengannya secara teliti dan cermat hingga melahirkan pertanyaan: apa dan dari segi mana kekurangan akhlak tersebut, kemudian apa kiat-kiat untuk mengetahui akhlak tersebut.&lt;br /&gt;Fenomena yang dapat dilihat dari kehidupan kita adalah bahwa setiap individu tidak bisa hidup dalam kesendirian tapi mesti berinteraksi dengan orang lain, jika ada dalam setiap individu memiliki sifat berbaik sangka, sikap terpuji, akhlak mulia, itsar, dan berkorban, maka perbedaan karakter tidak akan menjadi penghalang dalam membangun kebersamaan diantara mereka, karana suatu jamaah tidak akan dapat terbentuk kecuali berdiri diatas prinsip ; membuang buruk sangka terhadap orang lain, sebagaimana ia mampu membuang buruk sangka yang ada dalam jiwanya sendiri. Jika tidak dapat menemui sifat itsar dan berkorban dalam jiwa kalian, maka janganlah berfikir mampu akan melakukan revolusi (perubahan) dalam kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang mesti dimiliki dalam rangka meningkatkan kualitas da’wah dan jihad fi sabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. MUJAHADAH DI JALAN ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sifat ketiga adalah mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam barjuang di jalan Allah SWT, hal ini telah disebutkan dalam Al-Quran dan sunnah Rasul secara detail dan terperinci. Pertanyaannya adalah: Bagaimana dan tingkatan mana yang harus diaplikasikan lebih dahulu? untuk menjawabnya kita harus mencermati sesuatu yang tersirat dalam Al-Quran dan sunnah, baik dari segi hukum dan pendidikan, dan meneliti kembali dari segi mana yang dapat kita jadikan senjata untuk berperang dijalan Allah SWT? dari sini secara singkat saya akan jelaskan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh setiap aktivis dalam bermujahadah di jalan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. SABAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar merupakan konsekwensi dari sifat pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat ini bukan hanya merupakan salah salah konsekwensi logis yang harus diterapkan dalam bermujahadah di jalan Allah, namun juga merupakan bagian dari sifat dalam segala hal, perbedaannya adalah ; bahwa dalam mujahadah di jalan Allah (jihad) membutuhkan kesabaran yang begitu kuat sehingga tidak mudah lentur dan lemah keimanannya, sedang jihad dalam arti bekerja dan berusaha juga membutuhkan kesabaran namun dalam ukuran yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dalam jihad dijalan Allah memiliki berbagai macam cara: diantaranya adalah kehati-hatian dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu kegiatan, atau step by step (selangkah demi langkah). Selain itu adalah al-istiqamah dan gigih dalam beramal sehingga tidak mudah futur saat menjumpai kesulitan, ujian dan rintangan. Atau juga tidak mudah berputus asa, jauh dari sifat al-wahn (cinta dunia dan takut mati) walaupun tanda-tanda keberhasilan yang diharapkan belum tampak jelas tapi terus bekerja walau dalam keadaan bagaimanapun. Adapaun ciri lainnya ; tidak mudah goyah saat berhadapan dengan bahaya, kesulitan, rintangan yang akan mengancam jiwanya. Tidak mudah kehilangan keseimbangan walau dalam keadaan yang sangat kritis dan genting, baik yang menyangkut dengan gejolak hati. Tidak gegabah. Tidak hanya mengandalkan perasaan sebelum mengerahkan nalar dan penelitian (cek dan ricek) terlebih dahulu. Dan selalu melakuakn kegiatannya dengan penuh ketenangan, kecermatan akal, ketegaran dan kegigihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa kalian tidak hanya diperintahkan untuk bersabar saja namun juga deperintahkan untuk mengokohkan dan meneguhkan kesabaran tersebut didalam lubuk hati kalian. Menghadapi kekuatan musuh yang mamiliki persenjataan lengkap harus dengan senjata yang lebih unggul dari mereka, sehingga dapat dengan mudah menghancurkan dan menundukkan mereka, Allah SWT berfirman: “dan kuatkanlah kesabaran kalian“ setelah sebelumnya diperintahkan: “wahai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya saat berperang dengan mereka guna meninggikan bendera kebenaran harus diimbangi dengan kesabaran, karena kalian mungkin tidak dapat menemui diri kalian yang layak dengan asumsi bahwa mempersenjatai diri dengan sepuluh macam kesabaran sudah cukup. Bacalah sejarah peristiwa perang dunia kedua, bagaimana kesabaran yang ditampakkan oleh bangsa Jerman, Jepang dan Amerika dalam menegakkan kebatilan, mereka menghancurkan pusat laboratorium, pabrik-pabrik, rumah-rumah dan terminal-terminal dengan tangan mereka sendiri, padahal dengan susah payah mereka membangunnya dan memakan waktu yang begitu lama. Jika memang harus terjadi peperangan, kenapa harus tega membantai manusia dengan tank-tank yang dikendarai prajurit yang kekar diatas roda-roda yang terbuat dari besi yang kuat? Kenapa mereka begitu sabar dan istiqamah melakukan penyerangan dengan pesawat tempur, padahal mereka juga terancam kematian? selama kesabaran tidak mencapai 105 % dibanding kesabaran mereka, kita tidak akan mungkin bisa melawan dan mengalahkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dari segi kekuatan dan jumlah kita tidak diperhitungkan oleh mereka, maka kalian tidak boleh merasa rendah diri namun tanamkanlah kekuatan diri dan jiwa dengan kesabaran, tsabat (keteguhan hati), dan istiqamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ITSAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki sifat itsar (mendahulukan kebutuhan/kepentingan orang lain) dan jiwa berkorban; baik terhadap waktu, tenaga, fikiran dan masa depan, dan berkorban terhadap cita-cita dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita masih terus dianggap terbelakang dibandingkan dengan kekuatan mereka dan untuk melengkapi kekurangan -dari segi senjata dan personil- untuk mengalahkan mereka agak sulit dan membutuhkan waktu lama, maka kita harus memiliki keunggulan lain; jiwa berkorban dan itsar (mementingkan hajat orang lain). Namun yang membuat hati saya sedih dan meneteskan air mata; ada diantara kita yang sudi menjual diri mereka kepada musuh-musuh Allah hanya karena ingin mendapatkan harta yang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut merupakan fenomena yang dapat menghilangkan gairah umat untuk berjuang sehingga tidak ada lagi harapan yang ingin di capai. Ada diantara mereka yang berat mengorbankan diri untuk berkhidmah kepada agama Allah walau dengan imbalan yang minim. Jika diantara kita tidak ada yang mau berkorban dan tidak berusaha memompa diri dalam berjihad dijalan Allah, maka bagaimana mungkin sebuah gerakan Islam akan maju dan berkembang ditengah arus globalisasi yang kian gencar ini. Padahal tidak ada suatu gerakanpun didunia ini yang bisa maju dan berkembang jika hanya bergantung kepada personilnya, hanya mengandalkan kekuatan tangan dan kaki saja. Karena keduanya tidak akan mungkin memberikan manfaat jika tidak diiringi dengan hati yang bersih dan akal yang cerdas. Dengan kata lain kami membutuhkan pemimpin dan jendral yang berilyan agar dapat dimanfaatkan dalam da’wah … namun ironisnya; mereka yang memiliki potensi ideologi dan kecerdasan akal, memiliki kecerdasan dalam meningkatkan kesejahteraan hidup di dunia, gigih dalam bekerja siang dan malam dan memiliki prestise yang tinggi, namun tidak memiliki perhatian terhadap da’wah, apalagi mereka tidak mau mengorbankan karirnya maka akan sulit mewujudkan impian dan harapan guna membangun Islam dan bangkit dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian tetap mengharapkan kepada mereka yang kering akan jiwa berkorbannya guna memenangkan peperangan kepada mereka yang suka berbuat kerusakan dimuka bumi ini, yang gencar menginfakkan harta mereka demi menegakkan kebatilan, maka tidak ada yang dapat kalian raih dan capai kecuali hanyalah kehinaan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SEMANGAT DALAM MENGGAPAI CITA-CITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang memahami misi gerakan ini hanya sekedar pemberian jaminan kehidupan yang tentram sementara tidak ada dalam dirinya tanggung jawab untuk menyebarkannya, maka pada hakikatnya pemahaman tersebut tidak akan memberikan kontribusi positif dalam gerakan da’wah ini, ibaratnya tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kewajiban kita semua adalah memiliki hati yang bergelora dan menyala yang bisa disumbangkan demi kemaslahatan da’wah. Paling tidak harus ada dalam diri kita jiwa semangat memajukan da’wah ini. Jika anak anda sakit, maka jangan dibiarkan begitu saja, tapi bawalah ia ke dokter. Saat anda tidak menemui solusi akan kebejatan moral anak anda dan membuat kekhawatiran yang mendalam sehingga mendorong anda untuk berusaha dan bekerja keras untuk memperbaikinya, maka lakukanlah sesegera mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus memiliki perasaan yang jujur dalam setiap keadaan guna mencapai misi ini, bersikap tenang, ikhlas dan bersih dari keinginan duniawi, dan selalu berkeinginan untuk meningkatkan kesungguhan, sehingga urusan pribadi dan keluarga dinomor duakan, bahkan tidak menolehnya kecuali dengan sikap pasif. Kita tidak melakukan usaha untuk urusan pribadi saja kecuali hanya sedikit waktu atau tenaga yang dialokasikan, sehingga pekerjaan yang kita lakukan tidak hanya tertuju pada kesenangan hidup duniawi saja. Perasaan ini jika tidak bersumber dari lubuk hati yang murni, dan diiringi dengan ruh dan jiwa bergelora, maka akan sulit memberikan kewibawaan terhadap perkataan yang kita ucapkan. Apakah kalian tidak melihat, mayoritas manusia yang mendukung dan memberikan motivasi melalui opini yang mereka sampaikan, namun sedikit diantara mereka yang mau berpartisipasi dalam gerakan ini dan berkorban dengan harta dan jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja pada tiap diri kita memiliki pemikiran yang demikian, dan berusaha mengevaluasi apakah kita termasuk anggota jamaah ini dalam bentuk ideologi saja atau secara keseluruhan, atau ada dalam jiwa ini keinginan yang bergelora untuk merealisasikan misi da’wah dan berusaha semampunya membentuk perasaan ini dalam jiwa walaupun tidak memiliki hubungan yang erat dengan da’wah? padahal sejatinya, jika hati manusia memiliki ikatan yang erat dengan misi da’wah, maka ia mesti membutuhkan motivasi dan mobilisasi dari pihak lain, karena merupakan hal yang mustahil, adanya kekuatan di pusat namun dicabangnya ada kelemahan dan kelalaian dalam tugas menyebarkan da’wah sehingga penyakit incapabiliti dan paralizati terjangkit, hanya bisa memberikan solusi dengan memindahkan sebagian anggotanya dari suatu tempat ketempat lainnya atau menonaktifkannya dari da’wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada diantara kalian anaknya sakit, janganlah kalian serahkan hidup dan mati anak itu kepada orang lain, jangan anda tinggalkan begitu saja dengan alasan tidak ada yang mampu menyembuhkannya, tidak ada yang memberikannya obat atau tidak ada dokter. Jika kalian tidak menemukan orang yang mampu menngobatinya maka hendaknya kalian melakukannya sendiri, karena anda lebih berhak daripada orang lain. Tidak mustahil ada orang yang memiliki perhatian terhadap anak orang lain dan berusaha ingin mencampuri urusannya, namun sangat tidak mungkin ada orang yang tega menutup matanya terhadap urusan anaknya sendiri dan tidak mau berusaha mengobati anaknya jika jatuh sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hubungan kalian dengan da’wah ini yang bersumber dari lubuk hati kalian, bagaimana mungkin kalian rela acuh terhadap da’wah ini, sibuk dengan urusan lain, sebagaimana tidak mungkin jika kalian hanya bersantai dan duduk-duduk dirumah, sibuk dengan pekerjaan pribadi, dengan alasan tidak ada yang membantu dalam meningkatkan ruhiyah atau menegurnya jika melakukan kesalahan. Jika hal ini tidak menunjukkan sesuatu pada diri kalian kecuali karena lemahnya hubungan diri kalian dengan Allah dan kurangnya semangat berkorban untuk meninggikan kalimat Allah dimuka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja hubungan kalian dengan Allah sangat kuat, maka tentu kalian akan melupakan diri kalian sendiri, tidak akan takut terhadap kematian dan kehidupan yang penuh hambatan. Maka perkenankan kepada saya mengatakan sesuatu ; jika kalian melangkahkan kaki dalam da’wah ini dengan hati yang dingin, maka pasti kalian akan menemui kegagalan yang dahsyat, kegagalan yang tidak akan memancarkan keberanian para generasi selanjutnya untuk bergelut dalam gerakan da’wah hingga masa yang panjang. Hendaknya kalian memperlihatkan ketegaran hati dan akhlak terpuji sebelum memikirkan langkah berikutnya yang begitu besar, menyiapkan diri dengan keberanian dan kegigihan serta siap menghadapi bahaya yang siap menghadang dalam berjihad dijalan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. BERKESINAMBUNGAN DAN TERATUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kaian membiasakan diri dalam melakukan kegiatan yang berkesinambungan dan teratur. Sungguh umat Islam sebelum kalian telah mengaplikasikan hal itu, dengan melakukan perbuatan yang mudah dan tidak melangkah kecuali jelas maksud dan tujuannya. Walaupun pekerjaan yang mereka lakukan sebelumnya termasuk sia-sia seperti debu yang berterbangan. Hendaknya kalian merubah kebiasaan kalian dan melatih diri kalian dengan pekerjaan yang tetap, memiliki prospek dan hasil dalam jangka panjang dengan teratur dan rapi. Karena setiap perbuatan walaupun nilainya rendah dalam pandangan kalian namun memiliki nilai yang strategis, hendaknya kalian melakukannya dengan itqan (propesional dan proporsional) tanpa menunggu hasil dengan tergesa-gesa, tanpa mengharapkan pujian dan ucapan terimakasih dari orang lain atas kerja keras kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena medan jihad tidak hanya satu periode dan setiap prajurit dalam berperang tidak semuanya maju kebarisan depan, namun dalam bahasa jihad perang hanya sekali dan karenanya membutuhkan persiapan yang matang dan waktu yang panjang, jika ada beberapa ribu pasukan sedang berperang menghadapi musuh dibarisan terdepan, maka harus ada barisan dibalakang sepuluh ribu pasukan lain yang berdiri dan sibuk menyiapkan kebutuhan perang, walaupun pada kenyataanya nilai tidak sebanding dengan orang yang terjun langsung dalam perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita semua menjadi aktivis dakwah yang mau memiliki sifat-sifat tersebut diatas sehingga mampu mengemban amanah dakwah secara maksimal dan mampu melakukan perbaikan di tengah masyarakat yang sedang dilanda sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar Walillahilhamdu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-3744546549773660567?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/3744546549773660567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/wahai-saudaraku-aktivis-dawah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3744546549773660567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/3744546549773660567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/10/wahai-saudaraku-aktivis-dawah.html' title='Sifat-sifat Aktivis Dakwah'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-6678636714394586449</id><published>2009-08-14T00:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-14T00:37:46.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja</title><content type='html'>Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.&lt;br /&gt;Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.&lt;br /&gt;Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.&lt;br /&gt;Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.&lt;br /&gt;Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.&lt;br /&gt;Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.&lt;br /&gt;Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.&lt;br /&gt;Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.&lt;br /&gt;Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.&lt;br /&gt;Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.&lt;br /&gt;Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)&lt;br /&gt;Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.&lt;br /&gt;Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.&lt;br /&gt;Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.&lt;br /&gt;Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”&lt;br /&gt;Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.&lt;br /&gt;Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)&lt;br /&gt;Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.&lt;br /&gt;Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)&lt;br /&gt;Wahai ikhwah kekasih Allah swt.&lt;br /&gt;Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.&lt;br /&gt;Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan&lt;br /&gt;Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.&lt;br /&gt;Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)&lt;br /&gt;Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.&lt;br /&gt;Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-6678636714394586449?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/6678636714394586449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/08/dakwah-tidak-dapat-dipikul-orang-manja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6678636714394586449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/6678636714394586449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/08/dakwah-tidak-dapat-dipikul-orang-manja.html' title='Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-179400706707865563</id><published>2009-08-04T00:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T00:19:53.487-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Memuliakan Teman</title><content type='html'>Memuliakan teman berarti menjaga dan menunaikan hak-hak mereka. Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam Tarbiyatul ‘Awlaad Fil Islam menyebutkan bahwa hak-hak tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengucapkan salam ketika bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (As-Syaikhani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjenguk Teman Ketika Sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy‘ari bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jenguklah orang yang sakit; beri makanlah orang yang lapar dan lepaskanlah orang yang dipenjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mendoakan Ketika Bersin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan al-hamdu lillah (segala puji bagi Allah), dan saudaranya atau temannya hendaknya mengucapkan untuknya yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu). Apabila teman atau saudaranya tersebut mengatakan yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu), kepadanya hendaklah ia mengucapkan yahdikumullah wa yushlihu balakum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Majah dan At-Tarmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit atau berziarah kepada seorang saudara di jalan Allah, maka ia akan diseru oleh seorang penyeru, ‘Hendaklah engkau berbuat baik, dan baiklah perjalananmu, (karenanya) engkau akan menempati suatu tempat di surga‘.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menolong ketika kesempitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat zalim kepadanya dan tidak boleh menyia-nyiakannya (membiarkan, tidak menolongnya). Barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya. Barangsiapa menyingkirkan suatu kesusahan dari seorang muslim, niscaya Allah akan menyingkirkan darinya suatu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memenuhi undangannya apabila ia mengundang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Memberikan ucapan selamat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad-Dailami meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. “Barangsiapa bertemu saudaranya ketika bubar dari sholat Jum’at, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Semoga (Allah) menerima (amal dan doa) kami dan kamu‘.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Saling memberi hadiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad-Dailami meriwayatkan dari Anas secara marfu’, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hal itu dapat mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik di dalam Al-Muwaththa’ meriwayatkan, “Saling bermaaf-maafkanlah, niscaya kedengkian akan hilang. Dan saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai dan hilanglah permusuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2520382447173492946-179400706707865563?l=akh-gum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akh-gum.blogspot.com/feeds/179400706707865563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/08/memuliakan-teman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/179400706707865563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2520382447173492946/posts/default/179400706707865563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akh-gum.blogspot.com/2009/08/memuliakan-teman.html' title='Memuliakan Teman'/><author><name>Akh_gum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01827878379211132877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIdxEfJGZdE/SshhRRztuAI/AAAAAAAAAIg/qhA8qfrLCfM/S220/Img00077.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2520382447173492946.post-5210427321610442809</id><published>2009-08-03T23:51:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T23:57:42.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='untukmu kader dakwah'/><title type='text'>Bekorban Untuk Kemenangan</title><content type='html'>Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memberi perbekalan kepada orang yang akan berperang maka sungguh dia telah (turut) berperang. Dan siapa yang memberikan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan (oleh orang yang berjihad) maka sungguh ia telah (turut) berperang.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdanya pula, “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar (dalam riwayat lain: perkataan yang adil, pen.) di hadapan penguasa zalim.” (At-Tirmidzi dan Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini memberikan apresiasi kepada siapa saja yang memberikan kontribusi dan tadhhiyyah (pengorbanan) bagi kemenangan dakwah. Ternyata yang mendapat posisi sebagai orang yang berjihad tidak hanya orang-orang yang terjun langsung di medan laga melainkan semua pihak yang turut mensukseskan proyek dakwah dan jihad itu. Hadits ini juga membuka fikiran kita tentang betapa banyaknya peluang kita untuk bertadhhiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya tadhhiyah adalah tuntutan dalam segala upaya untuk mencapai tujuan. Tadhhiyah tentu saja dibutuhkan bukan saja di kancah pertempuran fisik (qital) melainkan juga dalam jihad siyasi (jihad dalam kancah politik) yang tengah kita dengung-dengungkan hari-hari ini. Karena jihad siyasi kita dapat memperkokoh eksistensi dakwah dalam kehidupan. Semakin tegas perlunya pengorbanan dalam jihad siyasi ini jika kita mengingat hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dakwah tidak boleh surut walau selangkah dan pantang surut walau sejenak. Karenanya para pecinta keadilan harus mengobankan apa pun yang dimiliki untuk eksistensi dakwah di segala lini termasuk lembaga legislatif. Dakwah istirahat berarti
